
πππ
tak lama pintu lift terbuka, matheo segera menarik tangan istrinya dan memasuki ruangannya. tatapan matheo sungguh mengerikan sekali, Luna ingin sekali berlari sejauh mungkin.
"diam disana dan jangan bergerak! jika kau bergerak sedikit saja aku akan membuatmu tak bisa bergerak" ancam pria itu setelah mendorong Luna untuk duduk di sofa dalam ruangannya.
"tuan, aku ingin kembali bekerja"
"jika aku bilang Diam, maka diam lah! apa kau tuli" ujar pria itu sedikit meninggi. akhirnya Luna pun memilih untuk mengalah dan menuruti apa yang pria itu inginkan.
'sabar Luna, kebebasan mu tak akan lama, lebih baik kau menurut saja dari pada ayahmu menjadi korbannya' batinnya bergidik ngeri membayangkan pria itu membunuh ayahnya.
matheo melirik sekilas, tatapan mata elang nya itu sungguh sangat horor, bahkan asisten Zayn saja tak mampu menatapnya, matheo sekali kali melirik ke arah Luna, membuat gadis itu sedikit risih.
"tuan mengapa selalu menatap ku" ujar Luna membuka isi hatinya dengan lembut.
"apa aku salah melihat mu? kau istriku, aku berhak menatap mu" gumamnya dengan cuek, membuat Luna jengah dengan sikapnya. Luna memilih untuk tak menatap ke arah pria itu,lebih baik ia memainkan ponselnya dan bersikap cuek.
sudah waktunya untuk pulang, Zayn suruh pengawal untuk mengantar wanita ini lebih dulu" ucapnya pada sang asisten.
"baik tuan"
"mari nona, ikut dengan saya"
__ADS_1
Luna mendengar perkataan Zayn tentu saja sangat senang, akhirnya ia terbebas dari jeratan iblis jahat ini. "Zayn apa aku dengan tuan matheo akan benar benar berakhir" tanya Luna pada asisten Zayn saat selesai keluar dari ruangan matheo.
"saya tidak tau pasti nona, yang jelas kau dan tuan matheo pasti akan berpisah"
"Zayn mengapa kau bicara terlalu formal kepadaku, bukankah kita teman"
"anda istri atasan ku nona"
Luna menghela nafasnya dengan kasar, padahal dulu zayn akrab dengan nya, mengapa pria itu seperti menjauh dari nya. sementara asisten Zayn menghubungi pengawal untuk mengantar Luna.
setelah memastikan Luna benar benar di antar oleh pengawal nya, barulah asisten Zayn masuk kedalam menuju ruangan matheo. namun ponselnya berdering membuat ia menghentikan langkahnya.
"Zayn kau tunggulah dibawah, kita pulang sekarang"
"baik tuan"
pakaiannya sangat sederhana seperti Luna, jika di bilang wanita itu masih polos. asisten Zayn terus mengamati hingga wanita itu berlari keluar parkiran. "Tidak mungkin itu karyawan yang bolos bekerja, karna pakaiannya saja pakaian rumah dan kampungan" ucapnya dan kemudian mengeluarkan mobil dari parkiran perusahaan.
"ayo" ujar matheo saat memasuki Lamborghini nya.
mereka pun menuju kediaman matheo, tampak matheo sibuk dengan iPad nya, mengurus kerja sama nya dengan perusahaan Arta group. Zayn menatap kearah kaca spion, tampak ada mobil hitam asing mengikuti mobil mereka.
"tuan, sepertinya ada yang mengikuti kita"
__ADS_1
"sial, dalam waktu istirahat ku sempat sempatnya ada yang mengganggu ketenangan ku"
matheo menggulung lengannya, ia mengambil sebuah pistol di balik jas nya. "Zayn dalam hitungan ke tiga kau mundurkan mobilnya, dan buka jendelanya"
"siap tuan"
"satu....dua...tiga.."
citttt
dorr
dorr
dorrr
prang!!
dalam 3 tembakan, matheo berhasil membuat sang supir mati, karna timah panas menembus kepalanya. matheo menyeringai, ia kembali menyimpan pistol kesayangannya.
matheo turun dari mobilnya diikuti asisten Zayn. matheo menatap ke tiga orang yang turun dari mobil tersebut dengan jalan sempoyongan, akibat hantaman mobil tadi, dan matheo terus menatapnya. pria itu menyeringai seperti iblis yang mendapatkan mangsanya.
dor
__ADS_1
timah itu panas kembali melubangi kepala lawannya, barulah mereka tersadar dan berupaya menyerang matheo. namun dengan gerakan santai matheo menembak musuh itu dan sengaja menyisakan satu lawan agar terjadi peperangan. setelah melihat orang tersebut melarikan diri, barulah matheo dan Zayn segera kembali ke mension ya.