
Perseteruan antara sepasang suami istri masih tetap berlanjut. Dimana sang suami lah yang lebih mendominasi, membentak sang istri dengan volume suara yang begitu keras. Dan sang istri hanya bisa tertunduk pasrah. Ribuan kali Nadya sudah mengucapkan kata maaf, namun nihil.
Kata maaf tidak bisa membuat kemarahan Brydan mereda. Hingga Nadya akhirnya menyerah. Emosinya juga mulai terpancing, bagaimanapun juga dia hanyalah manusia biasa yang kesabarannya memiliki batas.
"Berhenti! Kau selalu saja marah dan menyalahkan aku! Aku hanya berteman, tidak lebih! Kau terlalu EGOIS, aku peringatkan jangan sampai keegoisan mu menghancurkan dirimu sendiri. Aku hanya manusia biasa yang kesabarannya juga memiliki batas. Jika batasnya telah terlampaui aku pasti akan memberontak!" Nadya sudah benar-benar jenuh menghadapi sikap Brydan yang begitu egois menurutnya. Hingga menyebabkan sang istri memiliki alasan untuk melawan suaminya.
"Berani kau." Brydan mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Dia mencengkram rahang Nadya dengan keras. Hingga istrinya lagi-lagi mengeluarkan buliran air bening dari kelopak matanya.
"Sakit!" Lirih Nadya dengan suara yang amat pelan. Mendengar rintihan sang istri, akhirnya hatinya sedikit tergugah, dia melepaskan cengkeramannya.
"Aku berani bersumpah, seumur hidup ini tidak akan pernah berkhianat." Kini Nadya mulai mencoba untuk sedikit menggugah hati suaminya. Karena dia tahu, hati Brydan tidak sekeji itu. Buktinya tadi Brydan langsung melepaskan cengkeramannya saat Nadya merintih sakit.
"Apa ucapanmu bisa dipercaya?" Brydan adalah orang yang tidak mudah mempercayai orang lain tanpa adanya bukti. Dan itu berlaku kepada semua orang, termasuk istrinya.
"Aku harus apa supaya kau percaya?" Nadya mulai beranjak dari ranjang, dia mendekat ke arah Brydan. Nadya berani mendekat, karena Brydan sudah sedikit lebih tenang.
"Berikan handphone mu!" Titah Brydan. Dia masih ingin menyelidiki lebih dalam. Mencari kebenaran bahwa sang istri tidak membohongi dirinya.
Nadya memberikan handphone nya kepada Brydan. Tidak tahu apa yang Brydan cari, tetapi yang jelas dia sedang mengotak-atik handphone istrinya.
Kling.
Kebetulan handphone Nadya berbunyi, Brydan langsung melihat siapa yang mengirim pesan. Tidak ada angin tidak ada hujan, mimik wajah sang suami yang sebelumnya datar, kini mulai berubah. Alisnya menyatu disertai dengan gertakan gigi.
"Jelaskan!" Brydan memperlihatkan kepada Nadya apa yang telah dirinya lihat. Brydan bahkan mencengkeram handphone Nadya dengan keras hingga telapak tangannya memutih.
"APA INI YANG KAU SEBUT BERTEMAN!" Bentakan yang tadinya sudah tidak terdengar lagi, kembali menggema di seluruh ruangan. Brydan kembali mencengkeram kedua lengan Nadya. Sudah dipastikan lengan Nadya akan memerah setelah Brydan melepaskan cengkeramannya.
"Apa berpelukan dengan pria lain, itu yang kau sebut berteman? Apa kau sadar, kau adalah hakku, kau milikku, dan hanya aku. JIKA ADA YANG BERANI MENYENTUHMU, BUKAN HANYA KAU! MAKA SEKARANG JUGA ORANG ITU AKAN LENYAP!" Telinga Nadya sampai berdenyut linu mendengar suara keras yang keluar dari bibi Brydan.
Mendengar ucapan terakhir sang suami, wanita berhati malaikat itu langsung terduduk lemas di lantai. Nadya tidak mau hanya karena kesalahannya, orang lain menjadi korban. Dia tidak mau memberikan kesengsaraan untuk orang lain.
__ADS_1
Cukup dia yang merasakan jangan teman-temannya juga. Nadya sama sekali tidak menyangka sang suami akan tega melakukan hal keji seperti ini. Hanya karena dirinya disentuh oleh teman pria nya.
