
Hari ini adalah akhir pekan. Hari yang ditunggu-tunggu oleh sepasang kekasih untuk jalan berdua. Karena di hari-hari lainnya mereka memiliki kesibukannya masing-masing.
"Sayang, ayo cepat." Dengan tidak sabar, Nadya menarik-narik salah satu tangan Brydan. Ya, hari ini Nadya ingin mengajak Brydan untuk berenang.
Bahkan kemarin Nadya sudah meminta para pelayan untuk membersihkan kolam renang.
Singkat cerita, kemarin Nadya merasa begitu bosan. Fanny yang kini tengah menderita deman, Nadya menyuruhnya untuk istirahat saja. Karena kebosanan tingkat akut yang tengah melanda dirinya, akhirnya Nadya memilih untuk berjalan-jalan mengitari mansion.
Saat berada tepat di halaman sebelah kiri mansion, Nadya menemukan sebuah ruangan yang cukup luas. Dindingnya berlapis kaca. Karena penasaran, akhirnya Nadya mencoba untuk masuk.
Dan betapa senangnya dia, saat melihat sebuah kolam renang terpampang nyata di hadapannya. Ruangan dengan ukuran yang cukup luas. Mungkin kurang lebih cukup untuk 100 orang. Ada sebuah kolam renang yang berukuran 7×5 m dan ada sebuah ruangan khusus untuk tempat perlengkapan berenang dan juga ruang ganti.
Dengan semangat membara, Nadya meminta pelayan untuk membersihkan kolam renang dan juga ruangan itu. Karena ia melihat kolamnya sudah mulai kotor. Mungkin karena lama tidak terpakai.
***
"Kakak ipar mau kemana? Kelihatannya ada yang seru nih. Ed juga mau dong ikutan." Ucap Edward yang melihat Nadya menarik-narik tangan Brydan. Seperti hendak menunjukkan harta karun yang lama terpendam.
Nadya dan Brydan menoleh ke arah Edward. Brydan terlihat sedikit mengangkat alisnya. Bukan apa, jika adiknya hadir, dia pasti akan malu setengah mati. Brydan tidak mau hal itu terjadi, kurcaci nakal itu pasti akan meledek dirinya habis-habisan. Maka dari itu, Brydan menyela ucapan Nadya. Sang istri pasti akan mengizinkan Edward ikut, tetapi Brydan tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Anak kecil tidak usah ikut campur. Ini urusan suami istri." Ujar Brydan dengan memicingkan matanya ke arah Edward. Edward yang melihat penolakan tegas dari sang kakak, langsung heran. Semakin ditolak maka Edward akan semakin penasaran.
"Kenapa sih, Sayang. Ed, kalau mau ikut kamu duluan yah. Ke ruang kaca." Kata Nadya sembari tersenyum tipis ke arah adik iparnya itu.
"Ruang kaca?" Edward masih bertanya-tanya, dia bahkan tidak pernah tahu dimana itu ruang kaca.
"Masa adiknya yang punya mansion masih bingung. Ruang kaca itu kolam renang."
Dan berkat ucapan Nadya barusan, otak licik Edward langsung menangkap sesuatu. Sekarang ia tahu, mengapa sang kakak melarangnya untuk ikut. Sepertinya ini akan seru.
"Wuih, Ed mau ikut, Kak. Ed tunggu disana yah." Edward langsung melangkah untuk ke ruangan yang dimaksud oleh kakak iparnya.
***
"Sudah siap semua?" Kata Nadya yang sudah memulai pemanasan untuk berenang. Brydan dengan ekspresi malasnya dan Edward dengan ekspresi cerianya. Benar-benar kakak beradik langka, haha.
Byurrr, Nadya dan Edward sudah mulai berenang. Tetapi tidak dengan makhluk datar yang kini hanya berdiri diam di kolam renang. Kolamnya memang tidak terlalu dalam, hanya sebatas dagu Brydan.
"Yeayy, aku menang." Ujar Nadya kegirangan, karena dirinya sampai dulu di tepi kolam. Tetapi Nadya heran, kemana sang suami? Edward saja sudah sampai.
"Eh, kakakmu kemana, Ed?"
"Buahaha, kakak masih berdiri di garis start, Kak."
Keduanya kembali untuk menghampiri Brydan.
__ADS_1
"Loh Sayang, kamu kenapa?"
"Ehmm, sebenarnya kakak.."
"Sebenarnya apa, Ed?"
"Sebenarnya kakak itu tidak bisa berenang, Kak." Benar saja, Edward langsung mendapatkan pelototan mata dari Brydan.
