
Dimas sengaja memperlihatkan kemesraan dirinya dan istrinya di depan Arif, karena ia tahu kalau Arif diam diam memendam rasa pada istrinya.
Arif hanya diam dan menunduk karena memang sampai saat ini perasaannya pada Bintang tetaplah sama.
Arif akhirnya memutuskan untuk berpamitan untuk pulang dan Dimas langsung tersenyum lebar.
"Abah, Bintang, aku pamit pulang ya. Ini udah mau dhuhur soalnya"
"Kenapa kita ga ke masjid barengan aja, Rif? Abah juga mau ke masjid, Dimas juga" kata abah
"Eh... Anu bah, aku juga sekalian mau siap-siap soalnya ada janji sama pasien"
"Oh gitu, semangat ya kerjanya. Abah titip salam sama orang tua mu"
"Iya bah, assalamualaikum...."
"Wa'alaikum salam..." sahut abah, Dimas dan Bintang bersamaan.
Sejujurnya Arif pulang karena tidak sanggup melihat kemesraan yang di tunjukkan Dimas padanya, rasanya begitu sesak di dada.
Arif takut dirinya tidak bisa menahan diri jadi ia memilih untuk pulang.
"Mas Dimas mau makan, aku siapin dulu ya"
Dimas menggeleng lalu menunjukkan perutnya yang sudah kenyang.
"Ga usah sayang, aku udah makan barusan pas meeting. Meeting nya di restoran jadi sekalian aja makan"
Setelah sholat dhuhur, abah pun bersiap dengan pakaiannya untuk beliau bawa ke rumah Bintang.
"Itu apa abah?" tanya Dimas yang melihat tas di tangan abahnya
"Oh ini pakaian ganti abah"
"Ga usah, abah ga usah bawa apa-apa. Kan aku udah bilang tadi mau ajak abah sama Bintang belanja, abah bebas pilih mau belanja apa aja"
Abah tersenyum mendengar ajakan menantunya
"Tidak perlu nak, pakaian abah masih bagus. Abah masih belum butuh pakaian baru"
"Abah, sejak menjadi menantu abah, aku belum pernah mengajak abah jalan jalan dan berbelanja. Aku mohon abah mau ya?"
"Abah, mas Dimas kan udah bilang tadi mau belanjain kita karena dia baru dapet proyek besar. Abah mau ya?"
Bintang yang sudah paham bagaimana abahnya mencoba untuk merayu agar tidak menolak ajakan suaminya.
Bintang pun sama seperti abahnya, tidak mau membeli sesuatu yang menurutnya masih belum butuh, tapi demi menghargai suaminya ia pun mau.
"Ya baiklah, abah mau" abah pun setuju dan mau di ajak berbelanja.
"Ya udah tunggu apa lagi, ayo berangkat sekarang"
__ADS_1
Dimas benar-benar memperlakukan istri dan abah mertuanya dengan sangat baik.
Ia membawa ke salah satu pusat perbelanjaan yang isinya barang barang mewah dengan brand ternama yang pastinya semua harganya mahal.
Abah benar-benar terkejut melihat harga yang tertera di bandrolnya, harga bajunya yang sangat mahal menurut nya.
Abah menjadi bingung mau memilih ya mana, karena setiap baju yang beliau lihat harganya 700 ribu ke atas bahkan ada yang 1 juta lebih.
Karena abah terlihat begitu bingung dan tak kunjung mengambil apa yang akan di beli, Bintang menghampirinya
"Abah, ada apa? Ga ada yang cocok kah sama abah?"
"Eee... Bukan ga cocok nak, tapi ini..." abah menunjukkan bandrol nya yang harganya 700 ribu
Bintang tertawa dan membuat abahnya bingung.
"Kenapa kamu ketawa?"
"Abah, abah mau cari baju dengan harga di bawah 100 ribu? Ga ada abah, di sini memang semua harganya segini bahkan ada yang lebih mahal dari ini"
"Kenapa suami mu bawa kita kesini, kenapa ga ke pasar aja kan lebih murah"
Bisik abah pada Bintang, namun Dimas mendengarnya.
"Abah, abah ga perlu mikirin harganya. Ini tuh ga ada apa apanya di banding dengan abah yang sudah dengan rela menyerahkan putri abah untuk hidup bersama ku"
Jleb, perkataan Dimas membuat tersentuh hati abah, begitu pun dengan Bintang.
