
πππ
keesokan harinya.
Luna perlahan terbangun dari tidurnya, ia merasakan sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya.
tiba tiba tatapannya tertuju pada seorang pria yang menatapnya dengan tajam di atas sofa.
"tu-tuan matheo" ucapnya sedikit takut.
pria itu mendekati Luna dengan santai,ia menarik dagu Luna hingga wanita itu menatap ke arah manik biru lautan. "siapa pria tadi malam" ucapnya to the poin.
"dia..bbu- bukan siapa siapa ku tuan"
"jangan membohongi ku Laurentya Luna Margaretha" tegas matheo menatap tajam ke arahnya. Luna perlahan menundukkan kepalanya, ia pun dengan pelan menatap ke arah mata matheo yang membutuhkan penjelasan.
"dia..dia,sahabatku saat SMA tuan"
"hanya sahabat? apa itu kekasihmu dulu"
"saya tidak memiliki kekasih sama sekali tuan" ucapan Luna membuat matheo menautkan kedua alisnya. tidak mungkin hanya sahabat, mereka terlihat cukup mesra. dan apa tadi malam? bahkan mereka tertawa bersama.
"segera bersihkan dirimu, dan turun sarapan bersamaku"
__ADS_1
"tunggu tuan"panggil Luna sedikit takut, pria itu berhenti dari langkahnya dan menatap wanita itu dengan intens. "ada apa"
"tu-tuan, bolehkah aku bekerja, aku sangat ingin bekerja tuan"
"apa yang kau lakukan, aku sama sekali tidak perduli, yang jelas, selagi kau tidak mengusik ketenangan ku, aku tidak akan menghancurkan dirimu"
"terimakasih tuan"
Luna merasa senang, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan besok hari. ia merasakan sakit di tubuhnya masih belum kunjung reda. "jika begini, bagaimana aku melakukan tugasku dan bekerja besok" gumam Luna kecil. ia pun berusaha untuk turun dari ranjang, tiba tiba ponselnya berdering, ia mendengarnya dan segera mengambil ponselnya.
"halo kak"
"Luna apa semalam kau baik baik saja"
"aku baik baik saja kak, tidak perlu khawatir"
"ahh,itu hanya majikan ku kak, semalam ia buru buru dan terpaksa menarik ku kembali ke mension"
Arta merasa kurang yakin, namun ia berusaha untuk tidak perduli. "kak boleh aku bertanya"
"katakan Luna, aku akan menjawabnya selagi aku bisa"godanya membuat Luna tersipu.
"dasar cowo" ucap Luna kesal dan tertawa kecil.
__ADS_1
"kak, apa kau memiliki lowongan kerja, aku sangat ingin bekerja"
"bukankah kau sudah bekerja luna? mengapa kau masih meminta pekerjaan"
"aku hanya mengambil kerja sampingan, lagian aku hanya kerja setiap malam"
"tampaknya ada, bagaimana jika kau besok datang ke perusahaan ku, aku akan memberikan mu alamatnya nanti"
"terimakasih kak"
"apapun untuk mu Luna, dan sampai jumpa aku harus melakukan rapat penting dengan klien ku"
"baiklah"
setelah selesai dengan percakapan nya,Luna menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. ia akan mengenakan pakaian panjang untuk menutupi seluruh perbannya. ia pun segera turun menuju ruang makan. ia melihat darah dan matheo sarapan di meja itu, ia perlahan turun agar tidak menjadi pusat perhatian. matheo tau pergerakan Luna, namun ia berpura pura untuk tidak tau, ia kemudian berdehem keras membuat semua menoleh ke arahnya.
"apa kau ingin terus berdiri seperti patung di sana Luna"
"ehh, maaf tuan"
Luna segera duduk di kursi, cukup jauh dari Sarah dan matheo. Sarah menatap tak suka ke arah wanita itu, ia menatap tajam membuat Luna merasa tak enak.
'biarkan saja Luna, buat apa kau memikirkan wanita itu, lagian ia bukan siapa siapa di mension ini" batin Luna memakan makanan yang di hidangkan pelayan.
__ADS_1
'ingin sekali aku menendang wanita murahan ini, jika bukan karena matheo yang menghalangi diriku, aku pastikan ia akan merasakan merasa sakit hatiku"
batinnya merasa tak suka saat Luna menjadi pusat perhatian kekasihnya. "sayang, apa kau ingin mencoba steak daging ku, aku akan menyuapi mu" ucap Sarah berusaha mengalihkan perhatian matheo dari Luna. matheo hanya menganggukkan kepalanya, ia menatap Luna dan senyum penuh kemenangan, namun apa reaksi Luna? ia sibuk dengan makanannya dan seolah olah tak peduli dengan apa yang di lakukan Sarah. karna ia bukan siapa siapa matheo, ia hanya seorang istri bayaran pria kejam itu saja.