Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-9 Ini hukuman bukan jualan.


__ADS_3

Setelah pulang bekerja Nadya mengajak Tica untuk pergi ke taman dekat restoran. Sesampainya di taman mereka berdua duduk di sebuah bangku panjang berwarna hitam. Di taman tersebut ada sebuah danau buatan dan air mancur ditengah-tengah danau.


"Jadi aku sudah sah menjadi istrinya Tic, aku sudah menandatangani surat pernikahan kami kemarin. Aku harus bagaimana Tic, aku tidak punya daya apa-apa untuk melawan penguasa seperti dirinya. Jika dibandingkan aku ini hanya batu kerikil dan dia adalah emas yang berharga. Jika aku melawannya, aku sama saja menghancurkan hidupku sendiri, Tic. Setelah aku pikir matang-matang akhirnya aku memilih untuk menerima pernikahan ini. Toh, dengan begini hidupku juga lebih terjamin. Dia memberiku kehidupan yang baik, ya meskipun tanpa kebahagiaan dan cinta." Ucap Nadya kepada Tica dengan pandangan ke arah danau, seakan dia sedang meratapi nasib hidupnya yang selalu buruk.


Tica yang mendengar curhatan sahabatnya langsung meneteskan air mata. Jika dia bisa, dia ingin sekali ikut menanggung penderitaan yang dialami sahabatnya dan memberikan banyak kebahagiaan untuk temannya. Tapi mau bagaimana dia juga tidak bisa melakukan itu, karena dia bukanlah Tuhan yang bisa mengubah takdir hidup seseorang.


"Kau jangan bersedih, masih ada aku disini. Aku akan selalu ada untuk mendengarkan semua keluh kesahmu. Jangan merasa bahwa kau hanya sendiri menghadapi semua ini, tapi aku juga ikut merasakan apa yang kamu rasakan. Kamu tau Nad, bukan hanya kamu yang mengalami ujian seperti ini. Tapi juga banyak orang diluar sana yang ujiannya jauh lebih berat daripada dirimu. Tetaplah bersyukur atas apa yang kamu miliki karena Tuhan tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya." Tica menjelaskan semua yang mampu dia jelaskan untuk mencoba menenangkan hati temannya itu.


"Terimakasih ya Tic, kamu sudah aku anggap seperti saudariku sendiri." Kata Nadya dan dibalas pelukan oleh Tica. "Begitupun aku, yang sudah menganggapmu seperti saudariku." Sahut Tica. Mereka berdua adalah contoh sahabat yang baik. Yang selalu ada bukan hanya ketika suka tetapi juga ada ketika sahabatnya berada dalam duka. Duka bukanlah suatu keburukan tetapi pelajaran untuk kita, anggaplah itu ujian yang bisa memperkuat iman dan mental kita. Dan ingat akan ada pelangi setelah hujan.


Setelah itu mereka berdua berfoto bersama untuk dijadikan kenang-kenangan selama bekerja, karena mereka sekarang masih memakai seragam kerja.


Cekrek... Cekrek.... Cekrek..


"Aku post di medsos aku ya Nad, kamu like jangan lupa." Kata Tica.


"Kamu tag aku." Nadya meminta Tica untuk menandainya dalam postingan medsos Tica. Dan di angguki oleh Tica.


Cukup lama mereka bercengkrama hingga tak terasa waktu sudah malam. Dan mereka berdua pun berpisah untuk pulang kerumah masing-masing. Tanpa Nadya ketahui bahwa ada yang sedang marah di dalam rumahnya karena menunggu Gadis Kampung yang tidak pulang sedari tadi. Biasanya dia yang ditunggu, tapi apa ini? Sekarang dia yang menunggu, sungguh membuat emosinya naik. Jika bisa dilihat mungkin kepalanya sudah berasap sekarang. Siapa lagi kalau bukan Brydan dan jangan lupakan Dendy di sebelahnya.


"Tenang Tuan, nyonya berada di taman bersama temannya." Entah darimana Dendy tahu bahwa Nadya berada di taman.


"Mungkin sekarang sudah dalam perjalanan pulang, Tuan." Imbuhnya. Dan Brydan langsung meninggalkan Dendy sendirian karena dia langsung berjalan kearah kamarnya.


"Nyonya kecil ini, mempunyai nyali yang tidak terbatas rupanya." Kata Dendy sambil tersenyum tipis.


Setelah taxi yang ditumpangi Nadya sampai di depan pagar, Nadya langsung membayar uang taxi nya dan masuk ke dalam mansion milik suaminya itu.

