
πππ
Arta secara diam diam memotret Luna yang tersenyum padanya. "baiklah, tugasmu hanya mengambilkan berkas dari asisten Rio dan membawanya kepadaku, setelah itu kau harus tegak berada di ruangan ku"
"hanya itu?"
"lalu kau mau apa?"
"aku ingin pekerjaanku lebih banyak" ucap Luna dengan semangat.
"baiklah kau yang akan memberi tahu jadwal meeting dan dapat penting, dan ingat yah, jadwal nya beda beda dan jika aku meeting dengan klien waktunya berbeda"
"ok pak" ucap Luna memberi penghormatan.
Luna mulai mengerjakan tugasnya, ia membawakan berkas penting yang harus Arta kerjakan, setelah itu Luna akan mengecek satu persatu berkas yang sudah di tandatangani tangani oleh arta takut ada berkas yang belum di tandatangani.
"Luna jadwal meeting jam berapa"
__ADS_1
"jadwal meeting, bapak harus meeting jam 10 pagi dan waktu bapak lagi 5 menit lagi untuk segera meeting"
Arta menatap Luna dengan intens. "mengapa kau memanggilku bapak?" tanya Arta dengan wajah kesal. "karna sekarang kau bos ku"
"tapi jangan panggil aku bapak juga Luna, aku bukan bapakmu" gemasnya ingin sekali mencubit pipinya yang chubby.
"lalu aku harus panggil apa? jika aku memanggilmu kakak karyawan lain akan merasa tak adil"
"ya sudah,kau panggil aku Presdir saja"
"gausah pake bapak"
"iya iya, ya ampun"
mereka kembali melanjutkan pekerjaannya, Luna sedikit merasa bosan karna ia hanya berdiri menunggu Arta selesai menanda tangani berkas dari asisten Rio, setelah itu Luna juga harus kembali memberikan berkas itu pada asisten Rio.
hingga waktu menunjukkan jam 12 siang. Jan istirahat tiba, Luna masih saja memeriksa berkas yang ia periksa. "Luna sudha waktunya makan siang, Ayo aku akan mentraktir mu" ucap Arta menarik tangan Luna.
__ADS_1
"kak tidak usah menarik tanganku, tidak enak jika mereka melihatnya nanti"
"ohh baiklah" Arta mengerti perasaan Luna, pria itu pun berjalan menuju lobi perusahaan, mencari mobilnya. Arta membukakan pintu untuk Luna. "kak kau terlalu berlebihan" karna Luna merasa kurang enakan jika diperlakukan seperti itu.
"tak apa Luna, biar asisten ku yang membawa mobil nya"
namun pikiran Luna yang sebenarnya adalah,apakah nanti matheo marah padanya, karna pria itu selalu tau kemanapun Luna pergi, pria itu seperti mata mata bayangan, memang benar adanya, matheo memiliki banyak pengawal mata mata untuk setiap orang yang istimewa.
namun apakah Luna istimewa bagi matheo? tentu saja tidak, matheo hanya penasaran kemana perginya Luna dan apa saja yang di lakukan oleh wanita itu.
perusahaan matheo c.s.
matheo menatap sinis ke arah layar komputer, ia duduk di kursi kebesarannya. ia sedang melihat Luna masuk kedalam mobil arta, matheo juga melihat saat Arta membukakan pintu mobil untuk Luna. "aku akan membiarkan mu untuk beberapa hari kedepan, akan ku biarkan kebebasan menghampirimu, tapi jangan salahkan aku jika aku telah membuatmu sulit untuk melakukan apa yang kau inginkan selama beberapa hari setelah kebebasan kau rasakan" sinis matheo tengah merencanakan sesuatu yang konyol baginya.
hati matheo yang dipenuhi rasa benci bercampur obsesi dan rasa cemburunya yang menggebu gebu, sangat ingin membuat Luna menyesal dengan apa yang Luna lakukan dengan Arta. matheo ingin melihat Luna menangis berteriak kesakitan saat Luna puas dengan kebebasan yang ia berikan.
matheo juga akan berpura pura tidak mengetahui jika Luna bekerja di perusahaan Arta. dan matheo juga akan bersikap untuk tidak peduli dengan Luna, namun saat pulang nanti ia akan mengerjai luna.
__ADS_1