
Dimas langsung memeluk Bintang dengan erat dan menciuminya berulang ulang.
Di pelukan suaminya itulah Bintang tidak lagi bisa menahan air matanya.
Ia menangis hingga membuat basah kemeja Dimas.
"Kamu pasti sakit banget mendengar semua perkataan mama tadi, kan? Aku minta maaf sayang, aku benar-benar minta maaf" ucap Dimas
Bintang melepas pelukan Dimas dan menghapus air matanya "Kamu ga perlu minta maaf mas, aku ga papa kok"
"Ngak, aku ga bisa biarin mama berkata sesuka hatinya tentang kamu, apalagi yang bukan bukan seperti tadi"
"Mau bagaimana lagi mas, aku ngerti kok kenapa mama ngomongnya gitu. Mungkin saat ini mama masih belum bisa menerima aku sebagai menantunya"
Melihat istrinya yang di buat menangis oleh mama nya sendiri, rasanya begitu sakit.
Wanita yang sangat ia cintai dan hormati dengan tega nya memojokkan istrinya.
Dimas kembali memeluknya dan mengelus punggung Bintang berharap agar bisa merasa lebih tenang.
"Aku mau ke kamar mandi dulu mas"
Bintang melepas tangan Dimas dan beranjak lalu pergi ke kamar mandi.
Di sana, Bintang menyalakan kran air dan menangis, ia duduk di lantai dengan menekuk kedua lututnya.
Ia sembunyikan wajahnya di sana dengan matanya yang terus menangis.
__ADS_1
Sebenarnya ini bukanlah kali pertama dirinya mendengar perkataan yang tidak mengenakkan dari mama mertuanya, namun kali ini perkataan itu sangat melukai hatinya.
Selama ini bu Ririn suka semena-mena menyuruh Bintang untuk mengerjakan pekerjaan rumah layaknya seperti pembantu di luar sepengetahuan Dimas.
Sejujurnya Bintang tidak keberatan dengan semua pekerjaan itu, namun semakin lama sikap bu Ririn semakin menunjukkan bahwa beliau tidak suka dengannya.
"Begitu sulit kah menerima diriku menjadi menantu mu, ma? Bukan kah aku sudah melakukan semua yang mama inginkan? Apa kesalahan ku hingga mama begitu tidak menyukai ku?" gumam Bintang
Sakit, memang sakit hati dan perasaan nya.
Namun ia tidak mau mengeluhkan bagaimana sikap mama mertuanya pada suaminya, itu karena Bintang tidak mau menciptakan ketegangan antara seorang ibu dan anaknya.
Beberapa hari setelahnya, Dimas masih bersikap acuh sama mamanya.
Ia bahkan tidak mau menegur mama nya sekedar untuk basa-basi.
Saat Dimas dan pak Hendra ke kantor, saat itu juga bu Ririn kembali memperlakukan Bintang dengan buruk.
Hari ini bu Ririn meminta Bintang untuk mengepel rumah, mulai dari lantai 1 hingga lantai 3 tanpa membiarkan bu Jumi membantunya.
Bintang langsung mengerjakannya tanpa berkata sepatah kata pun.
Saat sedang mengepel, dengan sengaja bu Ririn mondar mandir agar lantai nya tetap kotor dan pekerjaan Bintang tidak akan ada beresnya.
Begitu pun dengan Hani, ia juga dengan sengaja memakan snak agar sisa sisa camilannya berjatuhan di lantai.
Bintang menyadari itu, namun ia memilih untuk pergi mengepel di lantai yang lain.
__ADS_1
"Hahaha... Dia pasti kecapekan itu ma" ujar Hani dengan tetap mengunyah makanan di mulutnya.
"Ya biarin aja, emang itu tujuan mama. Lama kelamaan dia pasti tidak akan betah di rumah ini dan akan pulang ke tempat asalnya" sahut bu Ririn
"Hm... Semoga aja dia cepat pergi dari sini"
"Oh ya sayang, mama mau pergi arisan nih. Kamu mau ikut?"
"Mau ma, dari pada di rumah terus. Bosen. Aku mau ambil tas dulu ya ma"
Bi Jumi merasa kasihan dengan Bintang yang di perlakukan seperti itu.
Saat bu Ririn dan Hani sudah pergi, segera bi Jumi menghampiri Bintang dan mengambil alat pel dari tangannya.
Bintang mengambil kembali alat pel nya dadi tangan bi Jumi
"Jangan bi, nanti mama akan marah sama bi Jumi"
"Non Bintang tenang aja, bu Ririn sama non Hani udah pergi non. Non Bintang istirahat aja ya, biar bibi yang lanjutin"
"Tapi bi..."
"Udah, non Bintang duduk istirahat aja. Ini tuh memang tugasnya bibi"
Bintang menyerahkan alat pel nya dan duduk di sofa dan mengelap keringatnya yang mulai membuat basah hijabnya.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1