Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-6 Si Gunung es dan Si Penguntit!


__ADS_3

"Cepat tandatangan atau sebentar lagi akan ada polisi di kantor ini." Ancam Brydan. Seketika tubuh Nadya langsung gemetar tanpa pikir panjang, Nadya langsung melakukan apa yang disuruh oleh Brydan.


"Ba.. baik, Tuan." Sahut Nadya.


"Den, segera urus semuanya, dalam waktu 14 hari semuanya sudah harus selesai!" Titah Brydan pada Dendy.


"Baik, Tuan." Sahut Dendy.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Ucap Nadya yang sudah berdiri dari duduknya hendak melangkah keluar ruangan Brydan.


"Nona setelah buku nikahnya jadi, saya akan memanggil Anda kesini untuk tandatangan dan setelah itu Anda sah menjadi istri Tuan Brydan." Kata Dendy kepada Nadya yang hendak pergi.


Apa? Memangnya dia dapat dari mana semua surat pribadiku, dari tadi dia sama sekali tidak menanyakannya padaku. Apa dia sudah punya ya? Menyebalkan! Batin Nadya.


"Apa tidak perlu membawa surat pribadi saya, Tuan?" Tanya Nadya.


"Sudah ada ditangan saya, Nona." Sahut Dendy dengan santai.


Apa? Dasar penguntit! Batin Nadya.


Karena sudah tidak ada kepentingan, Nadya pun keluar dari ruangan Brydan, dan berjalan keluar dari kantor Sang Penguasa itu. Setelah dia membawa motornya untuk keluar dari area perkantoran milik Brydan, Nadya mulai mengutuki Brydan dan sekertaris penguntit itu. Nadya menyebut Dendy dengan sebutan sekertaris penguntit karena dia sudah tau banyak tanpa bertanya apapun kepada Nadya.


Dasar sekertaris penguntit, atasannya sudah seperti gunung es saja, ingin rasanya aku taruh mereka berdua di atas api pembakaran sampah. Supaya es yang ada di dalam tubuh dan pikirannya itu meleleh. Batin Nadya.

__ADS_1


Setelah sampai di kontrakan Nadya pun mengistirahatkan tubuhnya dengan tiduran di atas ranjangnya dan mulai berpikir. Bagaimana kehidupannya nanti setelah menjadi istri si gunung es? Apakah dia akan bahagia? Apakah dia akan selalu diperlakukan dengan baik? Atau sebaliknya, itulah yang dipikirkan Nadya. Karena terus berpikir hingga membuatnya lelah dan tertidur dengan sendirinya.


Romeo take me somewhere we can.....


Drrtttt.... Drrtttt... Drrtttt...


Saat sedang enak-enaknya tidur tiba-tiba nada dering handphone Nadya berbunyi disertai bunyi getaran. Yang menandakan bahwa ada yang menelfon dirinya. Nadya pun mengerjapkan matanya dan meraba ke samping bantal untuk mencari benda pipih tersebut. Tertulis nama 'Tica Love' di benda pipih tersebut. Nadya pun memencet tombol hijau untuk merespon panggilan Tica.


Di sambungan Telfon.


"Hallo Nad, kamu baik-baik saja kan? Pria itu tidak melukaimu kan?" Tanya Tica yang sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.


"Hy Tic, Aku baik-baik saja kok, dia tidak melukai aku. Hanya saja..." Ucapan Nadya langsung terhenti karena dia begitu sedih dengan nasib hidupnya kali ini. Dipertemukan dengan seorang pria yang tidak berperasaan seperti Brydan.


"Datanglah kerumah Tic, aku butuh teman untuk curhat." Kata Nadya. Karena sekarang dia benar-benar membutuhkan Tica untuk meluapkan segala kesedihannya.


"Baiklah, aku siap-siap dulu, aku matikan ya." Jawab Tica, kemudian langsung mematikan sambungan telfon dengan Nadya.


"Astaga, ini sudah sore tapi aku masih belum mandi. Aku mandi dulu saja sebelum Tica datang, nanti aku dikatain bau jeruk lagi sama dia." Ucap Nadya kepada dirinya sendiri, kemudian dia langsung beranjak dari tempat tidur untuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.


