
πππ
matheo ke kantor dengan asistennya Zayn yang menjemputnya. sementara devano kini sedang mengerjakan sebuah pekerjaan ya di laptop, ia sengaja memesan minum pada Luna,ia sangat ingin berkenalan gadai semanis Luna. ia menunggu Luna di ruang tv, hingga tak lama Luna membawa sebuah jus orange ke arahnya
"ini pesanan anda tuan, saya permisi" saat hendak melangkahkan kakinya, Devano menghentikan Luna agar tidak pergi. "bisakah kau duduk menemaniku"
"maaf tuan, saya tidak berhak untuk duduk di kursi ini, karna saya hanya seorang pelayan" ucap Luna dengan gemetar berusaha menahan rasa sakit di hatinya. "mengapa kau seperti bersedih? apa matheo memperlakukan mu dengan kasar? tetapi bagiku matheo bahkan tak pernah menatap kepada pelayan, mana mungkin ia bersikap kasar" ucap Devano dengan bingung.
"saya tidak sedih tuan, mungkin efek belum sarapan dari pagi"
"kau lapar? jika begitu aku akan mengajakmu keluar untuk makan"
__ADS_1
"tidak perlu tuan, kau tidak perlu mengajak saya kemanapun, saya makan di dapur saja nanti"
"aku tak suka penolakan, sekarang ikut aku" Devano menarik tangan Luna membawanya keluar mension dengan mobil mewahnya. Luna berusaha untuk menolak, namun pria itu justru malah memaksanya.
hingga sampai di perumahan makan elit. mereka turun dari dalam mobil, Devano menggandeng tangan Luna hingga masuk kedalam. mereka di sambut hormat oleh karyawan restoran. "aku ingin makanan termewah disini"
"baik tuan"
"aku yang akan membantumu nanti"
Devano dan Luna mulai berbicara satu sama lain, karna memang sedari tadi Devano yang mengajaknya bicara, dan Luna hanya menjawabnya dengan singkat dan sopan. saat pesanan mereka datang, mereka pun mulai makan, tak henti hentinya Devano menatap hangat pada Luna, tampaknya ia telah jatuh cinta pada gadis di depannya ini. Luna yang merasa sangat tak enak karna di tatap sedari tadi, ia menjadi canggung untuk memakan makanannya.
__ADS_1
setalah makan nanti,Devano berniat untuk membawa Luna berjalan mengelilingi kota, namun Luna menolaknya dengan halus, gadis itu takut suaminya akan marah dan mencapnya sebagai wanita murahan, yang mau di ajak jalan oleh pria lain.
"maafkan saya tuan, saya ingin membantu para pelayan lainnya, saya tidak ingin memakan gaji buta, jadi saya ingin kembali saja" ucap Luna dengan halus
Luna memberi alasan yang tepat, Devano pun langsung mengerti dan mengurungkan niatnya. setelah selesai mereka berniat kembali ke mension. Devano tersenyum menatap Luna, tatapannya sangat berbeda dengan matheo, pria itu selalu menatap ya tajam dan sangar, selalu membuatnya ketakutan. sedangkan Devano, pria itu menatapnya sangat dalam dan hangat.
kantor matheo, c.s
tampak pria itu sedang melakukan meeting dengan para klien lainnya. tak ada yang berani menentang keputusannya, sebenarnya ia akan di angkat menjadi presiden di negara Amerika, karna perusahaan nya yang begitu sangat maju dari perusahaan lainnya, mereka begitu yakin, jika matheo yang menjadi presiden pasti negara mereka akan maju dengan pimpinan Seperti matheo. namun pria itu menolaknya, karna matheo hanya sibuk dengan perusahaan nya yang memang banyak mengajukan kerja sama dengannya.
ia tak ingin kembali sibuk, mengurus semua rakyat disana. tanpa menjadi presiden ia sudah di takuti oleh semua kalangan masyarakat di berbagai negara, bahkan pada mafia.
__ADS_1