TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM

TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM
Halaman 87


__ADS_3

Keesokan harinya.


Matheo terbangun lebih dulu dari istrinya, ia memandangi sebentar wajah Luna yang masih nyaman dengan tidurnya. Ia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantiknya


Ponselnya berdering, menandakan seseorang menghubunginya, matheo mengangkat panggilan telfon tersebut. "Yes mom"


"Matheo, kapan kau bawa pulang menantu dan cucu momy itu"


"Mom, jadi kau menghubungi ku karna menanyakan kabar Luna saja, mom sebenarnya anakmu itu yang mana" gerutu matheo merasa kesal dengan ibunya.


"Ck, kau cemburu pada istriku sendiri, sudahlah kau dengan ayahku itu memang tidak beda jauh"


"Siapa bilang mom, aku lebih tampan dari Daddy"


"Heh bocah tengil, kau itu darah daging ku, tentu saja ketampanan mu itu menurun dari ku, jadi tetap aku yang lebih tampan" sahut Alberto tidak terima saat putranya membanggakan dirinya sendiri.


Karna kesal matheo mematikan sambungan telfonnya dan menuju kearah istrinya yang masih tertidur pulas. Ia melirik kearah alarm yang masih menunjukkan pukul 6 pagi. Biasanya ia sudah berangkat bekerja, namun karna ia sedang berada di Jepang ia pun terpaksa menunda pekerjaannya.


Hari ini ia berencana untuk membawa Luna jalan jalan mengelilingi kota Tokyo dan duduk di bawah hamparan bunga sakura.


"Sayang, mau sampai kapan kau akan tidur terus" bisik matheo dan menciumi pipi chuby luna. Luna yang merasa sedikit risih akhirnya terbangun dari tidurnya, yang pertama ia lihat adalah wajah tampan suaminya yang begitu dekat dengan nya, bahkan beberapa centi saja bibir mereka akan bersentuhan.

__ADS_1


"Ma-matheo.." ucap luna terkejut dan refleks ingin mundur, namun saat ingin mundur tubuhnya lebih dulu di rangkul oleh suaminya.


"Bangunlah, kita sarapan diluar saja yah, hari ini kita akan jalan jalan seharian, karna aku akan membawamu pulang besok"


"Bagaimana dengan keluarga ku"


"Sayang sudah aku katakan, mereka juga akan ikut, aku akan memberikan mereka tempat tinggal yang layak"


Luna tersenyum, setidaknya jika ia bahagia keluarganya ikut bahagia. "Emm terimakasih, kau yang terbaik" lirih Luna tersenyum lembut. "Kau tidak perlu terimakasih padaku sayang, karna ini semua tidak gratis" ujar matheo mengedipkan sebelah matanya.


"Sudah ku duga, seorang matheo tidak akan pernah memberikan secara percuma"


mereka menghabiskan waktu semalam hanya untuk berdua, seakan akan dunia ini hanya milik mereka. Luna bisa melihat dengan jelas, saat kakak tirinya tak sengaja mendengar percakapan mereka.


"benarkah? apa itu"


matheo mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi kalung mewah, bahkan terlihat sangat elegan. matheo mengenakannya pada leher Luna. "kau bahkan terlihat lebih manis my love"


"ck, ternyata kau pandai merayu juga tuan arogant"


"haha, istriku ini lucu sekali"

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


keesokan harinya, mereka menuju bandara. "ma, apa mama yakin tidak ingin ikut bersama kami" Luna tampak sedih, karna keluarganya tidak ingin ikut bersamanya, dengan alasan takut mengganggu Luna.


"Tidak nak, kau berbahagialah bersama tuan matheo, kami disini akan selalu mendoakanmu yang terbaik" ucap sela.


Luna tentu saja terharu dan menangis menjadi jadi, ia tak akan pernah bisa melupakan keluarganya. "bagaimana dengan kakak"


"tidak Luna, aku harus menemani ayah dan ibu, aku juga harus mencukupi mereka"


"kau tidak perlu khawatir, jangan memaksa keluargamu jika tidak mau my love, mereka akan bahagia disini"


"benarkah?"


"ya, sekarang ati masuk, pilot telah menunggu kita"

__ADS_1


mereka masuk kedalam jet pribadi matheo, pesawat lepas landas, ayah Luna tentu saja menangis karna lagi lagi berpisah dengan anaknya,baru beberapa bulan bersama anaknya, mereka berpisah lagi.


"permisi tuan" ucap seorang pria berjas.


__ADS_2