TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM

TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM
Halaman 32


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


"sayang aku lapar" rengek Sarah agar matheo mengajak nya makan. "kau lapar?" matheo menatap jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. matheo pun mengajak kekasihnya itu untuk makan siang.


"maaf tuan, tetapi saya harus mengurus beberapa masalah di markas the Lion"


"baiklah, aku akan pulang bertiga nanti" ucap matheo dan memberikan izin pada asistennya. mereka duduk berdua di sebuah meja yang memang khusus di tempati oleh 2 orang pasangan romantis. Luna duduk sendiri di kejauhan mereka, ia tidak ingin mengganggu hubungan mereka.

__ADS_1


beruntungnya ia membawa sedikit uang tabungannya, jadi ia bisa memesan minuman. ia meminum juz alpukat itu dengan sesekali melihat ke sana kemari. ia merasa seperti sedang merindukan seseorang. hingga tatapannya tertuju pada sebuah wanita yang mendorong kursi roda seorang wanita tua, yang di lihat jika itu ibunya. Luna tiba tiba saja merasakan sesak, dari kecil ia tidak merasakan helaian lembut ibunya, ayahnya saja tidak.


tangannya saja kasar. ia terkadang merasa insecure melihat tangan mulus gadis gadis lain. berbeda tangannya yang sangat kasar. ia berusaha menahan rasa sakit di hatinya. ia menahan air matanya agar tidak keluar. namun pipinya terasa panas, kepalanya menjadi pusing, akhirnya air mata itu jatuh lolos begitu juga.


"mengapa aku harus merasakan hal yang paling menyakitkan seperti ini" ucap Luna memukul pelan dadanya yang terasa sakit. belum selesai sarapan mereka membawanya jalan jalan, hingga kini mereka melupakan makan siang Luna. namun itu juga menjadi pusat perhatian sarah, Luna sama sekali tidak mengalami berat badan. seharusnya wanita yang jarang makan itu akan mengalami berat badan menurun


Luna segera menghapus air matanya. ia berusaha menghilangkan bekas air mata itu mengalir. ia melirik ke arah meja Sarah dan matheo. keduanya tidak ada disana. Luna terkejut, ia menoleh ke sana kemari, namun tidak menemukan keberadaan laki laki itu.

__ADS_1


hingga ia menabrak tubuh karyawan yang bekerja disana. ia pun langsung menanyakan arah pintu jalan keluar. setelah mendapatkan yang ia inginkan, ia segera keluar mencari taksi. namun ia lupa jika uang yang ia bawa hanya sedikit, minuman di dalam mall tadi cukup mahal, akhirnya ia pun sama sekali tidak memegang uang sedikit pun.


"ya tuhan, bagaimana aku pulang? aku tidak tau arah jalan pulang, aku juga tidak ada uang untuk memesan taksi" lirih Luna dengan mata berkaca-kaca. ia menyusuri jalanan kota yang di penuhi beberapa mobil orang orang.


ia berjalan dengan air mata yang jatuh begitu saja. mengapa ia diperlakukan seperti ini? jika ia pergi dari pernikahan ini, bisa bisa matheo akan menagih uang miliaran yang dibuat membayar utang utang ayahnya.


"aku harus bagaimana? aku tidak tau arah jalan pulang" ujar Luna dengan air mata berlinang. hari sudah semakin gelap. cuaca seolah olah mendukung perasaan Luna, awan gelap itu perlahan menurunkan setetes air hujan

__ADS_1


Luna kembali berjalan dengan cepat. namun karna hari yang kini semakin gelap karna hujan, ia memutuskan untuk duduk di sebuah halte bus. ia bingung harus melakukan apa , Jika ia menaiki mobil, otomatis ia harus membayar, dan lagipula ia tak tau arah jalan pulang.


Luna mengajak ke atas dengan air mata yang mengucur deras di pelupuk matanya. ia merasa sangat menyedihkan hari ini. "bawa aku bersama mu ibu" tangisnya seperti seseorang yang telah kehilangan segalanya.


__ADS_2