
πππ
Zayn menatap dari balik pillar besar. ia mendengar semua perkataan tuannya itu. "baru saja kau mengatakan cinta pada nona Luna tuan, kini kau kembali mengkhianati nya, kau pikir Nina Luna itu apa?" gumamnya kecil dan meninggalkan mereka.
di mension matheo.
Luna tampak termenung dengan perkataan matheo tadi. ia merasa tak percaya, tetapi tatapan pria itu benar benar tulus dan jujur. "apakah perkataannya benar benar? atau hanya ingin memberiku harapan palsu? Tidak Luna, aku yakin pria itu tak mungkin jatuh cinta pada gadis seperti mu, kau kan memiliki penyakit hipotermia, mana mungkin ada pria yang mau dengan wanita penyakitan seperti mu, kedinginan sedikit langsung sekarat"
"tapi hatiku sangat senang saat ia mengucapkan kata cinta pada ku" ujarnya juga tersenyum. mengembang.
...****************...
...****************...
...****************...
...****************...
...****************...
__ADS_1
langit semakin gelap, sudah terlihat sangat larut malam. akhirnya mobil mewah matheo sampai di mension.
Luna saat itu memang sedang menunggu matheo, wanita itu menunggunya di pintu. ia melihat matheo turun dari mobil nya, Luna tersenyum namun seketika senyumannya memudar saat melihat seorang wanita cantik turun dari mobilnya.
"siapa wanita itu? apa itu adiknya matheo?" gumamnya pelan.
mereka menaiki tangga lebar itu menuju pintu utama mension. namun matheo tak sengaja melihat Luna berada di pintu. "Luna, mengapa kau belum tidur?" tanya nya membuat Luna terkejut dari lamunannya.
"eh..ak-aku menunggu mu" ucap Luna dan tersenyum menunjukkan lesung pipi yang berada di samping bibir. "kau tidak perlu menunggu ku, dan ohh iya kenalkan, ini Arabella kekasihku" ucap matheo membuat senyumnya manis di wajah Luna menghilang.
"hai aku Arabella" ucap wanita itu tersenyum manis dan mengulurkan tangannya.
Zayn tau jika Luna sedang tidak baik baik saja, maka dari itu Zayn memutuskan untuk segera ke paviliun miliknya di belakang mension. 'benar bukan? Luna dia hanya memberimu harapan palsu dan berusaha ingin menghancurkan dirimu' batin Luna tersenyum getir.
Luna masuk mendekati kedua pasang sejoli yang sedang di mabuk asmara. "apa kalian ingin minuman?"tanya Luna dengan ramah. "tentu, bolehkah aku minta tolong, bawakan 2 jus melon?" tanya matheo perlahan. Luna menganggukkan kepalanya dan segera menuju dapur untuk membuat jus yang matheo minta.
"sayang, apa tak apa menyuruh istrimu? apa ia tak marah"
"aku tidak tau, nanti aku berbicara dengannya"
__ADS_1
Arabella mengangguk, sebenarnya di hatinya ada perasaan tak enak, apalagi saat melihat wajah Luna yang sepertinya menahan rasa sakit dihatinya. namun semua itu Ara lakukan untuk merebut apa yang ia miliki. maka dari itu ia tak merasa berdosa atas Luna, apalagi Luna dan matheo menikah bukan atas dasar cinta.
tak butuh waktu lama, Luna datang dengan 2 jus ditangannya. "ini minumannya aku pamit permisi"
Ara menganggukkan kepalanya. matheo menatap kearah Luna yang sedang memasuki lift. "Sayang aku ingin pulang" ucap Arabella sengaja mengalihkan perhatian matheo. "untuk apa sayang, ini rumah mu sekarang"
"benarkah?"
"yah, kau boleh mengatur semua pelayan disini, jika mereka membantah maka katakan saja pada ku, aku akan menyuruh asisten Zayn memecatnya"
Arabella merasa seperti di ratu kan oleh pria itu, gadis itu merasa sangat senang. "sayang, aku tidur dimana"
"aku tidur dimana?"
"tentu saja bersama ku, di kamar pribadiku"
"bukankah pria dan wanita yang belum menikah tidak boleh satu kamar"
"tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu, sebelum kita menikah"
__ADS_1
arabella senang mendengarnya, gadis itu memang ingin merasakan malam pertama dengan matheo. maka dari itu kesuciannya sangat ia jaga selama 27 tahun ini.