
Pagi yang cerah pun tiba. Waktu untuk Nadya bangun dan menyiapkan segala keperluan sang suami. Ya itulah rutinitas paginya selama menjadi istri Brydan.
Sedangkan Sang Penguasa masih terlihat nyaman memeluk guling dan tetap memejamkan matanya. Mungkin masih berada di alam mimpi nya atau masih berselancar di pulau kapuk.
"Pagi yang indah, lebih baik jika aku mandi terlebih dahulu." Ucap Nadya kepada dirinya sendiri. Kemudian, ia beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi. Kurang lebih 15 menit Nadya berada di dalam kamar mandi.
Nadya memang tidak suka terlalu lama berada di kamar mandi. Biasalah, menurut novel-novel yang ia baca, bahwa kamar mandi itu adalah tempat yang paling banyak makhluk halus nya.
"Make-up tipis sudah, penampilan sudah kece badai, kok aku merasa ada yang kurang yah?" Terlihat istri dari Brydan itu tengah menilik penampilannya pagi ini. Hot pants ala Korea serta t-shirt putih polos melekat indah di tubuh Nadya.
"Ah, hiasan rambut, yah!"
Beberapa hari yang lalu, Nadya memang memesan beberapa hiasan rambut ala Korea. Sepertinya ia sudah kecanduan Korea. Melihat aktris favoritnya mengenakan jepit itu, akhirnya Nadya langsung memesan online. Dan ia juga memberikan beberapa untuk Tica dan juga Fanny.
Nadya sudah selesai merawat dirinya. Saatnya untuk menyiapkan kebutuhan sang suami. Cap cusss!
Sepasang crocodile shoes keluaran terbaru dari brand ternama. Kemeja dan juga Jas yang berharga sepeda motor. Serta celana kerja sang suami yang bahkan bisa untuk dibelikan satu sepeda gunung terbaik. Dan tidak lupa dasi bercorak zebra. Dan satu lagi, jam tangan ratusan juta dari brand ternama di Negeri Paman Sam.
Nadya meletakkan semua outfit suaminya di ruang ganti. Dan saatnya membangunkan pangeran tidur. Dengan perlahan Nadya mendekatkan wajahnya ke wajah Brydan. Mencolek hidung mancung milik pria itu.
"Sayang, ayo bangun." Namun sang suami masih terlihat tenang. Tidak memberikan pergerakan atau pertanda akan segera bangun dari tidurnya.
"Papanya Cemong, Sayangku, Cintaku, ayo bangun, nanti terlambat loh kerjanya." Ujar Nadya dengan memberikan kecupan-kecupan kecil tepat di hidung mancung milik Brydan.
"Hmmmmm, apa kau bilang?" Walaupun berada di alam sadarnya, Brydan masih mendengar yang diucapkan istrinya tadi. Brydan memang masih terlihat belum sepenuhnya sadar.
"Yang mana?" Tanya Naya balik, karena Nadya sudah banyak berbicara sedari tadi.
"Barusan." Singkat padat dan jelas, dengan tidak sabaran Brydan menepuk bahu istrinya. Karena Nadya masih terlihat bengong.
"Ah, Papanya Cemong, Sayang..."
"Stop, jelaskan!" Brydan menyela ucapan istrinya dan meminta Nadya untuk menjelaskan maksud ucapannya barusan. Karena dirinya sama sekali tidak mengerti.
"Kan itu, Sayang. Aku kan sudah mengadopsi Cemong sebagai bagian dari keluargaku. Jadi aku adalah Mamanya dan kamu adalah Papanya. Hehe" Nadya menjelaskan dengan kepala yang tertunduk. Nadya merasa begitu bahagia bisa bertemu dengan Cemong.
"What? Apa kamu gila?" Brydan benar-benar heran dengan tingkah sang istri. Menganggap kucing seperti anaknya sendiri? Brydan saja tidak pernah menganggap burung-burung peliharaannya adalah anaknya sendiri.
"Ya, Sayang. Papanya Cemong, cepetan mandi yah. Aku mau urus Cemong dulu di bawah."
Cup
Kecupan kecil mendarat di pipi sebelah kanan Brydan. Sang Penguasa itu masih terlihat bengong. Bukan apa, sejak kapan dirinya menjadi papa dari kucing peliharaan sang istri. Benar-benar aneh, pikirnya.
__ADS_1
***
Nadya tengah menggendong Cemong dan mengantar suaminya ke pintu utama mansion. Dengan Sekertaris Dendy yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Nadya.
"Selamat bekerja, Papanya Cemong." Ujar Nadya dengan senyuman indahnya. Brydan mengecup kening istrinya dan mengelus rambutnya. Saat Brydan sudah hendak melangkah pergi, Nadya justru mencegah Brydan.
