
πππ
mereka pun menuju perusahaan matheo, awalnya Luna tak terlalu peduli, karna ia berpikir bukan suaminya saja yang bernama matheo. mereka masuk kedalam perusahaan, Luna mengekor di belakang kedua pria itu, beberapa karyawan menatapnya dengan aneh.
mereka merasa Luna sangat kampungan dan sangat Tidka menarik untuk di pandang. namun ada juga karyawan laki laki yang menatapnya dengan tatapan menggoda, hingga kuna jengah melihatnya.
"apa begini rasanya menjadi orang terendah saat memasuki kantor" gumam Luna kecil, sembari menundukkan kepalanya
mereka masuk kedalam ruang meeting, Luna menatap kagum ke dalam ruangan luas itu. bisa terbilang cukup banyak kursi, ia bisa bebas memilih tempat di mana saja, namun Luna memilih untuk duduk di dekat Arta saja.
samar samar Luna mendengar sepatu pantofel mendekat. matheo masuk ke dalam ruangan, mata pria itu bisa langsung menangkap keberadaan istrinya yang duduk di samping Arta.
sebisa mungkin matheo menahan amarah di hatinya, ingin sekali pria itu melempar Arta keluar gedung dan menarik Luna masuk kedalam ruangannya. "selamat pagi" sapanya agak keras agar Luna menatapnya.
benar saja, Luna mendongakkan kepala nya dan terdiam sesaat. mata bulatnya itu membola saat tatapannya bertemu dengan matheo. Luna menjadi panik, jadi benar jika ini perusahaan suaminya.
__ADS_1
Arta dan matheo berjabat tangan. mereka kembali duduk di kursinya. "sebuah keberuntungan bagi saya, tuan matheo mengajak perusahaan kami untuk bekerja sama" sambut Arta dengan sopan.
"tak perlu sungkan, aku hanya ingin memberi keuntungan untuk perusahaan masing masing"
mereka berbincang tentang kerja sama dengan serius, tatapan mereka membuat siapa saja yang melihatnya akan meleleh. Luna menatap asisten Zayn dengan melas, berusaha meminta bantuan pria itu. namun pria itu mengalihkan pandangannya ke bawah membuat Luna menjadi gusar.
"saya terima kerja sama ini dengan senang hati,semoga kedepannya tidak akan terjadi masalah, kalau begitu kami pamit undur diri" ujar Arta hendak meninggalkan ruangan.
"tunggu"
mereka berhenti dan menatap matheo dengan bingung. "boleh aku meminjam nya?" tanya matheo menatap ke arah Luna.
"tapi bukankah dia sekretaris pribadi saya tuan"
"dia istriku, aku berhak meminta nya untuk mengikuti, dan aku minta padamu, izinkan dia pulang lebih awal hari ini"
__ADS_1
hati Arta tersentak, ia merasa sakit yang tiba tiba menghantamnya, padahal ia sengaja mendekati Luna agar bisa mendapatkan hati wanita itu, tapi perkataan pria di depannya ini membuat ia menjadi patah hati. jujur saja, jika Luna adakah dambaan hatinya saat ini. Luna menatap arta dengan tatapan tak menentu, ia merasa tak enak pada bos nya.
"Luna apa itu benar"
"itu-itu benar kak, tuan matheo memang suami ku" ujar luna takut menatap Arta. Arta hanya tersenyum kecut, ia kemudian mempersilahkan Luna ikut matheo dan kemudian Arta segera melenggang pergi menuju perusahaan nya.
"ikut aku" gumam matheo datar tanpa ekspresi, Luna hanya menurut tanpa menjawab karna memang Luna masih marah soal semalam, apa yang pria itu lakukan pada tubuhnya.
mereka masuk kedalam lift, Luna berdiri di samping suaminya. "tuan sengaja kan menyuruh kak arta kesini dan agar aku ikut dengan kak Arta, kemudian tuan memperkenalkan aku dengannya, karna tuan tau jika aku bekerja di perusahaan nya"
"tuan memang benar, aku bekerja di perusahaan kak Arta, aku ingin mendapatkan uang banyak, agar aku bisa membayar semua uang yang kau berikan pada keluarga ku agar aku tidak memiliki utang kepadamu"
"aku ingin berpisah dari mu dan dengan bangga aku-" belum sempat menyelesaikan ucapannya, matheo mencium bibir Luna hingga membuat gadis itu terbelalak terkejut. saat melihat Luna hampir pingsan karna kehabisan nafas, matheo pun segera melepaskan pangutannya.
pria itu mendekat ke telinga Luna saat gadis itu berusaha mengatur nafasnya, dadanya naik turun membuat matheo harus bisa menahan birahinya. "dengar yah Luna, aku tak perduli apa yang kau rasakan dan aku tak perduli kau sangat tertekan berada di sampingku, kau sudah menjadi milikku, hidup dan mati mu ada di tangan ku, jadi jika aku mendengar kata pisah dari bibir kecil mu itu, kau akan mendengar kematian ayah mu, dan jika kau berani mendekati pria lain di hadapan ku,akan ku pastikan kau terikat di dalam kamarku, bagai burung dalam sangkar dan tidak akan pernah mendapat kebebasan, bahkan aku akan mengikat tubuh mu dan mematahkan kaki mu, camkan itu!!" bisiknya dengan seringai jahat di wajah tampannya.
__ADS_1
ancaman itu sungguh mengerikan sekali, seolah Luna memang tak boleh bergerak bebas sesuka hatinya, mungkin Luna tetap akan bekerja,namun jika matheo tau Luna dekat dengan pria lain, maka matheo Tidak akan mengampuni Luna.
rasa takut mulai menyerang Luna, ia takut dengan kematian ayahnya,sungguh pria ini sangat kejam padanya.