Abah tersenyum lalu memeluk Dimas
"Terima kasih nak, kamu sudah menepati janji mu dan benar-benar menjaga putri ku dengan baik"
"Abah tidak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi tanggung jawab ku menggantikan abah untuk selalu menjaga dan menyayangi putri abah sepenuh hati"
Tanpa terasa Bintang pun menitikkan air matanya karena terharu.
"Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikan hamba sosok suami yang menyayangi hamba dan menerima dengan tulus keluarga hamba. Syukron ya Rabb...." batin Bintang
Setelah puas berbelanja pakaian, kini Dimas mengajak istri dan abah untuk makan.
Sedangkan semua belanjaan mereka Dimas menyuruh supirnya untuk membawanya ke mobil.
Dan lagi-lagi abah terkejut melihat menu dengan harga yang juga mahal baginya.
"Abah, pesan saja apa yang abah mau makan, jangan lihat harganya" ujar Dimas
Abah tersenyum karena Dimas kembali mengulangi perkataan nya.
"Baiklah... baiklah. Abah tidak akan melihat harganya"
Saat sedang asyik menikmati makanannya, ada 2 pasang mata yang memerhatikan mereka dari kejauhan.
__ADS_1
Mereka adalah Hani dan mama nya yang kebetulan juga sedang berbelanja di mall yang sama.
"Itu kakak kan, ma?" tanya Hani
Bu Ririn mengangguk, terlihat jelas dari tatapannya kalau bu Ririn sangat tidak suka jika putranya menjadi akrab dengan mertuanya.
"Enak ya mereka, bisa bisanya morotin kakak dengan asyik asyik makan di sini!" seru Hani
"Apa lagi tujuan orang miskin yang memiliki suami dan menantu kaya raya kalo bukan untuk morotin. Mereka yang terbiasa hidup miskin pasti mencari kesempatan untuk menghabiskan uang kakak mu" kata bu Ririn
Mereka berdua merasa semakin kesal melihat Dimas yang tertawa lepas dengan istri dan mertuanya.
Setelah kepindahannya ke rumah baru nya ini Dimas tidak pernah menghubungi mama nya sama sekali, ia hanya membagi kabar nya dengan papa dan Hani, itupun hanya sesekali.
Hal itu membuat bu Ririn semakin kesal dan membenci Bintang.
"Entah sihir apa yang di lakukan Bintang hingga membuat kakak kamu begitu memihak pada nya. Dimas belum sadar aja kalau istri nya itu hanya mencintai harta, bukan dirinya"
"Kenapa ga mama suruh pisah aja, aku juga ga suka punya kakak ipar sepertinya ma" sahut Hani
"Untuk saat ini kakak kamu tidak bisa di pengaruhi, tapi tunggu aja, mama pasti akan lebih terus berusaha untuk memisahkan kakak mu itu dari benalu"
Bu Ririn dan Hani pun pergi dan memilih untuk spa merilekskan tubuh dan pikiran nya.
Kini Dimas, Bintang dan abah sudah keluar dari mall dan akan pulang.
Sesampainya di rumah baru putrinya abah di buat takjub.
Rumah yang besar, halaman yang luas juga dengan furnitur yang begitu mewah.
"Maasya Allah, rumah kalian begitu besar. Kalian hanya berdua di sini?" tanya abah
"Iya bah, tapi di sini juga ada asisten dan penjaga di luar" jawab Bintang
Saat hendak masuk abah akan melepas sandalnya
"Jangan di lepas abah, bawa masuk aja" ajak Dimas
"Tapi.."
"Ga papa abah, ayo masuk" Bintang menggandeng abahnya dan mengajaknya masuk.
Abah begitu bahagia hingga beliau tak henti hentinya untuk bersyukur karena Allah telah memberikan suami yang begitu menyayangi dan memperlakukan putrinya bak ratu.
Hari pertama di rumah putrinya abah sangat sangat di perlakukan dengan baik oleh Dimas.
Ia ingin menebus kesalahan mama nya yang telah memperlakukan istrinya dengan tidak baik.
Melihat istrinya yang begitu bahagia bisa bersama abahnya membuat Dimas tenang.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1