Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-10 Aku akan membuat wajahmu GOSONG.


__ADS_3

Tanpa sadar dia tersenyum sendiri. Tapi dia segera tersadar karena orang yang ditatapnya sudah mulai mengerjakan matanya. Dan Brydan mulai menggeliatkan tubuhnya pertanda bahwa dia akan segera bangun. Nadya pun mengambil air putih untuk suaminya itu, karena kebiasaan Brydan yang baru Nadya ketahui adalah meminum segelas air putih campur sedikit lemon saat bangun tidur di pagi hari.


"Ini Tuan air putih dan sedikit lemon." Kata Nadya sambil memberikan segelas air untuk Brydan.


"Hmmm." Sahut Brydan.


"Kenapa baunya seperti bau bayi, apa ada bayi di mansion ku?" Tanya Brydan yang merasa dirinya mencium aroma bayi.


"Hehe, saya kan memang suka memakai bedak bayi, Tuan." Jawab Nadya cengengesan.


"Ha? Kau ini memang GaKam ya." Ujar Brydan. Dia merasa aneh dengan gadis satu ini. Jika wanita pada umumnya suka memakai bedak kecantikan, tapi wanita ini justru memakai bedak bayi. Sungguh langka.


"Owh ya, Tuan air mandinya sudah disiapkan oleh Pak San tadi." Kata Nadya.


"Dan baju olahraganya sudah ada di ruang ganti." Imbuhnya.


Karena tadi Pak San sempat memberitahu Nadya. Bahwa Brydan suka berolahraga di hari libur. Jadi Nadya langsung menyiapkan baju olahraga untuk suaminya itu.


"Awas, aku mau mandi." Ucap Brydan dan Nadya pun menyingkir dari posisinya.


Saat Brydan sudah masuk ke dalam kamar mandi, Nadya langsung keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur.


"Selamat pagi, Nyonya." Sapa para pelayan yang berada di dapur.


"Sebentar lagi masakannya akan siap, Nyonya." Ucap kokinya yang terlihat sedang menyiapkan bahan untuk dimasak. Tidak tanggung-tanggung Brydan bahkan mempekerjakan seorang koki ternama untuk memasak di rumahnya, bahkan pelayan di rumah itu jumlahnya lumayan banyak dan memiliki tugasnya masing-masing.


"Pagi, aku ingin memasak hari ini, jadi biarkan aku saja." Ujar Nadya.


"Biar saya saja, Nyonya." Sahut koki.


"Biar aku saja, aku mohon kali ini saja." Ucap Nadya dengan mata puppy nya yang membuat koki jadi merasa tidak enak.


"Nyonya jangan memohon seperti itu, disini Anda adalah istri dari Tuan Brydan. Jadi Anda tidak pantas berkata seperti itu, Nyonya." Kata koki.


Setelah koki pergi, Nadya pun mulai memasak. Pagi ini dia memasak sayur sop dengan ayam goreng. Dia sungguh lihai dalam memasak, mungkin karena sudah terbiasa ya. Pelayan yang melihatnya pun sama sekali tidak menyangka bahwa seorang Nyonya Brydan Robson bisa memasak dengan begitu lihai. Mereka kira nyonya hanyalah bisa bermanja dengan suaminya. Sungguh langka, sudah cantik, pintar memasak, baik lagi. Mereka sangat senang bisa mengenal nyonya nya itu.


Nadya menyajikan semua masakannya setelah selesai memasak. Dia langsung menaruhnya di meja makan, dibantu oleh para pelayan.


"Dimana Tuan?" Tanya Nadya pada salah satu pelayan.


"Tadi saya melihat Tuan sedang berolahraga di lantai atas, Nyonya." Sahut pelayan itu.


Nadya pun menghampiri Brydan ke lantai atas. Dia mengedarkan pandangannya tetapi dia tidak melihat siapapun. Nadya berjalan kembali ke kamar, mungkin Brydan sedang mandi, pikirnya. Dan benar saja setelah sampai di kamar dia mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Dan sudah ada baju santai di bibir ranjang, siapa lagi kalau bukan Pak San yang menyiapkannya.


Brydan keluar dari kamar mandi dan memakai baju santainya. Dia melihat Nadya sedang bermain handphone di bibir ranjang sambil membelakanginya.


"Ehmm, Tuan mau langsung makan atau istirahat dulu?" Tanya Nadya.


"Aku mau makan." Sahut Brydan.


