
Tak terasa dua minggu sudah berlalu dan sekarang lah Nadya harus datang ke kantor Brydan untuk menandatangani surat nikahnya dengan si gunung es. Semalam Dendy sudah menghubunginya dan menyuruhnya datang agak siang tepatnya pukul 10.00 WIB. Karena Tuan Brydan sedang ada meeting dengan kliennya. Hari ini dia kembali meminta cuti pada bosnya. Dan untung saja bosnya memberinya izin, tapi dengan syarat besok dia harus bekerja lembur.
"Ini sudah agak siang, aku berangkat sekarang saja. Mungkin dia sudah menunggu aku." Kata Nadya sambil melihat jam tangannya. Nadya hanya memakai T-shirt dipadukan dengan jeans, inilah style kesukaannya karena jujur saja dia orangnya tidak terlalu feminim. Jadi dia tidak memakai make-up. Dia hanya memakai lipstick tipis agar tidak terlalu pucat dan memakai bedak bayi, karena dia suka dengan baunya.
Nadya sudah melajukan motornya menuju ke Kantor Brydan. Setelah 25 menit menempuh perjalanan barulah dia sampai di Kantor Brydan. Setelah memarkirkan motornya, dia langsung masuk ke dalam bangunan megah tersebut.
Di ruangan Brydan_
Sesampainya di ruangan CEO ternyata benar si gunung es dan si penguntit sudah menunggunya dan menyambutnya dengan tatapan tajam. Dan berkata " Kau terlambat 4 menit 10 detik." Ujar Brydan sambil menunjukkan timer di handphonenya. Brydan adalah tipe orang yang disiplin dan tidak suka orang yang ceroboh juga tidak on-time dalam perjanjian. Jika yang dijanjikan jam sekian maka dia harus tepat waktu, itulah kira-kira pemikiran Brydan.
"Silahkan duduk, Nona." Ucap Dendy.
Nadya pun langsung duduk di sofa di dalam ruangan tersebut, dengan Dendy di sofa seberang yang berhadapan dengannya.
"Ini file nya silahkan ditandatangani!" Titah Dendy sambil menyerahkan surat pernikahan dirinya dan Brydan. Jika dia menandatangani surat itu maka hari ini juga dirinya sudah sah menjadi istri Brydan di mata negara.
"Sudah." Kata Nadya setelah selesai menandatangani file tersebut.
"Sekarang kau adalah istriku, kau harus mematuhi segala yang aku perintahkan, dan kau harus ingat apa yang tertulis di dalam surat kontrak yang kau tandatangani tempo hari." Ujar Brydan tanpa berpindah posisi dari kursi kebesarannya.
"Baik, Tuan." Sahut Nadya dengan sedikit gemetar. Karena tatapan Brydan sudah seperti akan memakannya mentah-mentah.
"Den, kau tau apa yang harus kau lakukan." Ucap Brydan kepada Dendy dan diangguki oleh Dendy. Tapi wanita yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka berdua sungguh dibuat heran.
Apa mereka ini punya telepati batin ya? Walaupun tuannya hanya bilang begitu dia langsung paham, aku saja yang dari tadi mendengarkan dengan saksama sama sekali tidak paham, lalu bagaiman si penguntit ini bisa paham? Dasar aneh. Batin Nadya.
Apa mereka ini besaudara? Ah, tidak mungkin, wajahnya saja tidak mirip kok. Apa jangan-jangan mereka... Ah tidak mungkin juga. Nadya sudah tenggelam di dalam pemikirannya sendiri tanpa menyadari bahwa Dendy sudah pergi dari ruangan itu. Namun lamunannya tidak berlangsung lama karena ada suara bariton yang mengagetkannya.
"Hei GaKam, kau mengutuki aku ya?" Tanya Brydan dengan suara dinginnya hingga dia mengagetkan Nadya yang sedang asyik melamun.
"Ti...tidak Tuan, mana mungkin saya berani." Sahut Nadya.
Kalau iya kenapa, masalah? Batin Nadya.
"Bagus." Jawab Brydan.
"Daripada kau tidak berguna, lebih baik buatkan aku kopi di pantry." Titah Brydan.
"Tapi Tuan, saya masih penasaran, tadi Tuan memanggil saya GaKam, maksud Tuan apa ya?" Tanya Nadya.
__ADS_1
"Gadis kampung." Jawab Brydan.
Ishhh, pria menyebalkan! Dasar gunung es. Batin Nadya.
Kemudian Nadya langsung menuju pantry untuk membuatkan si gunung es itu secangkir kopi, tapi sebelumnya dia sudah bertanya letak pantry nya kepada seorang OB. Ingin rasanya dia memasukkan garam ke dalam kopi itu tapi nyalinya masih 40%. Haha, setelah selesai dia langsung membawa kopi buatannya ke ruangan Brydan.
Tuk..
"Ini Tuan kopinya, silahkan diminum." Ucapnya sembari meletakkan segelas kopi.
"Hmmm." Jawab Brydan tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang sedang dibacanya.
"Ehmm, Tuan boleh saya pulang?" Tanya Nadya dengan hati-hati.
"Tidak, karena sekarang semua barang-barangmu sudah ada di mansion ku dan sebentar lagi kau akan pulang bersamaku." Sahut Brydan.
Apa? Dia tahu darimana kontrakanku? Ohh aku lupa kan ada si penguntit, pasti dia yang mencari tau. Dasar kalian atasan dan sekertaris tidak berperasaan. Batin Nadya.
