
____________________ 00 ______________________
"Selamat bekerja, Sayang." Nadya tengah mengantar keberangkatan suaminya untuk bekerja. Sekertaris Dendy selalu saja merasa senang jika melihat tuannya diperlakukan dengan romantis oleh Nadya. Dia tahu betapa dulu perjuangan tuannya untuk mencapai titik ini.
Brydan mengecup singkat dahi Nadya.
"Jaga istriku, Fan!" Ucapnya kepada Fanny yang berada di belakang Nadya.
"Pasti, Tuan." Sahut Fanny dengan lantang dan tegas.
***
"Den, bagaimana kerja sama dengan Mr.Ricko?" Tanya Brydan di perjalanan menuju kantor.
"Berjalan dengan semestinya, Tuan?" Jawab Dendy sambil tetap mengemudi.
"Bagus, terus pantau." Kata Brydan
"Baik, Tuan." Jawab Dendy.
"Den, kenapa aku merasa akan ada hal aneh setelah kita pulang nanti?" Entah kenapa Brydan merasakan akan ada sesuatu aneh yang tejadi pada dirinya nanti.
"Saya akan selalu ada, Tuan." Dendy tidak akan membiarkan tuannya terjerat dalam pemikiran anehnya. Dendy akan selalu ada di samping Brydan, bersedia untuk membantu tuannya. Kapan saja dan dimana saja. Tuannya memang kerap kali mendapat firasat mengenai kejadian yang akan menimpa dirinya.
"Aku tahu itu, Den!" Brydan memang kerap kali mendapat firasat seperti ini. Dan dia bisa memastikan, Dendy akan selalu berada di sisi nya. Bahkan Dendy rela tidak tidur demi menjaga Brydan. Entah mantra apa yang Brydan berikan sehingga bisa membuat seorang Dendy Faresh begitu menjaganya dan mematuhi titahnya.
"Tuan, apa nyonya kecil akan berulah lagi? Atau tuan kecil?" Dendy mencoba menerawang siapa yang akan menjadi pembuat ulah alias biang kerok di kejadian akan datang.
"Kita lihat nanti, Den." Brydan tidak ingin menerka-nerka atau berprasangka buruk kepada siapapun.
"Tentu, Tuan."
***
"Pelan-pelan, Nyonya." Ujar Fanny yang melihat Nadya makan dengan tergesa-gesa.
Nadya memang tidak sempat sarapan tadi pagi. Dia bangun kesiangan, Brydan yang bangun terlebih dahulu. Tapi dia sungguh kesal kepada sang suami. Jika Nadya yang bangun dulu, dia pasti akan membangunkan Brydan. Tapi kenapa jika sang suami yang bangun dulu, tidak membangunkan dirinya? Apa begitu sulitnya membangunkan Nadya?
Nadya memandang makanan dihadapannya seakan-akan sedang memandang Brydan. Hingga jadilah makanan yang menjadi pelampiasannya. Dia memakan makanan itu seolah-olah tengah menerkam wajah Brydan.
"Simpan saran mu untuk nanti, Fan." Nadya berbica dengan mulut yang penuh dengan makanan. Saat ini dia sedang kelaparan, jadi tidak bisa mencerna ucapan sipapun dengan baik. Dan Fanny hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Nadya yang satu ini.
"Uhukkk, uhukkk. Air!" Kan benar apa yang dibilang Fanny. Karena makan tergesa-gesa Nadya sampai tersedak. Dengan sigap Fanny langsung memberikan air putih kepada Nadya.
"Heuhh, hampir saja aku mati tersedak." Ucap Nadya bernafas lega.
Fanny tidak lagi berkomentar, karena dia sudah memberi saran tadi. Tapi sayangnya Nadya tidak mendengarkan.
"Pak San tolong dibawa ke belakang ya." Ujar Nadya dengan sopan. Walaupun Pak San hanya seorang pelayan, tetapi beliau jauh lebih tua dari Nadya. Dan kita harus menghormati orang yang lebih tua.
"Baik, Nyonya." Sahut Pak San.
***
__ADS_1
"Maaf, apa benar ini rumah Nona Nadya?" Kata seorang kurir di depan gerbang.
"Ya, anda siapa?" Sahut penjaga keamanan alias satpam.
"Saya kurir yang mengantar pesanan Nona Nadya." Ujar kurir sambil memberikan sebuah paket.
"Akan saya sampaikan, terimakasih." Sahut Pak satpam.
***
"Pak San, ini ada paket, katanya pesanan milik Nyonya."
"Baiklah, sudah kalian periksa?"
"Sudah, Pak."
***
Pak San menghampiri Nadya yang kini tengah duduk santai di tepi kolam. Di halaman belakang. Bersama Fanny dibelakang Nadya.