Dan mereka pun turun bersama ke meja makan. Saat sedang menikmati makanannya Brydan merasa ada yang berbeda dari masakannya. Rasa masakannya tidak seperti biasanya, yang ini lebih enak.


"Siapa yang memasak makanan ini?" Tanya Brydan.


"Saya Tuan." Sahut Nadya.


"Kau memasak tanpa izin padaku, jika kau melakukannya lagi, maka aku akan buat wajahmu gosong bersama masakanmu, MENGERTI!" Kata Brydan.


Ishh aku berharap apa sih, tidak mungkin si gunung es ini memuji masakan ku kan? Batin Nadya


"Iya Tuan." Sahutnya kemudian kembali melanjutkan makannya.


"Lagi, isi lagi makanannya." Tiba-tiba saja Brydan menyerahkan piring yang sudah kosong ke Nadya dan meminta Nadya untuk mengisi lagi. Nadya dan para pelayan yang melihatnya sukses dibuat heran. Tidak biasanya Brydan mau menambah makanan, karena dia adalah orang yang memiliki gaya hidup sehat, jadi dia sangat menjaga porsi makannya agar bentuk tubuhnya tetap terjaga.


Katanya aku tidak boleh memasak lagi, itu artinya dia tidak menyukai masakanku kan? Tapi apa, dia malah minta tambah, dasar gunung es gengsinya selautan pasir.


Nadya langsung mengambilkan makanan lagi untuk Brydan dan Brydan kembali memakan makanan enak di depannya.


Kau lapar atau doyan, Hahaha rasakan kau termakan ucapanmu sendiri kan? Makanya jangan sembarangan mengatai masakanku tidak enak.


Setelah selesai makan Brydan langsung keruang kerjanya. Dan Nadya kembali ke kamarnya.


Kesempatan tidak ada orangnya, aku injak saja bantalnya.


Nadya menginjak-nginjak bantal Brydan saking kesalnya pada pria itu. Dia tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang melihatnya melalui cctv.


"Dasar Gadis Bodoh, beraninya dia." Ucap Brydan sambil tersenyum tipis. Dia heran dengan gadis satu ini, menginjak bantal untuk meluapkan emosinya. Sungguh aneh.


"Aku akan copy rekaman cctv ini untuk menakutinya." Ucap Brydan sambil tersenyum miring. Tiba-tiba saja ide jahil terbesit di kepalanya.

__ADS_1


Brydan keluar dari ruang kerjanya dan melangkah menuju kamarnya sambil membawa handphone. Dia mengubah mimik wajahnya seolah-olah sedang marah dan ingin menerkam seseorang.


Ceklek.


Brydan melihat Nadya sedang bersandar di sandaran ranjang sembari bermain handphone dan sesekali di cekikikan tidak tahu apa yang sedang dia lihat.


"Hei GaKam!" Panggil Brydan yang langsung membuat Nadya kaget karena suara beratnya itu. Nadya pun menoleh ke arah pintu dan mendapati Brydan menutup pintu kemudian berbalik melihatnya dengan mimik wajah penuh emosi. Seketika Nadya langsung takut sekaligus pensaran.


Ada apa ini? Apa aku membuat kesalahan lagi. Tapi aku rasa aku tidak melakukan apapun yang membuatnya marah. Aduhh, lalu bagaiman bisa dia kelihatan sangat marah?


"Tuan, Anda kenapa?" Nadya memberanikan dirinya untuk bertanya.


Brydan mendekat ke arah Nadya dan mencengkeram kedua lengan Nadya dengan sedikit erat hingga Nadya sedikit terlonjak.


"Kau masih bertanya aku kenapa? Apa kau tidak tahu kesalahan yang telah kau perbuat?" Ucap Brydan tanpa mengubah mimik wajahnya. Tapi di dalam hatinya dia sudah terbahak-bahak karena melihat ketakutan di wajah Nadya. Entah kenapa dia begitu senang mengerjai Nadya.


"Lihat ini!" Ucap Brydan memperlihatkan sebuah video di dalam handphone nya. Dan seketika wajah Nadya langsung berubah pias.


Ini kan, aduhh tamatlah riwayatku. Seharusnya aku tidak melakukannya tadi. Kenapa sih aku mudah kesal akhir-akhir ini.


"Sekarang kau tahu apa kesalahanmu?" Tanya Brydan.


"Huaa, ampuni saya Tuan." Ucap Nadya pura-pura menangis dan langsung memeluk Brydan dengan erat. Dan Brydan yang dipeluk hanya bisa diam dan mencium bau wangi bayi yang begitu menyengat.


