
🍀🍀🍀
"apa yang ingin kau tanyakan"
"sepanjang kita bertemu aku tidak tau siapa namamu"
pria itu baru ingat jika ia tak memberitahukan namanya pada gadis disampingnya itu, membuat ia mendengus sendiri.
"namaku Zayn, asisten tuan matheo pemilik perusahaan terbesar di dunia setelah tuan Alberto"
"jadi kau asisten Zayn"
"apa kau tidak mengenali ku?"
"aku hanya mengenal namamu, tapi tidak dengan wajahmu"
"ohh ya tuhan, tidak apa apa"
Zayn tertawa kecil, kasihan sekali nasib Luna, masih anak anak namun sudah diberi beban berat oleh keluarganya, apakah nanti tuannya itu akan memperlakukan Luna dengan baik.
"tuan Zayn apa tuan matheo baik?" tanya Luna membuat Zayn merasa bingung
"apa maksudnya?"
__ADS_1
"maksudku, apakah tuanmu itu tidak pemarah seperti ayahku, aku lelah jika terus menerus mendapat amarah dari seseorang, aku ingin hidup dengan tenang tanpa adanya keributan" ucap Luna menatap Zayn dengan penuh harap.
"entahlah, jika kau tidak membuatnya marah, ia tidak akan marah padamu" ucap Zayn tersenyum membuat Luna merasa jantungnya seolah olah berhenti berdetak.
"mengapa kau menatapku sepeti itu?" tanya Zayn melihat Luna yang mematung melihatnya.
"kau membuat hatiku meleleh" ucap Luna dengan polos membuat Zayn tertawa mendengarnya, gadis disampingnya membuatnya kembali bersemangat.
"apa ada yang lucu?" tanya Luna dan dibalas gelengan oleh pria itu.
hingga tak lama, ia sampai di mension mewah dengan para pengawal yang cukup banyak dan memberi penghormatan kepadanya.
Luna merasa sangat tak nyaman dengan perlakuan itu, selama ini ia yang memberikan perlakuan itu pada semua orang yang akan bertamu di rumahnya, namun kini ia yang diperlakukan seperti itu.
"Luna ayo masuk" ucap Zayn pada gadis itu.
Luna masuk dengan takut² lantai yang terbuat dari mermer mewah itu membuat pemandangan Luna tak luput darinya.
sangat indah! pikir Luna bahkan sulit untuk dijelaskan.
"tuan, aku membawa gadis yang kau inginkan" ucap asisten Zayn pada seorang pria tampan yang sedang duduk menikmati makanannya.
__ADS_1
pria itu berhenti memakan makanannya, ia melirik kearah Luna dengan tatapan tak terbaca kan, namun tak lama ia menyeringai seperti raja iblis yang siap memangsa musuhnya.
Luna menundukkan kepalanya, merasa takut melihat tatapan seorang tuan matheo.
'jadi ini tuan matheo? mengapa tatapannya begitu menyeramkan tidak seperti wajahnya yang tampan' batin Luna merasa takut untuk mendongakkan wajahnya.
"heh! aku minta data pribadinya" ucap matheo pada asistennya.
"baik tuan muda" Zayn meninggalkan matheo dengan luna, semetara Luna yang melihat kepergian Zayn merasa takut sekarang, bisa bisanya pria itu meninggalnya seorang diri dengan pria menyeramkan seperti itu.
"apa yang kau lakukan di situ, cepat ikuti aku" ucap matheo menggelegar membuat Luan terkejut dan segera menatap kearahnya.
"baik tuan"
Luna mengikuti langkah matheo hingga sampai pada sebuah kamar mewah dengan pintu yang terbuka otomatis.
dan saat masuk, Luna dibuat menganga dalam isi kamar tersebut.
"dasar gadis kampung" lirih matheo pelan namun masih didengar oleh Luna. gadis itu diam tak menjawab perkataan matheo, karna benar adanya dia hanyalah gadis kampungan.
matheo duduk dengan angkuh di sofa besar, namun Luna masih diam berdiri mematung"
"apa kau suka menjadi patung? aku rasa kau suka berperan sebagai patung" ucap matheo meremehkan Luna.
__ADS_1