Beberapa jam kemudian, hari sudah menjelang malam. Pekerjaan Brydan baru saja selesai. Bahkan Nadya sudah merasa begitu bosan. Seharian ia hanya disuruh duduk dan mengamati Brydan dengan setumpuk file.
Dan benar saja, setelah Brydan selesai dengan pekerjaannya, dia langsung mengajak Nadya untuk pulang bersamanya menaiki mobilnya yang sekarang sudah dikemudikan oleh supir Brydan. Nadya sangat gugup, karena ini pertama kalinya dia naik mobil mewah seperti milik Brydan. Mobil yang memiliki desain yang indah, berwarna putih bersih.
"Tuan saya masih boleh bekerja kan?" Tanya Nadya, karena dia tidak mau membantah si gunung es, bukan dia tidak mau menolak semua yang dilakukan Brydan kepadanya. Tapi dia terlalu takut untuk melawan Sang Penguasa itu. Coba bandingkan, dia hanyalah rakyat biasa sedangkan yang dia lawan adalah Sang Penguasa.
"Tidak, kau harus mengundurkan diri!" Sahut Brydan.
"Tapi, Tuan." Dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari lawan bicaranya itu. "Kau berani membantahku?" Tanya Brydan.
"Tidak Tuan, saya akan segera mengundurkan diri." Jawab Nadya dengan gugup. "Bagus." Kata Brydan.
Di Mansion Brydan__
Saat mobil sudah memasuki area Mansion, Nadya sungguh terpesona dengan keindahan dan kemegahan luar mansion tersebut.
Kalau luarnya saja seperti ini, bagaimana dalamnya? Aku penasaran sekali. Batin Nadya.
Dan setelah dia menginjakkan kakinya ke dalam mansion matanya tidak berhenti melihat tanpa sadar mulutnya sampai menganga. Mansion dengan desain yang mewah, terdapat 3 lantai, dindingnya berwana gold sama seperti ruang kerja Brydan di kantornya dan semua furniture di dalamnya begitu indah dengan perpaduan warna gold dan putih. Dan Brydan sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Air liur mu menetes GaKam." Ucap Brydan. Seketika Nadya pun langsung sadar dan mengusap bagian mulutnya dan ternyata Brydan mengerjai dirinya.
__ADS_1
"Ishhh, tidak ada kok Tuan." Sahutnya sambil cemberut dan langsung membuat Brydan tertawa terbahak-bahak.
"Ayo ke kamar!" Titah Brydan.
"Ki...kita satu kamar, Tuan?" Tanya Nadya.
"Memangnya kau mau tidur di kandang burung peliharaanku?" Jawab Brydan.
"Ohh tidak tidak Tuan, hehe." Kata Nadya.
Dasar gunung es kau pikir aku induknya burung? Selain beku ternyata dia juga kejam! Dasar pria gunung es!
Batin Nadya sambil seakan-akan memukul kepala Brydan dari belakang. Brydan memang sudah terlebih dahulu berjalan ke kamar, tapi dia menghentikan langkahnya. Dan berbalik ke arah belakang.
"Kau benar-benar mau tidur bersama burung peliharaanku ya rupanya." Ujar Brydan, karena dari tadi Nadya tetap diam di tempatnya.
"Ehh, iya Tuan ini saya sudah jalan." Sahut Nadya sambil berjalan mengejar Brydan.
Sampai di dalam kamar Nadya langsung mengganti bajunya dengan piyama, dan betapa terkejutnya dia saat melihat isi lemari. Karena sudah banyak piyama wanita yang tertata rapi. Karena sebentar lagi hari sudah malam dan langit sudah mulai gelap.
"Selama kau menjadi istriku, kau harus melayaniku dengan baik!" Titah Brydan.
"Baik, Tuan." Sahut Nadya.
Kemudian Nadya langsung mengambilkan piyama untuk Brydan dan menaruhnya di bibir ranjang, dia melepaskan sepatu milik pria yang kini sudah sah menjadi suaminya itu. Kemudian Brydan mengganti pakaian formalnya dengan piyama tidur berwarna biru polos.
"Nyalakan AC nya." Kata Brydan dan langsung dilakukan oleh Nadya, walaupun dengan sumpah serapah. Yang benar saja remot pengontrol AC itu ada di atas nakas yang hanya berjarak 40 centi dari Brydan, sedangkan Nadya masih harus turun ranjang dan berpindah ke sisi lain ranjang untuk mengambil remot kontrolnya.
Dasar pemalas, jelas-jelas dia yang lebih dekat, tapi apa ini, dia menyuruhku? Menyebalkan. Batin Nadya.
Sebelumnya Nadya sudah melangkah ke sofa tapi Brydan mengancam akan mematahkan kakinya jika dia berani melangkah satu centi saja. Hingga dengan terpaksa Nadya mau tidur satu ranjang dengan si gunung es. Semoga saja besok dia tidak membeku. Haha.
Pernikahan yang selama ini Nadya impikan. Akan menjadi momen paling membahagiakan dalam hidupnya, namun ternyata. Pernikahan yang kini ia jalani sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan. Namun ia bisa apa, kini Nadya hanya berusaha untuk tetap tegar. Karena seperti yang dikatakan oleh Tica, akan ada pelangi setelah hujan. Nadya hanya berharap akan ada kebahagiaan setelah masa sulit ini.
♡(ӦvӦ。)♡(ӦvӦ。)♡(ӦvӦ。)
Happy Reading And Lop U All, hehe.
Jangan lupa tinggalin jejak yah😁✨
__ADS_1
IG : @cynshindi