
Sehabis berkebun tadi, Brydan dan Nadya sama-sama membersihkan diri mereka masing-masing. Sebenarnya berkebun bukanlah kegiatan yang melelahkan, tetapi berkebun adalah salah satu kegiatan yang melibatkan tanah. Dan semua orang tau, kalau tanah bisa membawa bakteri jika kita pegang. Karena bagaimanapun tanah itu tetaplah kotor jika disentuh.
Baik Brydan atau Nadya adalah pribadi yang menyukai kebersihan dan akan selalu begitu. Tidak mandi sehabis melakukan kegiatan bisa membawa penyakit untuk tubuh. Jika sudah terserang penyakit, maka bukan hanya kita yang terjangkit, tetapi juga orang terdekat.
Ting ting.
Terdengar suara dentingan sendok dan piring saling bersahutan. Saat ini Nadya dan Brydan tengah makan malam diiringi dengan keheningan. Seusai makan malam, keduanya kembali ke dalam kamar. Duduk bersandar di kepala ranjang, dengan Nadya memijat kecil kaki Brydan.
Tapi tiba-tiba handphone Nadya berdering. Tapi naas, saat Nadya hendak mengambil handphone nya dari atas nakas, gunung es terlebih dahulu mendapatkan benda itu.
"Hanya notifikasi tidak penting." Ujar Brydan setelah melihat handphone istrinya.
"Kau mengunci handphone mu?" Dan diangguki oleh Nadya.
Seakan tahu apa yang diinginkan oleh Brydan, Nadya memberitahu bahwa password nya adalah tanggal lahir dan tahun lahirnya.
Klik.
Suara yang menandakan bahwa handphone Nadya sudah tidak terkunci alias terbuka. Brydan mengotak-atik handphone istrinya, dan akhirnya dia menemukannya.
"Sang Penguasa?" Gumam Brydan tanpa mengalihkan pandangan dari handphone istrinya. Brydan meminta Nadya berhenti dan duduk di sebelahnya.
"Apa ini, kau memberiku nama ini untukku? Apa kau tidak memiliki sisi romantis sebagai istri? Kemarin 'Gunung es' dan sekarang ini?" Tanya Brydan dengan alis yang sedikit menaut.
Nadya hendak mengambil handphone nya kembali dan mengubah nama yang dia berikan untuk Brydan. Tapi Brydan meminta Nadya untuk memberikan handphone nya ke Brydan.
"Berikan!" Titah Brydan, dan dijawab gelengan oleh Nadya.
"Aku adalah Sang Penguasa, kau berani membantahku?" Tanya Brydan, seakan dia adalah penguasa dan istrinya adalah seorang pelayan yang harus mematuhi segala titahnya.
"Dan aku adalah istrinya penguasa." Jawab Nadya dengan lantang, entah dapat dari mana keberanian untuk melawan Brydan.
"Tapi aku bukan siapa-siapa tanpa diriku!" Dan perkataan Brydan kali ini sukses membuat Nadya tersinggung.
"Ya, kau benar. Aku hanyalah seorang pelayan bagimu! Tidak lebih. Dan pelayan ini bukan apa-apa tanpa seorang penguasa seperti dirimu! Asal kau tahu, kalau aku benar-benar sakit hati mendengar kata-katamu!" Ucap Nadya sembari memegang dadanya. Nadya berusaha untuk menahan air matanya agar tidak turun. Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Brydan. Nadya membalikkan tubuhnya memunggungi Brydan. Dia benar-benar tidak suka kepada orang yang suka menghina dan merendahkan orang lain.
"Aku tidak bermaksud menyinggung mu." Ucap Brydan, dia sudah mendapatkan handphone Nadya. Sebenarnya Brydan tidak enak hati kepada Nadya, tapi ego nya masih seluas lautan dan setinggi langit.
Brydan menaruh kembali handphone Nadya ke atas nakas. Kemudian dia membalikkan tubuh Nadya, agar kembali menghadap dirinya. Nadya sudah memberontak, tapi apalah daya. Tubuh Brydan jauh lebih besar dari tubuhnya. Brydan menatap mata Nadya yang kini sudah berkaca-kaca dan tidak mau menatap matanya.
"Aku memang tidak bermaksud menyinggung mu. Demi apapun! Maafkan aku." Hanya itu yang Brydan katakan sebagai kalimat permintaan maafnya untuk sang istri. Dan Nadya sudah tau bahwa sang suami tidak pandai dalam berkata-kata. Dan jangan lupakan ego nya yang seluas Samudera Hindia dan setinggi langit.
"Aku sudah memaafkan kamu." Ujar Nadya dengan suara yang serak, bukan karena menangis. Tapi karena dia sudah mengantuk, dan ingin segera tidur.
