
πππ
"cihh sampai kapan pun, aku tidak akan menyesal telah menjadikannya sebagai mainan ku"
matheo keluar dari kamar pribadinya, ia akan kembali melanjutkan pekerjaannya. asisten Zayn merasa sangat kasihan pada Luna, saat pertama bertemu, Zayn sangat tau saat itu Luna sangat putus asa dan hampir mengakhiri hidupnya di danau itu, untung saja ia datang dengan cepat.
...****************...
...****************...
...****************...
...****************...
hari sudah sore.
__ADS_1
mereka kembali ke mension matheo. Luna hanya diam menatap kosong kedepan. ia tak memiliki semangat hidup sama sekali. ia berjalan sedikit tertatih tatih. meski Jonathan memberikannya obat pereda nyeri, namun tetap saja Luna merasakan sakit di kakinya. di tambah rasa sakit di hatinya, ingin sekali Luna memukuli matheo dengan puas.
sesampainya di dalam kamar. Luna duduk di depan meja rias. ia menatap wajahnya di pantulan cermin dengan mata berair.
"haruskah aku seperti ini? aku tak kuat dengan semua ini, aku lelah, aku ingin ikut bersama ibu,aku ingin bersama nenek, kakek, paman, bibi, aku tak tahan dengan semua ini, mereka selalu saja mempermainkan ku, apa begitu indah menyakitiku, apa aku tak pantas hidup" tangis Luna pecah merasa dirinya begitu bodoh, mau di permainkan oleh semua orang
harinya yang lemah itu Mudha di manfaatkan oleh orang lain. ia ingin seperti gadis seusianya. bermain, makan bersama sahabatnya, memiliki banyak teman, orang tua, bahkan semuanya ingin Luna miliki.
saat larut dalam kesedihan, pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang, membuatnya mau tidak mau harus bangun untuk membuka pintu.
"baiklah, aku akan segera kesana"
Luna pun turun menuju dapur. di sana ia melihat suaminya dan seorang wanita cantik duduk dengan anggun dan elegan. Luna mendekati suaminya perlahan dan langsung melayaninya tanpa menatap wajah suaminya.
wanita itu menatap Luna dengan heran. siapa gadis itu? terlihat masih sangat muda bahkan tinggi badannya saja tidak setinggi dia. "matheo, dia siapa?" tanya wanita itu merasa bingung.
__ADS_1
"dia pelayan ku"
"ohh"
wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makanannya. Luna hanya diam saja, tak perduli dengan semuanya. hatinya sakit, rasa sakit di hatinya yang membara atas perlakuan kasar suaminya membuatnya benar benar bungkam. matheo sebenarnya sedari tadi menahan rasa kesalnya. ia Oun menggebrak meja hingga membuat semua orang terkejut setengah mati.
Luna hanya diam, saat suaminya menarik tangan nya dengan kasar dan membawanya ke dalam kamar suaminya. matheo mendorong kasar hingga Luna terjatuh ke lantai. namun Luna tak memberikan ekspresi apapun, Luna hanya diam dan tak mau menatap ke arah pria itu.
"berani kau mengacuhkan ku, akan ku patahkan kedua kakimu, hingga kau tidak bisa berjalan"
Luna tetap diam, tak peduli apa yang akan dilakukan pria itu. ia hanya ingin mengakhiri hidupnya, ia membiarkan suaminya itu membunuhnya. "bunuh saja saya tuan, saya tidak sanggup untuk hidup di dunia ini" ucap Luna menatap matheo dengan sendu.
"heh! kau pikir aku membiarkan mu untuk mati secepat itu? jangan harap, kau adalah mainan ku, sungguh sayang aku membiarkan mainan ku cepat rusak tanpa aku bermain dengan puas" seringainya seperti iblis, membuat kebencian di hari Luna bertambah.
Luna menundukkan kepalanya, ia merasakan sangat sakit di dalam kepalanya. rasanya seperti ini pecah, ia seperti akan jatuh ke dalam jurang yang dalam. namun Luna menahan itu semua, agar ia tidak pingsan di hadapan pria itu, dan pria itu menganggapnya lemah
__ADS_1