
πππ
jawaban tak masuk akal membuat Luna menjadi sedikit marah dan hendak memukul keduanya. namun semua itu ia tahan, ia sadar jika ia memang bukan siapa siapa. "aku tak akan marah padamu Luna, kehidupan ku sudah jauh lebih baik sekarang, cinta sejati ku datang dan kembali hadir dalam hidupku, aku tak akan mencampuri urusan ku dan sebaliknya, kau tak perlu mencampuri urusan ku, sebentar lagi kontrak kita usai, sebagai penggantinya aku akan membayar mu mahal setelah nya"
Luna tak bisa mendengarnya dengan jelas. kepalanya bertambah sakit. hatinya sangat terasa sakit. Arabella hanya diam mendengarkan interaksi Keuda pasang suami istri di hadapannya. muncul rasa bersalah di hatinya. namun ia berusaha untuk mengatur pikirannya bahwa ia tidak bersalah, semua salah oleh karna takdir.
Luna merasakan hal yang sama seperti saat bertemu matheo. Luna juga merasakan hal yang sama saat ia sekolah. ia jatuh cinta pada pria yang tak mencintainya, pria itu memiliki kekasih yang ia cintai, pria itu menolak cinta Luna karna Luna culun.
Luna merasakan hal sama saat kini. masa lalu hadir dalam dirinya. "baik jika itu yang anda inginkan tuan, saya tidak akan pernah berharap lebih, dan satu hal, tidak akan ada kata maaf untukmu, aku tak peduli sekeras apapun maaf mu, aku tidak akan pernah memaafkan mu, kau adalah orang yang ikut andil dalam menghancurkan harapanku"
Luna kemudian beranjak dari brankarnya. Luna menahan rasa sakit di kepalanya demi untuk pulang dan menumpahkan segala isi hatinya. di sepanjang jalan, Luna hanya melamun. "dia bilang dia tidak akan mencampuri urusanku, itu tandanya aku perlahan mulai bebas bukan" ucap Luna dengan bibir gemetar dengan senyuman yang dipaksakan.
"ibu..kali ini aku benar benar rapuh, aku bodoh"
__ADS_1
sesampainya di mension.
Luna hanya diam tanpa berucap sepatah pun. mulai saat ini ia harus berdiri sendiri. tidak akan ada kata lemah dalam hidupnya. ponselnya berdering, Luna mengangkat telfonnya. terdapat nomor asing yang menghubungi Luna.
"halo" ucap lemah dari Luna.
"hai Luna apa kabar"
mendengar jawaban Luna membuat Devano tersenyum senang. "Luna aku tau permasalahan mu, jangan kau pikirkan itu terlalu keras oke, kau masih belum pulih sepenuhnya, kau harus banyak istirahat, nanti aku akan ke mension untuk menjenguk mu"
"baiklah, aku akan menunggumu kak, apa kau ingin aku buatkan sesuatu?" tanya Luna yang memang sedang tidak baik baik saja hari ini. "bolehkah? aku merindukan sup ayam buatanmu dulu"
"baiklah aku akan membuatkan untuk kak Devano"
__ADS_1
Devano tentu saja merasa senang. Luna tersenyum, setidaknya ia bisa menutupi kesedihannya dengan devano, tak masalah bukan? lagian Kuna menganggap Devano hanya sebatas kakak tidak lebih.
Luna turun untuk membuatkan sup buah untuk Devano. saat sedang memasak, tampak Luna tak sengaja melihat matheo yang berjalan dengan Arabella yang menggunakan tongkat. Luna bisa melihat dengan jelas bagaimana matheo memperlakukan Arabella sangat lembut.
Luna kembali fokus pada masakannya, dan berusaha untuk tidak perduli dengan semuanya. "Luna kau membuat sup untuk siapa?" tanya chef Juna yang lebih dekat dengan Luna di Bandung chef lainnya.
"aku membuat sup untuk kak Devano, dia ingin kesini untuk menjenguk ku"
"ohh, boleh aku merasakannya" binar chef Juna lucu membuat Luna terkekeh kecil. "aku sudah membuatkan mu dengan teman teman mu yang lain, ini khusus untuk kak Devano"
"terimakasih nyonya Luna yang baik hati dan cantik" goda chef Juna dengan cool
"heh hentikan itu, aku tidak merasa baper sama sekali" balas Luna berpura pura memasang wajah datar.
__ADS_1