"Buahaha..." Nadya dan Edward tertawa dengan lebarnya. Nadya baru mengetahui kalau Sang Penguasa ternyata tidak bisa berenang. Nadya benar-benar dibuat heran dengan sang suami. Sang milyarder ternyata tidak bisa berenang.
Karena tertawa terlalu berlebihan, Nadya dan Edward sampai tidak sadar kalau Brydan sudah pergi dari tempat itu. Brydan keluar dari ruang kaca dengan wajah yang bersungut-sungut karena kesal. Ingin sekali dia mencekik adik kecilnya. Dan juga menghukum istri nakalnya.
"Loh Ed, suamiku kemana?"
"Jangan-jangan, tempat ini sudah lama tidak terpakai, Kak. Apa jangan-jangan?" Belum selesai Edward bicara, tetapi Nadya sudah berseru dengan keras.
"Kaburrr..." Nadya langsung keluar dari kolam dan mengganti bajunya. Begitupun dengan Edward. Kemudian keduanya segera keluar dari ruangan itu.
"Ed, apa di ruangan itu ada hantu?"
"Mana Ed tahu, Kak. Ed mau bilang, Jangan-jangan kakakku marah karena kita mengejeknya." Nadya baru tersadar, akhirnya dengan kekuatan halilintar dia langsung meluncur ke lantai atas untuk menghampiri suaminya.
Aduh habislah aku. Kenapa aku malah mengejeknya sih, pasti dia sedang marah.
***
Akhirnya, setelah menunggu beberapa menit. Yang ditunggu keluar juga dari persembunyiannya.
Ceklek, pintu kamar mandi terbuka. Keluarlah Brydan dengan hanya mengenakan bathrobe. Rambutnya terlihat basah dan masih terdapat bulir-bulir jeruk alias bulir-bulir air di dada berototnya.
"Sayang, sini aku bantu keringkan rambutnya." Nadya mengambil handuk kecil di tangan Brydan. Dia meminta sang suami untuk duduk di sebelahnya. Kemudian dia mulai mengeringkan rambut lebat milik Brydan.
Brydan hanya diam menikmati apa yang tengah istrinya lakukan. Setelah beberapa menit, akhirnya rambut Brydan sudah kering. Dan Nadya hendak mengembalikan handuk ketempat semestinya.
Tetapi Brydan mencekal pergelangan tangannya dan menekannya. Sehingga Nadya kembali terduduk di sofa.
"Sa.. sayang, butuh sesuatu?" Ujar Nadya dengan gugup. Dia sudah tahu arah pembicaraan sang suami. Dia pasti akan mendapat hukuman karena perbuatannya tadi.
"Ya." Jawab Brydan dengan singkat. Kemudian dia menunjuk ke arah kepalanya sendiri. Bermaksud mengkode sesuatu kepada sang istri. Namun sayang Nadya hanya diam, bukan karena tidak mau melainkan karena ia tidak tahu yang suaminya maksud.
"Sudah kering kok, Sayang." Kata Nadya dengan sedikit gugup. Dia membuat suaranya menjadi selembut mungkin, haha.
"Yang bilang basah siapa?" Brydan merengut kesal, karena sang istri tidak juga paham apa yang diinginkannya.
Dia pikir aku anak indigo? Yang bisa membaca pikiran orang lain, begitu. Dasar tukang teki-teka.
__ADS_1
"Aku tidak paham, Sayang."
"Pijat kepalaku!"
Dari tadi kenapa sih? Orang satu ini suka sekali bertele-tele. Pakai kode-kodean apalah itu. Keren tidak, seperti orang bisu iya!
Dan mulailah Nadya memijat kepala Brydan. Nadya menekan-nekan kepala Brydan dengan begitu lembut. Namun tiba-tiba saja Brydan mengajukan protes.
"Kau tidak punya tenaga?"
"Oh, kurang keras ya, Sayang?" Dan Nadya pun menekan kepala Brydan dengan sekuat tenaganya. Hingga sang pemilik kepala menjerit kesakitan.
"Hey! Kau mau melukai kepalaku?"
"Ehh, maaf, Sayang." Nadya mencium rambut Brydan sebagai tanda permintaan maafnya. Dan benar saja, Brydan langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedikit cerah.
Tetapi hanya Brydan sendirilah yang bisa melihat ekspresi itu. Sedangkan Nadya masih tetap duduk di belakang Brydan sembari memijat lembut pelipis Brydan.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah, ayo ramaikan 💖
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
__ADS_1
IG: @cynshindi
Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.