"Fanny, ini untuk Nyonya." Ujar Pak San.
"Baiklah, terimakasih."
"Fan, apa itu pesanan ku kemarin?" Dan di angguki oleh Fanny.
"Berikan, Fan." Nadya menerimanya dengan antusias.
"Ayo unboxing." Ujar Nadya sambil melangkah masuk ke dalam mansion.
Nadya mulai membuka paket yang kemarin dipesannya. Dengan hati-hati tapi pasti Nadya mulai melihat isinya. Dan maniknya langsung berbinar saat melihat isi dalamnya.
Ini pas banget ukuran aku sama dia. Wuih, cocok nih.
"Fan, bagus kan?" Ujar Nadya sambil menunjukkan sepasang piyama bercorak Zebra.
"Bagus, Nyonya." Sahut Fanny.
Masalah sedang on the way. Batin Fanny.
***
Hari sudah menjelang malam. Hari ini Brydan pulang sedikit terlambat dari biasanya. Brydan tengah membersihkan diri, baru saja dia pulang bekerja. Nadya sudah tidak sabar ingin melihat Brydan memakai piyama bercorak Zebra yang dia beli kemarin.
Dia pasti sangat cute!
Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan dari ruang ganti.
"Nadyaaa. Piyama apa ini?" Brydan menatap aneh piyama yang sedang dipegangnya itu.
"Jika kau tidak memakainya, berarti kau tidak menghargai diriku!" Terpaksa Nadya mengancam Brydan. Karena dia tahu sang suami tidak akan mau memakai piyama itu jika tanpa ancaman.
Selang beberapa menit, Brydan keluar dari ruang ganti dengan ekspresi datar. Dia benar-benar jijik melihat piyama bercorak Zebra itu. Bukan hanya kekanakan tapi juga sangat norak menurutnya.
__ADS_1
"Ishhhh, kamu lucu sekali." Ucap Nadya sambil mencubit kedua pipi Brydan. Sedangkan yang dicubit hanya diam saja.
"Kita couple, Sayang." Imbuh Nadya sembari memutar badannya agar Brydan melihat piyama yang sedang dipakainya.
"Ayo, Sayang." Nadya sudah menarik tangan Brydan hendak turun untuk makan malam. Tetapi yang ditarik tetap diam seperti manekin.
"Bey, gerai rambutmu!" Titah Brydan.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Nadya, karena biasanya Brydan tidak akan masalah dengan ini. Nadya juga sering mengikat rambutnya seperti ekor kuda. Kadang dia juga mencepol rambutnya ke atas. Atau bahkan mengepang rambutnya menjadi dua.
"Di luar ada Dendy." Jawab Brydan.
Nadya sukses menganga, bagaimana Brydan bisa tahu? Bukankah tadi Sekertaris Dendy sudah pulang. Sekertaris Dendy bahkan pamit kepada Nadya untuk pulang ke apartment nya. Nadya segera menggerai rambut panjangnya. Dan ketika dia membuka pintu kamar, betapa kagetnya dia saat apa yang dikatakan suaminya itu benar adanya. Ada sosok Sekertaris Dendy tepat berada di depan pintu.
"Tuan baik-baik saja kan, Nyonya?" Blass. Nadya begitu terharu. Tadi Brydan memang sempat bercerita kepada Nadya. Bahwa dia memiliki firasat akan ada hal aneh yang akan segera terjadi. Dan Sekertaris Dendy bilang kepada Nadya. Bahwa dia akan selalu berada di sisi tuannya. Dan Sekertaris Dendy membuktikan itu!
"Ba.. baik kok." Nadya masih terlihat sedikit menganga. Darimana Brydan merekrut sekertaris seperti ini? Pikir Nadya.
"Benar apa kataku?" Tiba-tiba saja Brydan muncul di belakang Nadya. Dan Sekertaris Dendy yang melihat piyama aneh yang tengah dipakai oleh tuannya langsung menggigit bibir bawahnya. Bukan apa, tapi dia sudah tidak tahan mau tertawa.
"Piyama kami bagus kan, Sekertaris Dendy?" Tanya Nadya sambil mensejajarkan posisinya dengan Brydan. Dan seketika itu Sekertaris Dendy langsung tertawa terbahak-bahak.
Dia bahkan tahu kalau Brydan tidak suka hal apapun yang berbau kekanak-kanakan. Bahkan Brydan tidak suka jika dikatai lucu. Dia akan langsung memasang wajah datarnya.
"DEN!" Mendengar sentakan keras dari Brydan, Sekertaris Dendy langsung terdiam. Dan kembali menundukkan kepalanya.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
oh ya, btw hari ini othor birthday guysss, hehe😁
kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
__ADS_1
IG: @cynshindi
nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana🤗