"Hei, aku sesak bodoh!" Ucap Brydan dan Nadya yang tersadar langsung melepaskan pelukannya.


"Saya janji tidak akan melakukannya lagi, Tuan." Ucap Nadya dengan mimik wajah yang begitu lucu menurut Brydan. Dan, Hahahahaha. Brydan tidak bisa lagi menahan rasa ingin tertawanya saat melihat mimik wajah yang ditunjukkan oleh Nadya.


"Bagus, jika kau ingin protes, langsung kepadaku jangan menginjak dan merusak barangku!" Kata Brydan.


"Iya Tuan, saya janji." Jawab Nadya dengan tegas.


Legaa, untung saja dia tidak menyuruhku naik ke atas atap untuk menjemur bantalnya.


"Ingat, kau masih dihukum. Jika kau berani melangkah satu centi saja keluar dari mansion ini, aku pastikan seluruh tulangmu tidak akan berfungsi lagi!" Ancam Brydan.


Dasar pengancam, kejam, gunung es, gila!


"Iya, Tuan." Sahut Nadya.


"Tuan boleh saya menonton film di ruang sebelah?" Kata Nadya.


Di sebelah kamar mereka memang ada sebuah bioskop mini yang disediakan untuk Brydan. Jika Brydan ingin menonton dia tidak harus bersusah payah mengantri ticket.


"Tuan mau ikut?" Tanya Nadya


"Hmm."


Mereka berdua pun berjalan beriringan ke arah ruangan bioskop mini.


Waw, kalau begini aku tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk melihat bioskop. Hahaha.


"Tuan mau menonton film apa?" Tanya Nadya.


"Horror." Sahut Brydan.


Dan mereka pun mulai menonton film yang bergenre horror. Nadya yang sebenarnya penakut sudah mulai dag dig dug. Karena jujur dia sama sekali tidak suka hal-hal yang berbau horror, selain karena takut dia juga tidak mau mengingat-ingat hal horror. Itu akan membuatnya sulit untuk tidur nyenyak.


Deng.. Deng... Deng...


Suara yang berasal dari film tersebut sungguh menakutkan, Nadya sudah menutupi mukanya dengan bantal kecil dan saat dia menurunkan bantal itu betapa sialnya dia, hantu nya justru muncul dengan wajah yang begitu seram.


"Akhhhhhh...." Dengan spontan Nadya langsung memeluk Brydan. Brydan tersenyum sinis, dia berhasil mengerjai si gadis kampung lagi. Tapi setelah beberapa menit Nadya tidak juga melepas pelukannya. Dan Brydan pun menjauhkan tubuh Nadya dari tubuhnya dan betapa terkejutnya dia karena ternyata gadis kampung itu pingsan!.


"Merepotkan! Niatku kan hanya mengerjainya saja tapi kenapa dia jadi pingsan sungguhan." Ucap Brydan. Kemudian dia membopong tubuh Nadya dan membawa Nadya ke kamar mereka.


"Pak San." Teriak Brydan.


"Iya Tuan." Sahut Pak San. Pak San yang mendengar tuannya berteriak langsung khawatir dan berlari untuk menghampiri tuannya.


"Cepat panggil Meysha." Kata Brydan. Meysha adalah dokter pribadi Brydan. Meysha juga sahabat Brydan sewaktu di Amerika.


Pak San langsung menelfon Dokter Meysha ketika melihat nyonya nya tergeletak pingsan di atas tempat tidur dan dia tersenyum tipis saat melihat wajah khawatir Brydan. Tidak biasanya tuannya begitu berlebihan seperti ini.


15 menit kemudian Dokter Meysha sudah sampai. Dan segera masuk ke dalam mansion untuk menuju ke kamar Brydan.


Ceklek.


"Siapa yang pingsan?" Tanya Meysha.

__ADS_1


"Cepat periksa istriku, Mey!" Ucap Brydan dengan wajah yang panik.


Meysha pun langsung memeriksa Nadya dengan sejuta pertanyaan di benaknya.


"Nona ini hanya shock, tolong jangan berteriak atau memutar musik terlalu keras di dekat Nona ini. Karena dia mudah pingsan ketika dirinya mengalami shock." Ujar Meysha.


"Sebentar lagi dia akan segera sadar." Imbuhnya.


"Owh ya, kau bilang apa tadi, dia istrimu? Kapan kamu menikah? Kenapa aku tidak diundang? Kau memang tega ya padaku!" Ujar Meysha dengan tatapan kesalnya.


"Tanya saja pada Dendy!" Ucap Brydan dan kembali fokus kepada istrinya yang tidak juga sadar.


