
Kini mereka sudag sampai di rumah Bintang.
"Ga mau turun?" Tanya Bintang pada Tasya sambil melepas safety belt nya.
"Kayak ngak dek Bin, aku mau langsung pulang aja deh" jawab Tasya
"Ya udah, makasih ya udah anterin aku pulang"
Ucap Bintang lalu membuka pintu mobilnya dan langsung turun.
"Sama sama. Oh ya Bin, jangan lupa untuk segera kabarin aku dengan kelanjutan nya. Oke"
"Iya, pasti aku bakal ceritain semuanya"
Kata Bintang sambil mengangkat jempolnya.
Tasya melambaikan tangannya lalu menutup kaca pintu mobilnya.
Segera Tasya memutar balik mobilnya dan langsung pulang.
Begitu mobil Tasya pergi Bintang berbalik dan berjalan menuju pintu rumahnya. Baru saja langkah kakinya menginjak keramik rumahnya seseorang memanggilnya dari belakang.
"Bintang...."
Bintang menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya melihat ke asal suara yang memanggilnya.
"Fitri..." Nama itu keluar dari mulut Bintang karena orang yang memanggilnya adalah Fitri tetangga sebaya nya. "Ada apa Fit?"
Fitri berjalan sedikit berlari menghampiri Bintang.
"Kamu baru pulang kuliah?" Tanya Fitri yang melihat tas dan buku di tangan Bintang
Dengan senyuman Bintang mengangguk "Iya, ini baru pulang" jawabnya
"Itu barusan kamu di anter sama siapa? Orang yang melamar kamu kemarin itu ya?"
Bintang terdiam dan merasa sedikit bingung, bagaimana Fitri bisa tau kalau ada yang melamar dirinya beberapa hari yang lalu.
Padahal tak ada orang lain waktu itu selain dirinya, abah dan Dimas serta keluarganya.
__ADS_1
Karena Bintang hanya diam Fitri yakin kalau apa yang ia katakan barusan memang benar.
"Kok diem, bener kan?"
Dengan ragu-ragu Bintang mengangguk.
"Bagaimana kamu bisa tau?" Tanya Bintang
Fitri tertawa sambil menepuk lengan Bintang
"Bintang, kabar apa sih yang ga gue tau di dalam kampung kita ini. Telinga ku itu ada di mana-mana"
Bintang hanya tersenyum mendengar nya
"Hebat kamu bisa tau segalanya"
"Hahaha... Ya iyalah, Fitri gitu loh. Eh iya, ngomong ngomong udah kamu terima apa belom tuh lamarannya?"
Bintang terdiam dan hanya melempar senyum kaku pada Fitri.
"Pasti ngak, iya kan Bin? Mau cari yang kayak apa lagi sih kamu itu. Di lamar anak ustad di tolak, anak pak RT di tolak dan yang sekarang itu kayaknya pengusaha ya?"
Jiwa julid Fitri pun keluar dan itu membuat Bintang merasa tidak nyaman.
"Iya aku tau kamu itu anaknya abah Ahmad yang juga seorang ustadz, tapi masa kalian ga takut pamali. Keseringan nolak lamaran orang bisa bisa nanti kamu ga nikah nikah loh. Aku aja yang seumuran sama kamu udah punya anak"
Bintang mencoba tenang dan tidak terpancing emosi.
"Apa ga takut nanti jadi perawat tua" ucap Fitri dengan berbisik di telinga Bintang
Bintang mengatur nafasnya, ia mengangkat wajahnya lalu tersenyum dan menjawabnya.
"Fitri, bagiku tidak ada kata terlambat untuk menikah, karena Allah sudah mengatur kapan waktu yang tepat bagi ku untuk menikah. Lagi pula lebih baik terlambat menikah karena memilih pasangan hidup yang tepat, dari pada cepat menikah tapi cepat juga berakhirnya"
Jawaban menohok dari Bintang membuat Fitri kesal. Ia memiringkan bibir nya dengan mata yang melotot.
Karena apa yang Bintang katakan memang benar adanya, Fitri yang memilih berhenti kuliah demi bisa menikah dengan pacarnya dan kini setelah memiliki seorang anak mereka pun bercerai.
Fitri tidak terima Bintang mengatakan itu dan malah semakin nyinyirin Bintang yang tak juga menikah.
__ADS_1
"Eh kamu ga usah urus masalah pribadi ku, aku cerai karena ada alasannya" ujar Fitri dengan nada sinis.
Bintang tetap tenang dan tersenyum
"Sama juga seperti ku, kamu sibuk menanyakan hak pribadi ku. Aku pun juga punya alasan kenapa aku belum menikah"
"Alah, kamu nya aja itu kebanyakan pilah pilih. Nanti dapatnya laki-laki yang ga bener baru tau rasa!" Kata Fitri
"Terima kasih ya ydah perhatian dan selalu mengurus hidup ku tanpa perlu di minta. Kalo ydah ga ada kepentingan lagi aku mau masuk dulu ya, aku capek habis kuliah"
"Ce elah Bin Bin, habis kuliah aja udah kek habis kerja kantoran. Sok sok an bilang capek"
Celetuk Fitri
"Ya setidaknya nya aku capek karena aku habis menuntut ilmu bukan sibuk nyari tau urusan pribadi orang" saut Bintang
Fitri semakin kesal dengan semua jawaban dari Bintang, dan kini dia memilih untuk pergi.
Tanpa pamit dan permisi Fitri langsung pergi begitu saja dengan berjalan setengah berlari.
"Assalamualaikum..." Ucap Bintang
Bukannya menjawab, Fitri hanya menoleh dan kembali pergi
Bintang menggelengkan kepala karena tidak habis pikir dengan Fitri.
"Begitu berharganya kisah hidup ku baginya, sampe dia repot repot untuk selalu cari tau" batin Bintang.
Bintang lalu membuka kunci pintunya dan masuk ke rumah.
Ia masuk ke kamarnya meletakkan tas dan buku-buku nya di meja.
Bintang merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamarnya.
Bintang lalu memejamkan matanya dan akan beristirahat.
Belum sepenuhnya Bintang terlelap nada dering dari hp nya membangunkannya.
Bintang menengok ke sisi kanan dan kiri nya mencari keberadaan hp nya.
__ADS_1
Bunyi nya berasal dari dalam tas yang berada di atas meja.
Meski sedikit malas untuk bangun tapi Bintang tetap bangun untuk menjawab panggilan yang masuk, karena ia takut panggilan itu penting.