__ADS_1


"Nyonya, Tuan sudah menunggu Anda. Jangan lakukan ini lagi Nyonya karena Tuan adalah tipe orang yang tidak suka menunggu." Kata Dendy yang berpapasan dengan Nadya di pintu utama. Nadya hanya mengangguk pelan kemudian melangkah masuk ke dalam Mansion dan menuju kamarnya.


Ceklek..


Nadya membuka pintu kamar dengan sangat pelan, dia bermaksud untuk mengendap-endap tapi sayang ternyata si gunung es sedang duduk santai di sofa kamar dengan kaki menyilang.


"Tuan, Anda belum tidur." Ucap Nadya pelan sambil memperhatikan pakaian Brydan yang sudah berganti piyama, sepertinya Pak San yang menyiapkan.


"Duduk." Titah Brydan, Nadya langsung duduk di sofa single. Brydan berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Nadya. Satu tangannya terjulur untuk mencengkeram rahang Nadya Dan satunya lagi bepegangan ke sandaran kursi yang diduduki Nadya agar tidak jatuh. Kepala Nadya otomatis mendongak.


"Kau berani membuat aku menunggu, aku sudah bilang kan padamu kalau kemanapun kau pergi harus atas izinku!" Kata Brydan.


"Tapi kau dengan berani pergi ke taman bersama temanmu tanpa seizin ku!" Imbuhnya.


"Maaf Tuan, saya minta maaf." Ucapnya yang kini sudah memejamkan matanya karena takut Brydan memukulnya.


"Tapi Tuan.."


"2 Minggu."


"Tapi Tuan.."


"3 Minggu."


"Baiklah." Akhirnya Nadya menyerah.


"Jika kau berani menawar hukuman yang aku berikan, aku akan mengikat mu di taman belakang rumah dan membiarkan burung-burung menjatuhkan kotorannya ke kepalamu." Ancan Brydan.

__ADS_1


"Tidak, tidak Tuan, saya terima hukumannya dengan seperangkat keihklasan." Jawab Nadya dengan spontan.


"Ingat kalau ini hukuman bukan jualan yang bisa kau tawar, MENGERTI!" Bentak Brydan.


Kecilkan suara mu itu Tuan, kau bisa menghancurkan gendang telingaku nanti, hadeuh, dasar payah! Batin Nadya.


"Me...Mengerti, Tuan." Sahut Nadya.


Brydan meminta Pak San untuk mengantarkan makan malamnya dan Nadya ke dalam kamar. Dan karena Nadya memang tidak makan dari siang tadi, jadi dia langsung menghabiskan sepiring nasi goreng dalam waktu sekejap. Berbeda dengan Brydan yang selalu makan 3 kali sehari karena ketika siang hari ada Dendy yang selalu mengingatkannya.


Akhirnya setelah melewati drama yang panjang mereka pun mulai terbang ke alam mimpi alias berselancar di pulau kapuk. Haha.


Pagi hari yang indah__


"Emhhhhh.." Seperti biasa Nadya baru terbangun dari tidurnya. Si gunung es memeluknya lagi, heuhh. Nadya pun memindahkannya dengan perlahan karena dia tidak mau membangunkan macan yang sedang tidur.


Selamat. Batinnya setelah berhasil memindahkan tangan dan kaki Brydan ke tempat semula.


Ini kaki orang apa kaki gajah sih, berat banget udah kaya batu beton aja. Batin Nadya. Sambil menggerakkan kedua tangannya, karena jujur tangan kecilnya itu linu setelah mengangkat kaki Brydan.


Nadya membersihkan diri di kamar mandi sembari berendam dengan air dingin, karena jika di pagi hari air dingin lebih segar menurutnya. Setelah menyelesaikan mandinya, dia melihat handphone dan ternyata sekarang hari libur. Jadi Nadya memakai baju santai dan bedak bayinya seperti biasa, sedangkan si gunung es jangan ditanya dia masih bau bantal.


Nadya berjalan ke arah Brydan. Dan melihatnya dari dekat, dia ragu mau membangunkan Brydan atau tidak. Tapi tidak jadi karena sisi positif nya berkata jangan.


Dia tampan sekali kalau sedang tertidur, seperi bayi yang tidak memiliki dosa. Hahaha.


Tapi kalau sudah bangun jadi menyebalkan seperti Kakek lampir.

__ADS_1


Tanpa sadar dia tersenyum sendiri. Tapi dia segera tersadar karena orang yang ditatapnya sudah mulai mengerjapkan matanya.


__ADS_2