
πππ
"sakit tuan"
langkah Luna tersendat sendat, sebab tak bisa mengimbangi langkah kaki suaminya itu. matheo mendorong tubuh Luna hingga kini masuk kedalam ruangan dimana Luna tadi berada disana.
"tu..tuan, aku takut, tolong jangan tinggalkan aku sendirian disini"
"tolong jangan mengurung aku disini, aku akan lakukan apapun tuan, aku tidak akan membantah perkataan mu lagi, aku akan bersikap seolah olah aku tak ada, dan aku jangan anggap aku ada tuan"
tangisnya yang memilukan, dan suaranya yang gemetaran, matheo Sampai merasa terkejut, ia bahkan tidak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini, entah mengapa hatinya sangat sakit mendengar perkataan Luna.
apakah wanita itu tidak pernah merasakan kebahagiaan? atau Luna menikah dengannya untuk merebut semua kekuasaan nya?
matheo sampai merasa sangat bingung dengan Luna, siapa sebenarnya Luna, menurut informasi dari data yang diberikan asistennya, Luna hanya gadis miskin yang tinggal dengan ayah dan ibu tirinya serta kakak tirinya yang sangat fans berat kepadanya.
"baik, aku tidak akan mengurung mu ditempat ini, asal kau menuruti semua keinginan ku"
__ADS_1
Luna segera menganggukkan kepalanya, dengan patuh ia mengikuti langkah kaki suaminya itu.
"ganti pakaian mu, setelah itu turun dan bantulah para pelayan disini, ingat! kau sama seperti mereka, jadi, jangan harap kau merasa seperti ratu disini" setalah mengucapkan hal itu, matheo keluar dari istana nya dan menuju kantornya bersama asisten nya.
Luna menundukkan kepalanya, segitu hina kah ia? sampai sampai suaminya sendiri bersikap kasar kepadanya. "ya Tuhan kuatkan hati ku" setelah mengucapkan kata itu,Luna segera mengganti pakaiannya dan segera turun kebawah untuk membantu seluruh pelayan.
"ada yang bisa aku bantu?"
"tidak perlu nona, anda beristirahat saja" ucap pelayan itu memberikan tanda hormat padanya.
ada beberapa pelayan yang menatap sinis ke arahnya. mereka merasa tersaingi oleh Luna, gadis lusuh yang sama seperti mereka, bagaimana mungkin menikah dengan tuan mereka. hak ini membuat mereka lupa diri dan merasa yakin, jika mereka pantas bersanding dengan tuan matheo.
"lihat saja, kita akan memberikannya pelajaran nanti"
"kau benar Siska, wanita itu tak pantas untuk bersanding dengan tuan matheo"
"heh! itu benar sekali, kita yang lebih cantik darinya, seharusnya kita yang bersanding dengan tuan matheo" sahut angela, teman mereka.
__ADS_1
ke 3 gadis itu akhirnya merencanakan sesuatu, untuk menjebak Luna, agar Luna merasakan pembalasan yang harus ia dapatkan. sementara Luna, setelah ia mencuci piring, ia masuk ke ruang pencucian yang cukup besar itu. "apakah ini toko laundry, besar sekali, dan banyak mesin cuci disini, apakah tuan matheo sangat boros dalam memakai pakaian" batinnya menatap kagum ke arah tempat pencucian.
Luna melihat banyak sekali pelayan yang sedang memasukkan pakaian matheo kedalam mesin cuci.
mereka semua bekerja dengan sangat keras, karna mereka sedang di pantai cctv di setiap sudut ruangan.
"apa kau nona luna?" tanya seorang pelayan berwajah cantik dengan kulit putihnya menatap sinis kearah Luna.
"kau benar, ada yang bisa aku bantu?"
"kau benar sekali, sebaiknya kau mencuci pakaian tuan matheo, setelah itu akan di keringkan ke tempat cucian khusus agar pakaian matheo cepat kering, dan bawa ke ruang tempat penyetrikaan"
"baiklah"
Luna hanya menurut, dengan lugunya ia berjalan mengerjakan apa yang dikatakan pelayan tadi. pelayan wanita itu tersenyum sinis, ia pun melanjutkan pekerjaannya.
'sabar Luna, haha pernikahan sementara, sebentar lagi kau akan bebas dari semua orang pernah jahat ini' batin Luna menahan rasa sesak di dada
__ADS_1