"Sayang, kamu kok nggak nyium Cemong, sih?" Dan benar saja, Brydan langsung membulatkan kedua bola matanya.
Miaauuwww.
Kucing lucu itu seakan hendak turun dari gendongan Nadya. Akhirnya Nadya menurunkannya. Dan Cemong melangkah ke arah Brydan, seraya mengelus-elus kan kepalanya di sepatu Brydan. Brydan hanya bisa tercengang melihat hal itu.
"Digendong, Sayang." Dengan berat hati, Brydan mengangkat kucing lucu itu. Cemong terlihat menyusupkan kepalanya ke dada Brydan. Seakan menunjukkan sikap manjanya.
"Dia betina?" Tanya Brydan. Dan Nadya mengangguk.
Cup, satu kecupan Brydan berikan kepada kucing lucu itu. Kemudian Nadya mengambil alih Cemong. Dan berangkatlah Brydan, alias Papa Cemong menuju ke kantor.
***
"Tuan, apa itu peliharaan baru Nyonya kecil?" Tanya Sekertaris Dendy. Ya, mereka masih di perjalanan menuju kantor ROBSON.DRCTION.
"Ya, kenapa?"
"Nyonya terlihat begitu menyayangi kucing kecil itu, Tuan. Ah, siapa namanya tadi?"
"Oh, maaf kalau saya lancang, Tuan. Kalau Anda adalah Papanya Cemong berarti Nyonya kecil adalah Mamanya Cemong?"
Cetakk.
"Aduhh, sakit." Berkat ucapan Dendy barusan. Ia langsung mendapat hadiah lemparan handphone dari sang atasan. Sungguh miris! Haha.
"Aku bilang diam!" Dan akhirnya Dendy diam juga. Dendy mengembalikan handphone itu kepada Brydan. Kepalanya sudah jadi korban, sepertinya benjol sih.
"Baik, Tuan." Keduanya pun diam dan melanjutkan perjalanan menuju kantor. Brydan hanya menyibukkan dirinya dengan handphone yang tadi sudah menghantam kepala Dendy.
"Den, bagaimana perkembangan wanita itu?" Entah siapa yang Brydan maksud. Tetapi Sekertaris Dendy langsung paham siapa yang dimaksud oleh Brydan.
"Semuanya masih terkendali, Tuan." Jawab Sekertaris Dendy.
"Bagus, kau tahu apa yang harus dilakukan?"
"Pasti, Tuan." Jawab Sekertaris Dendy dengan tegas. Ini yang Brydan suka dari seorang Dendy Faresh. Selain tegas dan disiplin, Dendy juga bisa diandalkan. Sebagai seorang Sekertaris serta asisten pribadi Brydan, tentunya Dendy mengemban banyak beban di pundaknya. Bukan hanya kerja fisik dan otak, tetapi juga dibutuhkan mental yang kuat untuk menjadi bawahan dari Brydan.
__ADS_1
Dendy sendiri sudah tahu bagaimana sikap dan kepribadian Brydan. Jadi, walaupun Brydan mengumpat nya dengan kata-kata kasar, ia tidak pernah merasa sakit hati. Ia bahkan merasa bersalah dan ceroboh apabila tidak berhasil mengerjakan tugas yang diberikan oleh sang atasan.
***
Sesampainya di kantor, Brydan dan Dendy disambut dengan hormat oleh semua staff dan karyawan di sana. Kewibawaan dan kedisiplinan Brydan sebagai CEO memang sudah banyak diketahui.
Begitupun dengan kegalakan dan ketegasan Sekertaris Dendy. Bahkan banyak karyawan yang lebih takut kepada Sekertaris Dendy dibandingkan kepada Brydan.
"Den, apa jadwalku hari ini?" Tanya Brydan yang sudah duduk manis di kursi kebesarannya.
"Hanya ada satu pertemuan dengan perusahaan yang mengiklankan produk baru dari perusahaan kita, Tuan." Kata Sekertaris Dendy. Perusahaan Brydan memang melaunching beberapa produk makanan dan juga pakaian beberapa hari lalu.
Perusahaan yang bergerak di berbagai bidang itu benar-benar perusahaan raksasa yang menghasilkan jutaan dolar dalam waktu sekejap. Jelas saja jika harta yang dimiliki Brydan bukan main-main jumlahnya.
"Kau boleh kembali." Dan Dendy pun pamit untuk kembali ke ruangannya yang tidak jauh dari ruangan Brydan.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah, ayo ramaikan 💖
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
__ADS_1
IG : @cynshindi
Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.