
πππ
melihat Luna menangis, matheo melepaskan cengkraman dari tangan Luna. pria itu pun mengusap wajahnya dengan kasar. matheo memilih untuk pulang bersama pengawal nya, ia menarik tangan Sarah yang mendekat ke arahnya.
"sayang, mengapa kita tidak naik mobilmu?"
matheo tak menjawab, akhirnya darah pun memilih untuk diam dan menurut saja, sebelum pria itu bertambah marah. Luna duduk di dalam mobil dengan menangis terisak-isak, apa salahnya? ia dengan Arta tak melakukan apa apa, hanya sekedar berbicara biasa saja. asisten Zayn mencoba menghibur Luna agar gadis itu merasa baik baik saja.
"sudah Nona, tuan sedang emosi tadi, maka dari itu dia tidak suka melihat anda berdekatan dengan pria lain"
"aku tidak melakukan apapun dengan nya asisten Zayn, mengapa ia marah?"
"tetapi Anda juga termasuk melanggar kontrak kerja nona, bukankah poin ke 10 anda tidak boleh berbicara dengan pria lain, siapapun itu"
__ADS_1
Luna baru tersadar jika ia telah melanggar surat kontraknya. pantas saja pria itu marah padanya. pikirnya
sesampainya di mension, Luna masuk kedalam kamarnya dan menyimpan ponsel yang diberikan oleh Arta di dalam lemari. ia beristirahat sejenak, ia sedang menahan lapar sekarang, ia sangat ingin makan. sudah dari siang ia belum makan.
tiba tiba pintu kamarnya di ketuk dari luar. Luna pun beranjak bangun untuk mendekati pintu dan membuka untuk melihat siapa yang datang.
"selamat malam nona, tuan matheo memanggil anda di dalam kamar nya"
"baiklah aku akan kesana"
saya di depan pintu kamar suaminya, perlahan Luna mengetuk pintu dan membuka pintu kamar pria itu. ia menundukkan kepalanya saat melihat suaminya duduk di atas ranjang dan menatapnya dengan tajam. Luna perlahan berjalan dan kini berhadapan dengan pria itu.
dengan kasar matheo menarik tangannya hingga terjatuh ke atas pangkuannya. Luna berusaha mendorong suaminya, ia tak ingin sesuatu yang tidak tidak akan terjadi. "heh! dasar murahan, berpura pura menolak ku namun berdekatan dengan pria lain" geram matheo merasa murka saat Luna berusaha menolaknya. matheo mengendus aroma rambut Luna, membuat wanita itu bergidik ngeri, Luna memejamkan matanya merasa sangat takut apa yang akan pria itu lakukan.
__ADS_1
"kau sudah Bernai menentangku untuk yang kedua kalinya, kali ini aku tidak akan memaafkan mu" matheo berdiri dari duduknya membuat Luna terjatuh di atas lantai. Luna meringis sakit saat merasakan nyeri di pinggulnya.
matheo mengambil sebuah tali di atas nakas yang telah ia siapkan tadi. ia menarik paksa Luna agar segera berdiri, dengan kasar ia mengikat Luna pada pilar besar dalam kamarnya. Luna berusaha melepaskan dirinya dari sana. "aku mohon lepaskan saya tuan" ucap Luna ketakutan. tubuh gadis itu bergetar saat melihat suaminya mengeluarkan sebuah tali panjang. bisa di katakan itu untuk memecut orang.
matheo tersenyum sinis ke arahnya. ia perlahan mendekati Luna dengan seringainya. Luna mulai mengeluarkan keringat dari tubuhnya. ia merasa sangat ketakutan. "tu-tuan matheo"
crash..
"akhh!!!!! sakit tuan..hiks..hiks.."Luna menjerit kesakitan saat pria itu mencambuknya dengan sangat keras. sangking kerasnya kulit bekas cambukan itu perlahan berubah menjadi merah kebiruan, hingga perlahan pori pori Luna mengeluarkan darah.
Luna merasa sangat kesakitan, ia berusaha menahan rasa perih itu. ia menangisi rasa sakit itu. ia tak pernah mendapat perlakukan seperti itu, sejahat jahat ibu tirinya dan kakak tirinya, tidak pernah menyakitinya hingga seperti ini.
crash...
__ADS_1
"akhh..!!!! hiks..ampun tuan" lirih Luna merasakan rasa sakit yang luar biasa di kakinya. matheo tertawa jahat, ia merasa puas saat mainan nya perlahan rusak mengeluarkan darah
"berapa kata yang sudah kau keluarkan pada pria itu? 1 kata,10 kata, atau beribu ribu kata, dengan kata kata menggoda agar pria itu meniduri mu" sinis matheo menusuk hati Luna.