20 menit kemudian dia sudah rapi dan wangi, dia membersihkan kontrakannya agar Tica merasa nyaman. Karena bagaimanapun Tica juga adalah tamu. Selesai membersihkan kontrakan, tiba-tiba ada ketukan pintu dan dapat dipastikan kalau itu Tica. Karena Tica memiliki suara delapan oktaf saat memanggil nama Nadya. Nadya membuka pintu dan menyuruh Tica masuk.


"Ayo Tic ke kamar aku saja." Ajak Nadya. Kemudian mereka berjalan menuju kamar Nadya yang tidak jauh dari ruang tamu.

__ADS_1


Mereka berdua duduk di bibir ranjang, Nadya langsung memeluk Tica dengan erat sambil menghela nafas berat. Saat ini dia benar-benar terjebak dalam permainan Tuan Gunung es.


"Kamu tau Tic, untuk menebus kesalahan yang aku perbuat, pria itu menyuruhku untuk bersedia menjadi istrinya. Aku tidak tahu apa alasannya sehingga dia mau menjadikan aku sebagai istrinya. Bahkan dia tau semua tentang aku, sedangkan aku sama sekali tidak mengenalnya. Tetapi dia mengancam akan melaporkan aku jika aku tidak menerimanya, kamu tau kan Tic dia itu siapa. Aku punya daya apa untuk melawannya, dengan mudah dia bisa saja menghancurkan aku jika aku tidak menerimanya." Nadya sudah sedikit meneteskan air mata ketika berbicara panjang lebar kepada Tica. Namun ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak menetes. Ia tidak mau membuat Tica semakin cemas.


Tica yang merasa kasihan terhadap sahabatnya itu langsung mengusap lembut punggung Nadya. " Sudah lah Nad tidak usah menangis, mungkin dia adalah jodoh dari Tuhan untukmu. Siapa tahu dia bisa membahagiakanmu kelak, kamu harus tahu bahwa akan ada pelangi setelah hujan." Itulah yang dikatakan Tica untuk menenangkan sahabatnya itu.


Nadya melepaskan pelukannya terhadap Tica dan menghapus air matanya. "Terimakasih ya Tic, aku bahagia punya sahabat seperti kamu yang selalu bisa mengerti aku." Ucap Nadya kepada Tica sambil tersenyum. Setidaknya sekarang dia sudah punya Tica sebagai tempatnya untuk berbagi.


"Kamu nginap saja disini Tic, sebentar lagi sudah malam. Aku takut kamu kenapa-kenapa kalau berkendara sendirian di malam hari." Kata Nadya kepada Tica.


"Baiklah, aku akan menginap kebetulan aku udah membawa peralatan make-up. Tapi aku tidak membawa seragam kerjaku, Nad." Sahut Tica.


"Kalau aku memang tidak terlalu suka make-up jadi aku tidak punya selain lisptick dan bedak bayi. Kalau soal seragam kamu tenang saja, aku punya dua kok." Kata Nadya. Badan Nadya dan Tica memang tidak terlalu jauh bedanya, hanya Tica sedikit lebih tinggi.


"Eh eh, tunggu tunggu Nad. Aku seperti pernah bertemu dengan Tuan Brydan itu, tapi dimana ya?" Tanya Tica karena dia merasa pernah melihat wajah Brydan sebelumnya.


Nadya pun berfikir keras dimana dia pernah bertemu Brydan sebelum di mall waktu itu. Dan, ''Aku ingat, dia kan orang yang datang bersama kekasihnya di restoran dan dia juga orang yang memarahi aku karena selai yang aku bawa sedikit tumpah mengenai jam tangan kekasihnya." Ucap Nadya sambil menjentikkan jarinya. Dan langsung diiyakan oleh Tica.


"Kok kita baru sadar yah?" Heran Tica.


"Aku tidak terpikir ke arah sana kalau saja kamu tidak mengingatkan aku." Sahut Nadya.


"Bukankah dia sudah punya seorang kekasih, lalu untuk apa dia memintamu menjadi istrinya? Apa dia sudah tidak waras? Atau dia sudah putus dengan kekasihnya, tapi tidak mungkin. Kamu tau sendiri kan bagaimana marahnya dia saat kamu tidak sengaja menumpahkan selai ke tangan kekasihnya." Ucap Tica. Tica heran bagaimana jalan pikiran pria yang dijuluki 'Sang Penguasa' itu, sudah punya kekasih tapi mau menikahi wanita lain?

__ADS_1


__ADS_2