
(ᗒᗩᗕ) readers kesayangan Mimin, kalau baca itu tinggalkan komen, kalau memang kalian ingin berpendapat. barang kali dengan komentar kalian, author bisa mengubah tata cara pengetikan dan bahasa yang benar💜💜💜
untuk readers kesayangan author, jangan putus semangat terus mendukung karya author, karna author bakalan mager kalau ga ada yang cemangatin💞💞💞🥺🥺🥺
baca elit
tinggalkan 👍🏻 sulit.
siapa lagi kalau bukan readers Jesica❤️❤️❤️❤️❤️
ngetik itu capek tau😭😭😭😭😭
__ADS_1
...(✿ ♡‿♡)(✿ ♡‿♡)(✿ ♡‿♡)(✿ ♡‿♡)...
keadaan mension sepi.
Luna masuk kedalam dengan perlahan. ia merasakan jika ia tidak akan selamat nanti. rasa tak nyaman di hatinya mulai menyeruak masuk kedalam seluruh tubuhnya hingga membuat tubuhnya bergetar ketakutan.
Luna semakin terkejut saat melihat seorang pria tampan bertubuh kekar menatapnya dengan nyalang. Luna menundukkan kepalanya, ia pasrah dengan hidupnya sekarang. "bagus sekali hidupmu sekarang, sudah berapa ronde yang kau lakukan dengan pria baj*ngan itu" Luna mengernyitkan dahinya merasa tak paham dengan ucapan suaminya. apanya yang berkata ronde? Luna sama sekali tidak bermain tinju tinjuan dengan Arta, kau mengapa matheo mengatakan berapa ronde.
"tuan, itu tidak seperti yang kau pikirkan, aku terbangun kesiangan tuan, hingga aku harus lembur untuk mendapatkan hukuman ku, aku sama kak Arta sama sekali tidak ada melakukan apapun, aku hanya mengambil berkasnya saja" ucap Luna dengan jujur.
telinga matheo semakin panas mendengar Luna memanggil Arta dengan sebutan kak. ia menarik paksa tangan Luna hingga Luna terjatuh ke lantai. namun matheo masih saja menyeretnya.
__ADS_1
"akhh!!! tuan ini sakit...aku mohon beri aku kesempatan untuk berjalan" teriak Luan merasa kakinya sangat sakit karya terbentur beberapa tangga akibat matheo menyeretnya.
telinga matheo yang sudah menuli akibat amarahnya yang meledak ledak. tak mengindahkan ucapan Luna sedikit pun. Luna menangis kesakitan ia tak bisa apa apa. ia hanya bisa menangis, Luna sudah berusaha untuk melawan, namun matheo semakin kerap menyeretnya dengan keras.
matheo sampai di dalam kamarnya. ia mengikat tubuh Luna pada pilkada besar itu. dan karna amarahnya yang sudah memuncak, matheo mencambuk tubuh Luna dengan sebanyak kali. Luna berteriak kesakitan. namun pria itu malam menampar nya hingga membuat sudut bibir Luna mengeluarkan darah segar.
"tuan sakit..." lirih Luna apalagi tubuhnya mengeluarkan darah yang cukup banyak. matheo menarik kasar rambut Luna hingga Luna mendongak ke wajahnya. "kau wanita murahan, bahkan kau lebih murah jika dibandingkan dengan wanita wanita makan di luar sana, kau menjajakan tubuh mu itu demi kepuasan hah!!"
"hiks..aku mohon percaya tuan...aku dengan kak Arta tidak melakukan apapun"
"berhenti memanggilnya kak" teriak matheo hingga tak sadar kembali menampar Luna. matheo mencengkram leher Luna dengan kuat, membuat Luan kesulitan untuk bernafas. Luna memejamkan matanya mencoba merasakan rasa sakit ini.
__ADS_1
'ini akhir dari kisah ku, aku mungkin seorang wanita yang tak pantas untuk hidup bahagia, aku juga tak pantas untuk mendapatkan cinta. aku hanyalah pembawa sial untuk seluruh bumi, aku wanita yang memalukan, aku selalu membuat orang orang di dekatku menderita hingga mereka menyakiti ku. ibu....aku menyusul mu' perlahan Luna menutup matanya. matheo melepaskan cengkraman nya saat melihat Luna yang tidak sadarkan diri.