Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
26 Perasaan Justin


__ADS_3

"Koko..." Panggil Tasya


Justin yang hendak naik ke lantai 2 mengurungkan langkahnya dan berbalik badan mencari suara yang memanggil nya.


Justin berjalan mendekat pada Tasya tapi ia tidak kenal dengan laki-laki yang saat ini bersama adiknya dan Bintang.


Justin sempat berpikir kalau itu teman adik nya tapi melihat penampilan laki-laki yang memakai jas seperti nya bukanlah seorang mahasiswa.


Justin melempar senyum pada Bintang dan laki-laki itu


Mereka duduk di 1 meja. Justin memanggil salah satu waiters nya untuk memberikan pilihan menu pada mereka.


Saat Dimas dan Bintang sedang menunduk membaca dan memilih menu Justin dengan kontak matanya bertanya pada Tasya siapa laki-laki itu.


"Oh iya ko, ini kenalin. Namanya pak Dimas, dia saat ini sedang menjalani ta'aruf sama Bintang" ujar Tasya


Justin terkejut mendengarnya, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Bintang bertaaruf dengan seorang pria.


"Benar, Bintang?" Tanya Justin


Bintang mengangguk dan kembali menunduk untuk memilih di buku menu.


Justin hanya mengangguk, dan entah kenapa dadanya mulai terasa sedikit sesak.


Justin mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Dimas


"Hai, aku Justin pemilik resto ini"


Dimas membalas uluran tangan Justin "Aku Dimas"


"Dari penampilan mu seperti nya kamu bukanlah seorang mahasiswa?"


"Memang benar, aku CEO di perusahaan Pratama Grup" jawab Dimas dengan tegas

__ADS_1


Justin memutar bola matanya dan kembali menatap Bintang lalu membuang pandangan nya.


"Kalian pesan aja apa yang kalian mau, aku mau ke atas dulu. Permisi"


"Koko mau kemana?" Tanya Tasya saat Justin mulai beranjak dari kursinya


"Koko masih ada urusan, kamu temani saja mereka"


Justin melangkah pergi dan naik ke lantai 2 dimana ruangannya berada.


Perkataan adiknya tentang Bintang, tidak tau mengapa kabar itu sangat mengganggu pikirannya.


Justin kini tidak bisa memikirkan yang lain karena di pikirannya selalu terbayang wajah Bintang.


Justin mengusap wajah nya lalu menutup nya dengan kedua telapak tangan nya.


"Ya Tuhan.... Ada apa dengan diri ku. Kenapa aku terus memikirkan dia. Ya Tuhan sadar Justin sadar... Kamu dan dia tidak akan pernah bisa bersatu, lagi pula sekarang dia sudah ada calonnya" guman Justin


Sebenarnya Justin mulai menyukai Bintang sejak kali pertama ia bertemu dengannya saat mengantar Tasya ke kampusnya, tepatnya 3 tahun yang lalu.


Meski ia sadar ada tembok yang sangat tinggi menjadi penghalang perasaan nya untuk terwujud.


Sebisa mungkin Justin menutup perasaan nya karena ia sadar tidak mungkin perasaan bisa terbalaskan.


Tapi apa yang bisa ia perbuat, semakin ia menutup hatinya semakin besar perasaan nya.


Berkat Tasya bersahabat baik dengan Bintang Justin mulai memiliki ketertarikan pada Islam.


Meski hanya lewat internet Justin mulai belajar sedikit tentang Islam.


Apa lagi mengingat saat beberapa waktu yang lalu saat ia mengantar Bintang pulang, perasaan sangat bahagia dan tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Kini mau tidak mau ia harus berjuang untuk menghapus perasaan nya, saat ini Bintang sudah ada calon untuk masa depannya.

__ADS_1


Justin pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya agar pikiran kembali bisa jernih.


Bintang, Justin dan Tasya menikmati makanan dan minuman yang telah mereka pesan tadi.


Tasya di sana bagaikan obat nyamuk, dia habya diam mendengarkan apa yang Dimas dan Bintang obrolin, ya meski sesekali Tasya nyaut menimpal pembicaraan.


"Jika aku mengajak mu untuk menikah, apa kamu mau?" Tanya Dimas


"Uhuk..uhuk..."


Tasya langsung tersedak steak yang ia makan, Bintang langsung membantu nya dengan menepuk punggung Tasya lalu memberikan nya minum "Hati hati Sya, ayo minum dulu"


Tasya mengambil gelas dari tangan Bintang dan langsung meminumnya.


"Udah ga papa?" Tanya Bintang


"Ya, aku udah ga papa kok. Aku ke kamar mandi dulu ya, mau bersihin ini" Tasya menunjuk celananya yang kotor karena daging yang ia makan keluar dari mulutnya.


Bintang mengangguk lalu kembali duduk, sedangkan Dimas sedari tadi hanya diam memerhatikan bagaimana perhatiannya Bintang membantu Tasya.


Dimas kembali mengulangi pertanyaannya pada Bintang, Bintang menunduk dan sedikit malu untuk menjawab nya.


"Aku memang pernah bilang kalau aku tudak ada patokan usia untuk menikah, tapi untuk saat ini aku masih belum siap" jawabnya sambil menunduk


"Belum siap? Aku tidak masalah jika harus menunggu mu sampai kapan pun, tapi aku ingin jawaban pasti dari mu"


Bintang gugup dan mulai nervous, apa lagi sejak tadi Dimas tidak henti memerhatikan nya.


"Kalau kamu ingin tahu jawabannya bicarakan hal ini saat ada abah"


Dimas mengangguk "Baiklah, sepulang dari sini akan aku langsung tanyakan sama abah"


Bintang mengangguk dan kembali memakan makanannya.

__ADS_1


Dimas lanjut membicarakan banyak hal dengan Bintang, dari kebiasaannya bahkan hingga hal hal receh yang membuat Bintang tertawa.


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2