
πππ
Luna tak jadi menuju dapur. ia memutuskan untuk segera berangkat menuju kantor Arta dengan pakaian rapi. ia menggunakan celana jeans dan pakaian putih lengan panjang. Luna menguncir rambutnya dan tak lupa ia membawa beberapa berkas yang di perlukan.
Luna segera berlari menuju gerbang besar yang di jaga oleh 6 orang pengawal dan 2 security. "apakah aku akan di izinkan keluar" gumamnya kecil. saat Luna sampai di sana, pada pengawal itu memberi hormat kepadanya, Luna menjadi merasa tak nyaman, pengawal itu membuka kan gerbang untuk nona mudanya dan membiarkan Luna untuk keluar
"ternyata tidak Sulit" gumam Luna dan tertawa kecil. Luna menatap jalanan kota dengan penuh kesenangan, akhirnya ia bisa melihat dunia luar, bahkan beberapa orang lewat menatap dirinya dengan kagum, padahal Luna berpenampilan biasa. setelah Luna masuk kedalam taksi Luna memberikan alamat nya pada supir itu, dan mengantarkan Luna ke tempat tujuan.
"kita sudah sampai nona"
"baiklah terimakasih pak" setelah membayar Luna pun segera masuk kedalam. beberapa karyawan Arta menatapnya dari atas sampai bawah. membuat Luna merasa gengsi sendiri. Luna menghampiri resepsionis untuk bertanya.
"boleh aku bertemu dengan tuan arta"
"maaf apa sebelumnya Nina pernah membuat janji"
"belum"
"maaf nona, anda tidak bisa menemui Presdir kami, dia sedang melakukan meeting dengan para klien yang lain"
__ADS_1
"tapi aku mohon, dia menyuruh ku datang dan memberikan ku alamat nya"
"Nina anda berhak untuk tidak membantah" merasa kesal karna Kuna yan kunjung pergi, wanita itu merasa Luna menggoda Arta dengan wajah polosnya. "security" teriak wanita itu dan gan lama 2 security datang. "bawa wanita ini pergi"
"tidak aku harus bertemu dengan kak arta"
"cihh, berani sekali kau memanggil Presdir Arta dengan sebutan kakak, dia tidak punya adik"
"tau apa kau tentang nya" bantah Luna merasa kecewa diperlakukan seperti ini. mengais semua orang sangat jahat. security itu menarik tangan Luna dan membawa Luna paksa keluar dari gedung kantor.
tak lama pintu lift terbuka, Arta dengan asisten dan beberapa pengawal lainnya keluar dari dalam lift khusu CEO. Arta menatap tajam ke arah keributan itu, Luna berusaha melepaskan dirinya, ia pun mengigit tangan security itu dengan keras membuat pria itu berteriak kesakitan.
"kak Arta" lirihnya sembari membenarkan pakainya yang mulai kusut.
"ada apa dengan keributan ini"
"maaf tuan, wanita ini mencoba untuk masuk dan menemui anda"
Luna menatap geram kearah resepsionis itu, tampak wanita itu menatap Luna dengan senyuman mengejek. "biarkan saja, dia temanku, aku tidak berhak melarang nya"
__ADS_1
Arta menarik tangan Luna untuk masuk kedalam ruangannya. Luna menatap kearah genggaman tangan Arta, apakah setelah ini ia akan mendapatkan siksaan neraka lagi dari suaminya.
setelah sampai ruangan, Arta mendudukkan Luna di sofa besar. "duduklah Luna bolehkah aku melihat berkas yang kau bawa"
"boleh"
Arta membaca berkas yang di bawa Luna, gadis itu hanya tamatan SMA, sedangkan perusahaan nya hanya menerima orang yang bekerja yang tamatan kuliah s1 saja masih menjadi OB di perusahaan nya, jika ingin menjadi karyawan seperti lainnya harus tamatan S3 dan D4. apalagi dengan Luna, namun saat Arta melihat Luna yang menundukkan kepalanya dengan memegang tangannya yang berwarna merah membuat ia menjadi tak tega.
"Luna kau boleh bekerja disini, kau akan menjadi sekretaris pribadiku"
"sekretaris pribadi itu apa kakak?" tanya Luna dengan menaikkan dua alisnya membuat Arta menjadi tertawa kecil melihat kepolosan Luna yang memang tak dibuat buat.
"dasar bodoh"
"aku tidak bodoh hanya saja aku tidak tahu" gerutu Luna dengan mengerucutkan bibirnya. Arta menjadi gemas dan menarik pipinya dengan keras. "aww kak itu sakit"
"sudahkah, mulai sekarang kau bekerja, kau harus mengikuti kemanapun aku pergi, dan kau bisa pulang jika sudah jam 4 sore"
'tuan matheo pulang sekitar jam 5-6 itu tandanya aku bisa pulang lebih dulu dari nya' batin Luna melamun. "hey jangan melamun, apa kau sudah sarapan?"
__ADS_1
"sudah kak" ucap Luna menunjukkan deretan gigi putihnya