TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM

TERPAKSA MENIKAHI MAFIA KEJAM
Halaman 37


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


"ada apa dengan semua ini, mengapa aku bisa bermimpi seperti ini" ia menatap kesana kemari, kamarnya tampak gelap seperti tidak ada lampu. ia mulai merasa takut, ia turun dari atas ranjang mencoba mencari saklar lampu, tidak ada? lalu bagaimana Luna menghidupkan lampu.


tiba tiba seseorang menepuk tangannya dua kali dan seketika lampu menyala dengan terang. Luna menoleh ke arah suara tersebut, tampak matheo di atas ranjang tanpa memakai pakaian hingga menunjukkan otot ototnya yang kekar dan mengembang


"tu-tuan matheo" gugupnya menundukkan kepala dan berdiri disana.


"apa yang kau lakukan? apa kau suka berdiri di dekat pintu? kalau begitu berdiri saja disana selamanya.


"apa dia gila? dia menyuruhku berdiri disini selamanya, bisa bisa encok aku" batinnya menggerutu.


"kemari Luna"

__ADS_1


"tu-tuan mau apa" Luna mengeluarkan keringat dingin, tangannya terasa kaku, dan lidahnya kelu. ia merasa takut apalagi saat kini matheo hanya mengenakan celana pendek alias boxer. Luna bisa melihat dengan jelas sesuatu yang keras menyembul dibalik itu.


"kemari atau aku yang menggendong mu kesini" ujarnya mulai tinggi membuat Luna kalang kabut dan segera berlari mendekat. "kau lihat jam itu" tunjuknya pada jam dinding yang terbuat dari logam dengan hiasan kuku kupu.


Luna menoleh ke arah jam yang di tunjuk oleh suaminya. jam masih menunjukkan pukul 1 malam. ia dan matheo sudha terbangun. "mengerti? lalu mengapa kau bangun? kau ingin aku menghukummu" dinginnya mendekatkan wajahnya membuat Luna menjadi gerigi dan gemetar sendiri.


"aku-aku terbangun karna mimpi buruk tuan"


"mimpi buruk?" matheo menaikkan alisnya, merasa heran dengan Luna, mengapa gadis itu mimpi buruk? apa Luna memiliki masalah hidup. "tidak usah banyak alasan, sekarang tidur atau aku membuatmu tak bisa tidur"


Luna segera naik ke atas ranjang. ia membelakangi matheo yang masih menatapnya. Luna berusaha memejamkan matanya. "bagaimana aku bisa tidur jika pria itu tidur di sini, apa dia tidak akan melakukan sesuatu? aku berharap hak buruk tidak terjadi padaku" batin Luna berusaha tidur.


keesokan harinya.

__ADS_1


Luna terbangun dari tidurnya. ia melihat sekeliling kamarnya, suaminya sudah tidak di dalam kamarnya. Luna bernafas dengan lega. ia kemudian segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan turun untuk membantu para pelayan menyiapkan sarapan pagi.


Luna masih meneko neko, mimpi apa semalam itu? siapa wanita yang dibunuh oleh pria jahat itu, dan apa hubungan ayahnya dengan wanita itu. "mungkin itu hanya kebetulan saja,dan itu tidak nyata"


setelah mengucapkan hal itu, Luna segera turun menemui beberapa pelayan lainnya. namun saat turun, ia melihat Sarah berdiri di ujung tangga utama dengan bersedekap dada. wanita itu menatap Luna dengan tajam, namun Luna berusaha untuk bersikap tenang.


"pagi nyonya Sarah, apa yang kau lakukan disini" ucap Luna dengan. sesopan mungkin agar tidak memancing wanita iblis di depannya ini. "kau tau kan, jika aku dengan matheo sebentar lagi ingin menikah"


Sarah tampak mengungkit ungkit masalah pernikahan nya dengan matheo. Luna menghela nafasnya dengan pelan. "saya tau,dan apa hubungannya dengan saya" Luna menatap datar kearah Sarah, wanita seksi itu dengan lihai nya memainkan ujung rambut panjang Luna. kemudian ia menatap sinis kearahnya.


"aku peringatkan kamu, sebentar lagi aku akan menjadi istri sahnya matheo, meski kau dan matheo belum menghabiskan waktu kontrak kalian, tapi aku dan matheo akan tetapi segera menikah, jauhi matheo, dan juga kau jangan coba coba mencari perhatian padanya, aku tak Sudi berbagi pria yang aku cintai kepadamu"


"tenang saja nyonya Sarah, aku tidak akan menganggu kemesraan kalian sama sekali, aku disini hanyalah rekan kerja biasa, aku dan matheo sama sama saling menguntungkan, tuan matheo terhindar dari perjodohan dari ibunya dan aku bisa melunasi utang utang ayahku, jadi di antara kami bukan apa apa, dan satu hal, kau tidak berhak untuk menasihati ku untuk sesuatu hal yang tidak penting" setelah mengucapkan itu Luna pergi meninggalkan Sarah yang menatapnya dengan marah.

__ADS_1


"siall, bisa bisanya ia tidak menangis seperti wanita wanita lain" geramnya mencengkram tangannya hingga kuku kuku tajamnya menancap di telapak tangannya.


__ADS_2