
Sesampainya di hotel, Dimas langsung merebahkan tubuhnya setelah meletakkan koper mereka, sedangkan Bintang memilih untuk membersihkan dirinya karena merasa gerah, sekalian berwudhu karena waktu dhuhur akan segera tiba.
Bintang keluar dari kamara mandi melihat suaminya yang sedang senyum-senyum sendiri menatap layar hp di tangannya.
"Mas...." panggil Bintang sambil melangkah mendekat.
Dimas segera meletakkan hp nya di bawah bantal dan langsung duduk "Eh, bee. Kamu udah selesai mandinya?"
Bintang mengangguk lalu duduk di sampingnya
"Kamu ga mau mandi, mas? bentar lagi dhuhur loh"
"E... Bentar lagi aja deh, aku masih capek mau istirahat dulu"
Dimas kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya kemudian tidur.
Meski menaruh curiga karena keanehan suaminya namun Bintang memilih untuk positif thinking dan menggelar sajadahnya sambil berdzikir menunggu adzan di kumandangkan.
3 hari mereka menghabiskan waktu bersama lebih singkat dari biasanya.
Karena tahun tahun sebelumnya mereka akan menghabiskan waktu paling sedikit selama 1 minggu untuk merayakan anniversary.
Mereka pulang dan tiba di rumah dini hari, dan Dimas memilih untuk langsung berangkat ke kantor keesokan paginya.
__ADS_1
Saat Bintang sedang menyiapkan sarapan di meja, Dimas menuruni anak tangga dengan pakaian yang sudah rapi.
Dimas mengambil secangkir kopi lalu segera meneguknya.
"Mas, kamu mau pergi ke kantor?" tanya Bintang dengan lembut
"Hm..." sahut Dimas
"Tapi apa kamu ga capek, mas. Kita kan baru pulang semalam"
"Aku harus segera berangkat ke kantor, hari ini ada meeting penting, jadi ga ada kata capek"
"Tapi mas, kita kan seharusnya sekarang-"
Dimas memotong perkataan Bintang yang belum selesai dan langsung pergi begitu saja, tanpa mengucap salam dan mencium kening Bintang.
Bintang hanya diam terpaku menatap Dimas yang perlahan mulai hilang dari pandangan matanya, ia duduk di meja makan dengan perasaan yang aneh dan tidak karuan.
"Ada apa dengan mas Dimas? Kenapa dia seperti nya sudah berubah?" batin Bintang
Setiap tahun setelah pulang dari liburan anniversary, Dimas dan Bintang akan pergi ke rumah abah lalu ke makam umi untuk berziarah, tapi kali ini tidak. Dimas bahkan lupa karena pekerjaan nya.
"Astaghfirullah... Aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak, bisa jadi memang ada pekerjaan yang sangat penting di kantor. Nanti kalo udah jam makan siang aku akan coba telfon mas Dimas, kali aja dia bisa"
__ADS_1
Bintang menepuk-nepuk pipinya lalu segera duduk untuk sarapan.
Selesai sarapan, Bintang mengambil alat tempurnya untuk beberes rumah, ia tidak ingin pikirannya di kacau kan oleh hal-hal negatif tentang suaminya.
Sambil bersiap dan merapikan hijabnya, Bintang menelfon suaminya. Tersambung namun tak kunjung di jawab.
Berulang kali Bintang tetap mencoba terus menelfon namun tetap tak juga terjawab.
"Apa mas Dimas sesibuk itu sampe telfon ku tak di angkatnya? Tapi ga biasanya begini. Sesibuk apapun mas Dimas pasti akan selalu menjawab telfon ku meski hanya sebentar, tapi sekarang...." gumam Bintang
Tidak mau perasaannya menjadi kacau karena pikirannya, Bintang memutuskan untuk pergi ke kantor membawakan makan siang untuk suaminya.
"Ga bisa, aku ga boleh terus berpikiran aneh begini. Untuk menenangkan pikiran ku aku harus melihat sendiri kalau suami ku memang benar sibuk, dan pikiran ku itu salah"
Bintang mengambil tas kecilnya dan menggantungkan di pundaknya lalu keluar dari rumah.
Karena belum sempat memasak, Bintang memutuskan untuk membeli makanan kesukaan suaminya di restoran favorit mereka.
Namun betapa terkejutnya Bintang, setelah ia sampai di restoran itu ia melihat mobil suaminya sudah terparkir di sana.
Begitu ia masuk ke dalam restoran, benar saja ia mendapati suaminya sudah duduk di sana dengan di temani seorang gadis.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1