
πππ
Luna seperti biasa berdiri di samping Arta menunggu berkas berkas yang harus pria itu tanda tangani. Luna menatap ke arah jendela besar itu, tampak gedung tinggi menjulang di sana. Luna melihat banyak karyawan berlalu lalang di dalamnya.
Luna tersenyum kecil saat melihat ada beberapa wanita yang tampaknya bertengkar karena sebuah buku. "Luna aku selesai dengan berkasnya" ucap Arta memberikan semua tumpukan berkas itu pada Luna. "baiklah aku akan mengantarnya pada asisten Joy" Luna kemudian membawa berkas berkas itu menuju ruangannya Joy.
tak lama Luna kembali masuk dengan membawa 1 gelas kopi dan beberapa cemilan. "Presdir tadi beberapa OB membawakan ku ini dan menyuruhnya memberikannya padamu"
"baiklah taruh disitu saja nanti aku memakannya" Luna menurut, ia menaruh nampan itu di atas meja yang cukup jauh dari berkas berkas penting milik Arta, Luna takut jika kopinya akan tumpah disana.
__ADS_1
kantor matheo c.s.
matheo lagi lagi menyeringai melihat Luna yang menurut dengan perkataan Arta. "Zayn, menurut mu bukankah gadis licik itu murahan?" tanya matheo pada asistennya yang berwajah datar itu. "bagi saya, nona Luna bukanlah wanita murahan tuan" ujar Zayn tanpa berekspresi.
"sialan kau Zayn, keluar dari ruangan ku, aku akan memanggilmu jika aku butuh" ujar matheo dengan nada tinggi. Zayn membungkuk hormat, ia segera keluar dari ruangan matheo. ia memilih untuk ke ruangannya saja. matheo mengusap wajahnya dengan kasar. "mengapa para pria aneh itu menyukai istri ku? apa mereka sungguh ingin sekali bekas ku" sinis matheo meminum wine nya dengan menyenderkan tubuh kekarnya di senderan kursi.
matheo berdiri dari duduknya, ia membenari dasinya dan melepas jasnya, menyisakan kemeja berwarna putih dengan dasi yang masih menggantung rapi disana. ia menatap bangunan bangunan besar di sana. tentu saja masih kalah besar dengan miliknya. matheo melihat jalan raya yang di penuhi mobil bagaimana semut. matheo menatap tajam kesana mengingat sang kekasih tercinta mengkhianati dirinya.
"cihh, semua wanita sama saja, tidak akan kata cinta dalam kehidupan ku, aku matheo Chaiden Smith, aku tidak akan jatuh cinta dengan wanita manapun" ujarnya dengan sombong dan angkuh. kemudian ia kembali menuju kursinya dan melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
hari hari berlalu.
sudah seminggu Luna bekerja di tempat Arta, namun matheo sama sekali tak peduli dengannya. setiap hari matheo akan berangkat pagi sekali, sebelum Luna terbangun, bahkan terkadang Sarah sengaja memancing masalah pada Luna.
seperti saat kini, Luna sedang mengepel lantai. keringat bercucur deras. mermer mewah itu tampak berkilau bersih karena Luna. namun belum semuanya, bahkan Luna belum ada membersihkan separuh, betapa besarnya istana matheo ini.
tiba tiba Sarah menumpahkan kopi membuat lantainya kembali menjadi kotor. "ya ampun Luna, maafkan aku, tampaknya aku sengaja" ujar Sarah menyeringai licik, chef Dion dapat melihatnya dengan jelas.
Luna tak bergeming, baginya meladeni Sarah akan menjadi orang yang tak waras juga seperti wanita itu. Luna memilih untuk diam dan kembali membersihkan, Luna lemah bertengkar setiap hari. mulutnya telah Kelu dan lidahnya terasa pahit. dadanya semakin hari semakin sakit. Luna takut ia menjadi wanita sakit sakitan. jika ia dengan matheo masa kontraknya habis, siapa yang akan menerimanya. sudah menjadi janda namun disertai penyakit, lengkap sudah penderitaan Luna. siapa yang mau dengannya nanti?.
__ADS_1
namun Luna tidak perduli, yang jelas ia memiliki tabungan untuk membiayai kehidupan barunya nanti. Luna telah menunggu nunggu di mana kebahagiaan menghampiri dirinya nanti.
matheo masih seperti biasanya. pria itu selalu diam berwajah dingin. dengan tatapan sangar membuat siapa saja yang melihatnya pasti merasa gugup bercampur takut. apalagi pria itu memiliki badan yang cukup sempurna. matanya yang biru itu membuat siapa saja yang melihatnya akan meleleh.