Nadya menangis sejadinya, kali ini dia tidak lagi menahan tangisannya. Dia histeris, biar saja walaupun dia dibilang cengeng. Nadya adalah wanita berhati baik, dia bahkan tidak tega melihat seseorang sedikit kesusahan. Walaupun dia tidak mengenal orang itu, tetapi baginya sebagai manusia haruslah memiliki rasa empati terhadap yang lainnya.
Bayangkan saja jika melihat orang lain saja dia tidak tega, lalu bagaimana jika itu terjadi pada temannya sendiri? Dia tidak bisa membayangkan hal itu.
Nadya memeluk kaki, tepatnya di bagian betis sang suami. Dia memohon agar temannya tidak di hukum. Dia rela mengakui semua kesalahan yang bahkan tidak dia perbuat.
"Aku mohon jangan lakukan ini. Aku yang bersalah. Hiks... hiks... hiks.. Hukumlah aku, tapi jangan teman-temanku. Biarkan aku yang menanggung semuanya." Nadya sampai sesak nafas saking lamanya menangis. Dan hal itu sedikit memunculkan rasa iba di hati Brydan.
"Apa jaminannya jika kau tidak akan mengulanginya lagi?" Brydan menatap lurus ke depan, karena jika dia menatap istrinya. Dapat dipastikan dia pasti akan langsung memeluk istrinya.
"Kau boleh melakukan apa saja, jika aku sampai melanggar ucapan ku."
"Bangun! Sebagai hukuman untuk kesalahan yang kau perbuat, kau aku larang bertemu siapapun kecuali diriku selama satu minggu penuh. Kecuali Pak San yang sedang mengantar makanan!" Nadya sudah menduga, bahwa Brydan tidak akan semudah itu memaafkan kesalahannya.
Tapi tiba-tiba Nadya teringat seseorang yang juga bernasib sama seperti dirinya. FANNY! Bagaimana keadaan Fanny? Dia harus memastikan bahwa Fanny baik-baik saja. Dia tidak boleh membiarkan Sekertaris Dendy memberikan hukuman berat untuk Fanny.
"NADYA! Rupanya kau masih mau dihukum yah?" Brydan menggendong tubuh istrinya dan membaringkan tubuh istrinya di ranjang.
Dia melakukan kewajibannya sebagai suami dan sang istri tidak akan berani menolaknya. Jangankan menolak, Nadya saja sekarang sedang memikirkan, bagaimana caranya supaya suaminya bisa mengampuni Fanny. Mereka berdua sedang sibuk dengan acaranya sendiri. Tepatnya Brydan yang sedang sibuk, karena Nadya masih melamun. Bukan melamun tentang apa, melainkan tentang nasib sang bodyguard setelah bertemu Brydan nanti.
Sudah dipastikan Brydan akan memaki dan membentak Fanny habis-habisan. Khawatirnya mental Fanny tidak kuat. Bagaimana kalau dia menjadi gila? Bagaimana kalau dia menyakiti dirinya sendiri? Nadya tidak tahu saja kalau yang sedang dia cemaskan, malah asyik menyantap sandwich bersama Sekertaris Dendy di depan pintu kamarnya.
Karena Fanny memohon, membuat Sekertaris Dendy tidak tega. Sebenarnya dia tidak sekejam itu.
"Jangan makan sandwich terus! Pikirkan nasibmu setelah ini! Kau pasti akan dijadikan daging cincang oleh Tuan Brydan!" Itulah peringatan Sekertaris Dendy yang membuat Fanny langsung melahap habis sandwich nya. Dan menelannya bulat-bulat.
"Air." Gumam Fanny, dia menyesal tidak mengunyah terlebih dahulu. Karena memikirkan nasibnya, dia jadi tidak konsentrasi makan.
"Dasar bodoh, itu sandwich bukan air yang bisa kau telan bulat-bulat." Kata Sekertaris Dendy sambil menoyor kepala Fanny.
__ADS_1
Fanny meneguk habis air yang diberikan oleh Sekertaris Dendy. Bukan karena apa, melainkan karena jantungnya seakan-akan ingin lompat dari tempatnya. Mereka sudah satu jam lebih menunggu di depan kamar tuannya. Tapi sang pemilik kamar tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Kemanakah gerangan? Apa yang terjadi di dalam? Tapi lebih baik diam dan tunggu sampai tuannya keluar dengan sendirinya. Karena mengetuk pintu, sama saja dengan memasukkan diri ke dalam kandang Harimau.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
IG : @cynshindi
nanti bakalan ada info perihal novel ini kok di sana.
__ADS_1