__ADS_1
Tidak apa-apa aku ngambek, setidaknya dia bisa menurunkan sedikit ego nya. Sekarang ego nya tidak seluas samudera lagi, mungkin seluas empang ya. Hahaha.
"Biarkan aku tidur!" Ujar Nadya.
"Tidak bisa, Bey! Kau harus melakukan sesuatu untukku. Karena dirimu aku rela berucap kata yang tidak pernah aku ucapkan sebelumnya." Kata Brydan yang sudah menindih tubuh Nadya. Dan dapat dipastikan, Nadya tidak akan bisa mengelak lagi. Karena dia juga seorang istri yang harus melakukan kewajibannya untuk sang suami.
Dan mereka melakukan apa yang dilakukan oleh sepasang suami istri di malam hari. Hingga keduanya lelah dan tertidur dalam posisi saling memeluk dan memberikan kehangatan.
Saat Brydan tengah tertidur, tanpa sengaja dia mendengar suara gertakan gigi. Yang membuat telinganya geli, dan kelopak matanya mulai terbuka. Dia mencari sumber suara itu dan ternyata sumber suara itu berasal dari istrinya di sebelah nya. Entah sejak kapan, pelukannya terlepas dari tubuh istrinya. Dilihatnya sang istri masih memejamkan mata sambil menggertak kan gigi dan tangannya memeluk tubuhnya sendiri.
"Dingin." Ucap Nadya dengan suara lemah.
"Dingin." Nadya kembali mengucapkan kata yang sama. Brydan bingung harus melakukan apa. Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil selimut dari lemari. Jadilah mereka tidur dengan ditutupi dua selimut tebal dan dengan posisi Brydan memeluk istrinya. Tidak lupa, Brydan mematikan AC kamar agar istrinya tidak kedinginan lagi. Lama-kelamaan Nadya sudah mulai tenang, dan terdengar dengkuran halus dari bibirnya.
"Selamat tidur, cantik." Ujar Brydan sembari memberikan kecupan kecil di dahi istrinya. Kemudian dia ikut terlelap bersama sang istri.
____________________ 00 ______________________
Pagi sudah tiba dan pasangan suami istri yang kemarin malam sempat bertengkar itu, kini sudah siap dengan pakaian yang sudah melekat dan harum wangi parfume yang mereka kenakan begitu menyengat. Brydan dan Nadya sudah bersiap untuk turun dan sarapan.
Tap tap tap.
Sekertaris Dendy yang mendengar suara langkah kaki lantas berdiri dari posisi duduknya dan menyapa kedua majikannya.
"Selamat pagi Nyonya, Tuan." Ujar Sekertaris Dendy.
"Selamat pagi Sekertaris Dendy, Pak San." Siapa lagi kalau bukan Nadya yang membalas sapaan itu. Sedangkan Brydan hanya berdehem, dihiasi dengan ekspresi datar di wajahnya.
Seusai sarapan, Nadya mengantar Brydan ke pintu utama mansion.
"Selamat bekerja, Suamiku." Ucap Nadya sembari berjinjit untuk memberikan kecupan kecil di pipi Brydan. Dan dibalas senyuman tipis oleh Brydan.
Di mobil__
"Apa kau tau, Den! Kemarin malam dia sakit."
"Sakit? Tapi tadi Nyonya kecil terlihat ceria, Tuan."
"Dia sudah sembuh, hanya menggigil saja."
"Apa kau tau, dia memberikan aku nama apa di handphone nya?"
"Apa, Tuan?"
__ADS_1
"Kau penasaran ya? Apa itu istilah untuk orang yang suka penasaran dengan urusan orang lain?"
Ishh Tuan ini, padahal kan Anda sendiri yang memberitahuku. Tapi kenapa aku yang dibilang kepo?
"Kepo, Tuan."
"Kau kepo ya?"
"Kemarin dia sempat ngambek, Den. Tapi karena aku pandai merayu, jadi dia tidak jadi ngambek." Ucap Brydan dengan percaya diri.
"Tidak dapat diragukan lagi, Tuan."
Tidak dapat diragukan lagi, kalau Anda memang pandai membuat orang marah.
"Kau mengumpat ku, Den?"
"Saya mana berani, Tuan."
"Bagus."
Kalau saja Anda bukan atasan dan sahabat saya, mungkin sudah saya cubit Anda sekarang juga.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like, komen and votenya yah 🤗
Tinggalin jejak dong, jangan jadi pembaca gelap🤐
Makasih kakak-kakak sayang 😁✨
__ADS_1
kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
IG : @cynshindi