
Di saat Dimas dan Bintang sedang menikmati sarapan di balkon pak Hendra dan bu Ririn sudah menunggu di meja makan.
Tak lama Hani pun datang dengan pakaiannya yang sudah rapi dan siap ke kampus.
"Kemana sih Dimas dari tadi kok ga turun turun?" tanya bu Ririn
"Mungkin sebentar lagi ma, udah tunggu aja dulu" sahut pak Hendra
Menunggu kedatangan Dimas dan Bintang jingga Hani selesai sarapan pun mereka belum juga datang.
"Bi Jumi.. Bi...." panggil bu Ririn
Segera bi Jumi berlari dari ke ruang makan
"Iya bu, ada apa?" sahutnya
"Bibi panggilkan Dimas dan istrinya di kamar, suruh mereka cepat turun"
"Anu bu, den Dimas tadi udah ambil roti dari dapur di bawa ke kamarnya. Katanya mau sarapan di atas sama non Bintang"
Bu Ririn membuka lebar matanya dengan alisnya yang di angkat, i terkejut dan merasa seperti tidak di hargai karena sedari tadi menunggu tidak ada arti.
"Sarapan di kamar? Bisa bisa nya Dimas udah sarapan di kamarnya sedangkan orang tuanya menunggunya di sini?! Oh ya ampun...." ujar bu Ririn dengan kesal
Hani tidak peduli mau Dimas turun atau tidak, sebab ia masih malas untuk berinteraksi dengan kakak iparnya.
__ADS_1
Namun meski begitu kedua bola matanya masih terus menatap tangga berharap kakaknya akan turun dan menyapanya.
"Sudah lah ma, ya namanya juga pengantin baru apa apa maunya cuma berdua aja. Ayo kita sarapan"
ajak pak Hendra
"Justru karena masih pengantin baru pa. Ini hari pertama nya loh di rumah ini sudah berani nyuruh nyuruh Dimas, apa lagi nanti!"
"Itu pasti idenya Dimas ma, sudah lah ga perlu di perpanjang. Ayo sarapan katanya mama udah lapar"
pak Hendra mengambilkan rotinya lalu memberikannya pada istri nya yang kini sudah mulai cemberut.
"Hani udah selesai ma, pa. Hani mau berangkat dulu" ucap Hani lalu beranjak dari kursinya
"Loh kok udah mau berangkat, emang udah sarapannya?" tanya pak Hendra
"Ya sudah hati-hati ya..."
Hani mencium kedua pipi mama dan papanya lalu berangkat ke kampus.
Sudah menjadi kebiasaan di keluarga ini untuk selalu sarapan bersama, namun hari ini suasana baru mulai merubahnya.
Ia memilih untuk segera pergi ke kampusnya dari pada tetap stay di rumah dan akan bertemu dengan kakak iparnya.
Sarapan selesai pak Hendra langsung berangkat ke kantornya, sedangkan bu Ririn tetap di rumah.
__ADS_1
Jam 2 siang Dimas dan istrinya turun dengan pakaian yang sudah rapi.
Bu Ririn saat itu sedang duduk di ruang tamu terlihat sibuk dengan mengecat kukunya.
"Ma..." panggil Dimas
Mendengar suara putranya bu Ririn melirik dari ekor matanya lalu meletakkan kutek nya.
"Kami mau keluar dulu ma, mama mau nitip sesuatu?" tanya Dimas
Bu Ririn mengangkat wajahnya dan menatap putranya "Mau kemana kamu?!" Tanya nya dengan sedikit ketus dengan pandangannya yang terus menyorot ke arah Bintang
"Kami mau jalan-jalan aja sih" jawab Dimas dengan santai
"Pergilah..." suruh bu Ririn lalu kembali mengambil kutek nya.
Bintang menundukkan tubuhnya lalu mengulurkan tangannya dan hendak menyalami tangan mama mertuanya, namun uluran tangannya di tolak.
"Tidak perlu salaman, nanti kamu hanya akan merusak riasan tangan ku"
Meski mendapat jawaban ketus dari mama mertua nya namun Bintang tetap mempertahankan senyum di bibirnya.
"Assalamualaikum..." ucap Bintang sebelum pergi
Namun bukannya menjawab bu Ririn malah tetap diam dan khusyuk dengan kukunya.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️