TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM

TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM
Halaman 86


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


matheo tak tahan terus berjauhan dengan istrinya, ia hanya bisa memeluk Luna saat Luna tengah tertidur. matheo menyuruh seluruh perawat Luna untuk meninggalkan mereka berdua.


seperti biasa Luna akan menutupi wajahnya dengan bantal karna merasa takut. "aku mohon jangan dekati aku, aku tak bersalah, aku telah di nodai" ucap luna mulai menangis.


"sayang ini aku, aku suami mu" ucap atheis memaksa Luna untuk masuk kedalam pelukannya. meski awalnya Luna memberontak dengan keras, akhirnya wanita itu berhenti memberontak karna merasa lelah. tubuhnya yang beda jauh dengan matheo membuat ia sulit untuk melepaskan diri dari pelukan pria itu.


"tenanglah, semua akan baik baik saja" ucap matheo mengelus rambut Luna berusaha memberikan ketenangan di hati istrinya. benar saja, Luna merasa sangat nyaman, ia berhenti menangis, ia mulai terbiasa dengan lekukan matheo.


matheo tentu saja merasa senang, dengan begini banyak kesempatan untuk mendapatkan cinta seorang wanita polos bernama Luna Chaiden Smith. nama itu sengaja matheo letakkan sebagai tanda jika Luna adalah istrinya dan tak akan pernah terganti oleh wanita lain.


matheo mengecup rambut Luna berkali kali, ia juga mengelus pundak dan perut Luna dengan sangat lembut, dengan maksud membuat Luna menjadi merasa sangat nyaman. "jangan pernah takut padaku, aku Tidak akan membiarkan mu di sakiti oleh orang lain lagi, aku janji" bisik matheo mencium kening istrinya sangat lembut.


Luna merasa tenang, ia merasa ada seseorang yang melindunginya, seolah lupa jika Luna sudah membenci pria didepannya, takdir berkata lain, Luna harus mengalami trauma berat dan hanya dekat dengan 1 orang pria, yaitu suaminya.


pria yang akan menemaninya hingga ajal menjemput nanti.


4 bulan kemudian


Luna sudah semakin baik, ia tidak mengalami ketakutan yang luar biasa ketika melihat pria, namun hal itu menimbulkan rasa kesal di hari matheo, ia merasa cemburu saat istrinya itu membalas senyuman seorang pria yang menyapanya, bahkan di samping dirinya saat mereka sedang menikmati pantai di kota Tokyo.

__ADS_1


"sayang, aku tidak suka melihat mu membalas senyuman pria itu, jika kau balas sekali lagi maka aku pastikan pria itu mati dengan tidak tenang" ucap matheo terdengar posesif sekali.


"iya maafkan aku ya, aku tak akan mengulanginya lagi" ucap Luna lembut dan tersenyum hangat pada suaminya.


deg...deg...deg


pipi matheo memerah, jantungnya berdegup dengan kencang, bagaimana tadi istrinya bicara sangat lembut kepadanya. "sayang aku tau kau sedang menggodaku, dan aku tau kau menginginkan ku, tapi kita tak bisa melakukannya sekarang" gerutu matheo sedikit menggoda istrinya.


blus*


pipi Luna memerah mendengar ucapan suaminya, yang mengatakan seolah olah dirinya yang menggoda suaminya, padahal ia hanya berbicara seperti itu, sudha disangka menggoda pria itu.


"astaga aku malu sekali, bagaimana bisa lelaki ini berkata seperti itu di depan ayah dan ibu" batin Luna menahan rasa malunya.


"ekhem..ayah akan pergi kekamar lebih dulu" ucap ayah Luna sedikit merasa canggung dengan kemesraan putrnya.


"tunggu yah ibu ikut"


Ela yang juga merasa canggung memutuskan untuk menuju kamarnya saja. "emm Luna kakak akan kekamar duluan"


"baik kak"

__ADS_1


kini sisa matheo dan Luna yang berada di ruang makan. matheo menatap sangat selama manik bulat berwarna coklat itu dengan senyuman manis diwajahnya.


"apa kau ingin ikut pulang bersama ku ke Indonesia, momy Ariana sangat merindukan mu"


"bagaimana dengan ayah dan ibuku, dan juga kak ela"


"mereka juga ikut sayang, disana aku akan membelikan mereka rumah baru dan juga beberapa hotel untuk bisnis ayahmu"


"benarkah?" tanya Luna antusias


matheo menganggukkan kepala nya dan mengecup singkat dahi istrinya dengan lembut. "apa dia tidak nakal disini" tanya matheo mengelus perut buncit Luna yang semakin hari sudah semakin besar.


"emm terkadang dia menendang, dan itu sangat menyakitkan, tapi aku sangat bahagia"


setelah Luna mengucapkan kata itu, benar saja tak lama matheo merasakan tendangan dari bayinya dan diikuti Luna yang sedikit meringis menahan sakit.


"sayang apa itu sangat sakit" tanya matheo khawatir sekaligus senang.


"tidak ini tidak terlalu sakit"


"hey son, kau jangan nakal atau Daddy akan menghukummu karna membuat momy mu kesakitan" ucap matheo mengecup lembut perut Luna dan mengajak bayinya berbicara. hak itu direspon langsung dengan tendangan kuat dari sang bayi, membuat Luna yang tadi mengelus kelapa suaminya kini mencengkram kuat rambut matheo.

__ADS_1


"sayang apa kah kau merasa sangat sakit" ujar matheo merasa sangat khawatir.


"tidak hanya saja dia suka menendang tiba tiba, dan itu rasanya sangat nyeri Taki tak lama ia akan menghilang dengan sendirinya" jelas Luna berusaha menenangkan suaminya.


__ADS_2