
(ᗒᗩᗕ) readers kesayangan Mimin, kalau baca itu tinggalkan komen, kalau memang kalian ingin berpendapat. barang kali dengan komentar kalian, author bisa mengubah tata cara pengetikan dan bahasa yang benar💜💜💜
untuk readers kesayangan author, jangan putus semangat terus mendukung karya author, karna author bakalan mager kalau ga ada yang cemangatin💞💞💞🥺🥺🥺
baca elit
tinggalkan 👍🏻 sulit.
siapa lagi kalau bukan readers Jesica❤️❤️❤️❤️❤️
ngetik itu capek tau😭😭😭😭😭
...(✿ ♡‿♡)(✿ ♡‿♡)(✿ ♡‿♡)(✿ ♡‿♡)...
🍀🍀🍀
__ADS_1
Luna masuk kedalam kamar nya. setelah kepulangan ibu mertuanya, Luna memutuskan untuk beristirahat, karna tubuhnya terasa sakit semua. lelah sekali rasanya, bekerja demi untuk menabung demi masa depan nya nanti. Luna ingin sukses dan menunjukkan pada semua orang jika ia bisa seperti mereka.
di kamar matheo.
pria itu sedang mengambil sebuah tali, otak kejamnya itu selalu ingin menyakiti Luna dan melihatnya menangis. ia melangkahkan kakinya menuju kamar istrinya, dengan seringai di wajahnya, ia memasuki kamar Luna dengan membuka pintu secara paksa. lalu kemudian kembali menutup pintunya dan menguncinya.
Luna yang tengah terbaring dengan memejamkan matanya terkejut, saat mendengar suara keras dari arah pintunya. ia melihat suaminya berdiri dengan sebuah pisau di tangannya.
"tu-tuan matheo....apa yang akan kau lakukan" ujar Luna bergetar hebat. ia beringsut mundur ke sandaran ranjang. ia juga menekuk kedua lututnya. matheo menarik kedua kakinya hingga Luna terlentang di bawahnya. Luna semakin ketakutan, hingga meneteskan air mata, tangannya bergetar matheo dapat merasakannya. hati matheo terasa senang melihat Luna seperti seorang pencuri yang tertangkap.
"ampun tuan...aku mohon jangan sakiti aku...bunuh saja aku...jangan menyiksaku...itu-itu sangat sakit..hiks" tangis Luna memohon melihat pisau kecil itu di hadapannya. minat Luna yang menangis, entah mengapa hati matheo teriris melihatnya. dengan dengusan kasar ia beranjak dari ranjang dan meninggalkan kamar Luna.
Luna mengelus dadanya merasa lega. ia kemudian mengunci pintunya. ia merutuki kebodohannya, bisa bisa nya ia tak mengunci pintu. akhirnya Luna pun memilih untuk segera tidur meski merasa tak nyaman.
keesokan harinya.
__ADS_1
Luna terbangun dengan keringat bercucur deras. Luna memimpikan kejadian yang sama seperti beberapa hari yang lalu. bagaimana Luna melihat seorang wanita yang meninggal karna di tembak oleh seorang pria. dan Luna melihat ayahnya membawa wanita itu ke rumah sakit dengan menggunakan mobil.
Luna melihat ke arah jam dinding. ia melihat jam menunjukkan pukul 8 pagi. "ya tuhan...mati aku, apakah kak Arta akan memecat ku kali ini" gumam Luna segera berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
setelah bersiap siap, Luna segera menuju kantor Arta dengan terburu buru. ia berlari tak memperdulikan tatapan karyawan yang sinis padanya. "lihatlah, mentang mentang dia asisten pribadi Presdir, dia datang seenaknya" ujar seorang wanita yang berjaga sebagai resepsionis.
"kau benar Lina, dia gadis licik, aku yakin Presdir Arta dia pelet"
sementara Luna.
Luna mengatur nafasnya dengan perlahan, dan kemudian mengetuk pintunya dengan perlahan.
tok...tok..tok
"masuk" ujar Arta dengan dingin.
__ADS_1
Luna menelan ludahnya kasar. ia masuk kedalam menundukkan kepalanya. Arta melihat dengan jelas jika Luna sedang ketakutan. tampak ide licik terbesit di otak nakalnya. ia baru saja datang, jadi tak masalah Luna baru datang, apalagi Luna teman sekaligus cinta pertama nya.