Beberapa menit kemudian Dokter Meysha pamit untuk pulang. Karena ini hari libur jadi dia libur praktek.


"Ini Tuan, minuman hangat untuk Nyonya." Kata Pak San yang baru saja datang untuk mengambilkan minuman hangat untuk Nyonya nya.


"Taruh di atas nakas saja." Sahut Brydan.


"Aduhhh." Terdengar suara rintihan. Nadya sudah mulai membuka matanya sambil memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing. Dia berusaha untuk bangun dari tidurnya tapi susah, kepalanya benar-benar pusing.


"Kau sudah bangun? Sudah kau tidur saja." Ucap Brydan yang melihat Nadya berusaha untuk bangun.


"Aku haus." Ujar Nadya. Brydan pun membantu Nadya untuk bangun dan mengambilkan minuman yang tadi ditaruh oleh Pak San. "Pelan-pelan." Kata Brydan.


"Kepalaku pusing." Ucap Nadya. Dan Brydan langsung mengoleskan minyak angin ke pelipis Nadya.


"Istirahatlah." Ujar Brydan. Dan Nadya langsung memejamkan matanya kembali.


Apa aku keterlaluan? Tapi mengerjainya sungguh membuatku senang. Entah kenapa ekspresi wajahnya membuatku tertawa. Sebenarnya aku sudah tau semua tentangnya dan aku sengaja mengerjainya. Kalau akhirnya seperti aku juga tidak akan tega. Batin Brydan.


Malam hari__


Nadya baru saja selesai mandi karena dia baru saja terbangun dari tidurnya. Dan dia melihat Brydan sedang selonjoran di atas ranjang sembari melihat email-email yang masuk. Nadya yang sudah berganti pakaian dengan piyama langsung naik ke tempat tidur.


"Tuan, apa Anda memasang cctv di kamar ini?" Tanya Nadya. Sebenarnya tadi siang dia mau bertanya tapi dia lupa.


"Iya." Sahut Brydan tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone.


"Apa Tuan tidak turun untuk makan malam?" Tanya Nadya lagi.


"Pak San akan mengantarnya." Sahut Brydan.


Dari tadi main handphone terus. Sekali-kali tatap mata orang yang berbicara denganmu Tuan, aku ini manusia bukan manekin yang bisa kau acuhkan.


Tok.. tok.. tok..


Ceklek.


Nadya membuka pintunya. Dan benar saja dia mendapati Pak San membawa senampan makanan dan satu pelayan lagi yang membawa senampan minuman.


"Selamat malam Nyonya, ini makan malam nya." Ucap Pak San.


"Terimakasih Pak San." Sahut Nadya. Kemudian Pak San dan pelayan itu keluar dari kamar Brydan.


"Ayo Tuan makan dulu." Kata Nadya karena Brydan masih saja sibuk.


"Aku masih ada pekerjaan." Jawab Brydan.


Akhirnya dengan terpaksa Nadya membawa sepiring nasi goreng untuk Brydan dan duduk di samping Brydan. Dia menyendok nasi kemudian mengarahkannya ke mulut Brydan.


"Aaaaaa.." Nadya memperagakan gerakan mulutnya.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." Sahut Brydan. Dia bukan anak kecil lagi yang harus disuapi.


"Tuan buka mulut saja." Kata Nadya.


Dan akhirnya Brydan membuka mulutnya karena memang dia sudah lapar. "Aaemmm." Ujar Nadya ketika sesuap nasi sudah berhasil masuk ke dalam mulut Brydan.


Nadya terus menyuapi Brydan hingga suapan terkahir dan habis! Setelah makanan Brydan habis barulah dia mulai memakan makanannya.


"Terimakasih." Kata Brydan.


Dia kesambet apa ya, tumben bilang terimakasih. Biasanya dia hanya bilang hemmm hemm itu saja.


"Tidak perlu berterimakasih Tuan, itu sudah kewajiban saya." Sahut Nadya.


Setelah makanannya habis Pak San kembali datang untuk membersihkan peralatan makannya. Dan Nadya sudah beranjak dari sofa menuju ke tempat tidur karena matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.


"Tuan sudah selesai?" Tanya Nadya.

__ADS_1


"Tidurlah dulu." Sahut Brydan.


"Hei, sekarang berhentilah memanggilku Tuan karena aku ini adalah suamimu?" Kata Brydan yang membuat Nadya langsung berpikir panggilan yang tepat untuk si gunung es.


__ADS_2