
πππ
keesokan harinya.
Luna terbangun dari tidur nyenyak nya. gadis segera turun dari ranjang untuk membersihkan diri dan menyiapkan sarapan suaminya. entah mengapa tiba tiba dadanya terasa sakit, namun Luna tak terlalu memperdulikan hal itu, yang jelas Luna harus segera bersiap siap karna ia harus bekerja.
"selamat pagi nona" sapa para chef yang sudah menjadi teman luna.
"pagi Dion dimana pak sufri? biasanya ia selalu lagi lagi begini membuatkan salad kesukaanku" gumam Luna dengan raut sedih dan menundukkan kepalanya. "jangan sedih nona, biar saya buatkan saja,pak sufri lagi mengurus tuan matheo"
"ohh begitu ya"
Luna hanya menganggukkan kepalanya. "tak apa Dion, aku harus segera berangkat bekerja" ucap Luna bergegas menuju kamarnya untuk menyiapkan diri. setelah itu, Luna pun menaiki taksi pesanannya menuju kantor Arta.
__ADS_1
Luna masuk dengan wajah semangatnya, meski jantungnya agak terasa sedikit sakit. namun kuna tak patah semangatnya. Luna masuk dengan senyuman mengembang. "Luna mengapa baru datang" tanya Rina teman Luna di kantor. Luna hanya berteman dengan Rina saja, karna memang gadis itu yang mau menyapa Luna selebihnya tidak. Luna menang berpenampilan ala kadarnya saja, apa yang pas dengan tubuhnya itu yang Luna kenakan. bahkan Luna mengenakan kacamata agar terlihat lebih culun dan tak ada yang tertarik dari nya.
"tumben kau datang jam segini, untung saja kau datang tepat waktu, jika tuan Arta lebih dulu datang habislah riwayatmu" bisik Rina sembari menatap tak enak ke arah para karyawan yang lain karna menatap mereka begitu sinis.
Luna tak peduli akan hal itu. Luna menunjukkan senyumnya yang manis itu, memperlihatkan gigi gigi putihnya. "Tak apa Rina, tadi aku terlambat karna dijalan tadi macetnya lumayan lama"
"ohh ya sudah, ayo kita masuk ke ruangan ku" ujar Rina menarik tangan Luna agar masuk kedalam ruangannya. Rina bekerja sebagai karyawan bagian gudang, dimana yang memegang kunci gudang besar ialah Rina, karna asisten Arta menganggap Rina yang paling rajin.
"jam berapa sih kak Arta datang mengajak lama sekali" gumam Luna kecil tak terdengar oleh siapapun. "Luna kau berbicara apa?" tanya Rina yang memang tak mendengar ucapan Luna.
"ok baiklah, nanti istirahat bareng aku ya, aku yang teraktir" mendengar kata teraktir, Luna segera membalikkan badannya menghadap Rina. "apa kau serius dengan ucapan mu itu?"
Rina menganggukkan kepalanya. Luna tersenyum mengembang, dengan semangat ia menuju ruangan Arta. Luna berdiri di depan ruangan Arta, tentu saja Luna tak berani, meski Arta temannya, namun Luna tak bisa bersikap seenaknya di kantor Arta, Luna sadar diri akan hal itu.
__ADS_1
tak lama, beberapa pengawal dengan asisten Arta berjalan di belakang pria tampan berjas hitam rapi. tatapan dingin dengan sedikit kumis tipis menambah ketampanan pria itu. Luna membungkukkan badannya memberi hormat, membuat Arta yang semula dingin menjadi tertawa lucu.
"apa ada yang lucu presdir?" tanya Luna dengan tatapan polosnya. bahkan asisten Arta saja merasa lucu dengan Luna. "kau ini seperti menyambut raja, masuklah apa kau tidak merasa kram terus berdiri"
"tidak, aku harus saja datang" ucap Luna seketika menutup mulutnya dan membulatkan matanya. "wah wah, ternyata ada karyawan nakal yang mencoba untuk datang terlambat"
"maaf kak, jangan pecat aku, aku mohon" ucap Luna menutup matanya dan mengatupkan kedua tangannya di dada. Arta semakin tertawa dibuatnya, Arta merasa lucu dengan sikap Luna yang apa adanya.
"aku tidak akan memecatmu, asal kau mau menemaniku kerja lembur"
'aku rasa aku tidak bisa, aku seorang istri tidak mungkin aku pulang larut malam, apakah tuan matheo akan menghukumku? aku takut hak ini terjadi, tetapi apa yang harus aku katakan pada kak arta?' Luna tampak berfikir keras, Arta menaikkan alisnya melihat Luna yang melamun. "Luna mengapa kau melamun?"
"sepertinya aku Tidak bisa pulang terlalu malam kak, karna aku banyak kesibukkan aku takut majikanku marah"
__ADS_1
"baiklah untukmu tidak apa apa"
Luna tersenyum, kemudian mereka pun masuk kedalam ruangan Arta. sementara pengawal lain berjaga di depan pintu masuk.