Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-44 Bagaikan gantungan tanpa kunci.


__ADS_3

Tidak terasa waktu terus berlalu, menit berganti jam, jam berganti hari, dan hari berganti bulan. Begitu seterusnya, hingga kini usia pernikahan sepasang suami istri itu sudah mencapai dua bulan lamanya.


Yang dalam artian, sudah dua bulan mereka mengarungi kehidupan berumah tangga. Dari yang awalnya terpaksa, namun lama-kelamaan menjadi bahagia. Dari yang awalnya begitu dingin lama-kelamaan menjadi sedikit hangat.


Memang semua orang pasti akan berubah seiring berjalannya waktu. Tidak selamanya diri ini akan terus menderita, namun tidak selamanya juga diri ini akan terus bahagia. Kembali lagi pada kisah kehidupan Brydan dan Nadya.


Nadya dan Edward terlihat begitu akrab. Bahkan mereka berdua terlihat seperti bukan saudara ipar. Sampai-sampai Brydan sedikit cemburu pada kedekatan sang adik dengan sang pujaan hati.


Tak jarang Brydan meminta Nadya agar jangan terlalu dekat dengan Edward. Namun wanita baik hati itu tidak akan pernah bisa mengabaikan seseorang yang tidak bersalah. Walaupun pada akhirnya dirinya lah yang akan terkena marah oleh sang suami.


Hari ini adalah akhir pekan, dimana semua orang mansion libur bekerja. Rencananya hari ini akan mengadakan acara barbeque nanti malam. Sekarang hari masih siang, matahari pun masih bersinar terik.


Jika mengadakan barbeque sekarang, bukan hanya dagingnya yang matang. Tapi orang yang memanggang juga akan matang terbakar panas matahari.


"Fan, Ed dan kamu Sayang. Tolong kalian temani aku yah." Ujar Nadya yang kini tengah berleye-leye di sofa ruang keluarga bersama tiga manusia lainnya. Mereka sedang menonton sebuah acara talk show di televisi. Dan Nadya sudah mulai jengah.


"Kemana, Kakak ipar?" Edward sekarang sudah mulai terbiasa dengan panggilan tersebut. Karena Nadya adalah istri dari sang kakak, yang wajib Edward hormati.


Ketiganya tengah menunggu jawaban yang akan keluar dari katupan bibir Nadya.


"Nonton drakor. Sayang, ayo temani aku!" Nadya sudah melancarkan rayuan mautnya. Dia memperlihatkan puppy eyes nya. Siapa coba yang tidak gemas jika melihat wanita seimut dan selucu Nadya. Brydan mencubit gemas kedua pipi Nadya.


Fanny dan Edward sudah biasa melihat pemandangan memabukkan dari kedua kakaknya itu. Dan mereka hanya diam membisu.


"Disini sajalah, Kak. Aku mager alias malas gerak nih." Jawab Edward tanpa menatap lawan bicaranya. Karena dia sedang menyimak siaran di televisi.


Jika Edward sudah begini, Nadya tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Hanya Fanny lah yang bisa mengubah keputusan seorang Edward. Hanya Fanny yang bisa membuat Edward dari yang tadinya tidak mau menjadi mau. Sekarang Nadya akan memohon kepada Fanny. Dan Fanny, si wanita tidak tegaan itu akan langsung mengiyakan.


"Fann, ayolah. Pleasee." Dan benar saja langsung diangguki oleh Fanny. Fanny yang memang duduk di sebelah Edward, langsung menoleh kepada Edward dengan tatapan teduhnya. Dia memegang bahu Edward dan mengusuk-ngusuk nya.


"Sayang, ayo temani Nyonya." Ucap Fanny dengan nada yang begitu lembut kepada Edward. Edward sudah beberapa kali meminta Fanny untuk memanggil Nadya 'Kakak ipar'. Tapi Fanny bilang tidak enak hati karena dia bukanlah istri Edward. Dan Edward sudah tidak memaksa lagi.


"Baiklah."


Jika Fanny sudah berbicara lembut seperti kapas, Edward tidak akan bisa menolaknya. Alhasil mereka berempat bersama-sama nonton drakor kesukaan Nadya.


Lebih tepatnya Nadya yang paling menikmati jalannya alur cerita. Sedangkan yang lainnya biasa-biasa saja. Nadya yang sesekali memeluk Brydan karena gemas dengan perlakuan romantis yang ada di dalam drakor yang tengah ditontonnya.

__ADS_1


***


"Kakak ipar kita sudah tiga jam melihat drama membosankan ini." Akhirnya Edward angkat bicara juga. Jujur saja Edward bosan sedari tadi melihat drama yang sama sekali tidak dia mengerti.


"Ahh sudah tiga jam yah. Baiklah, ayo kita ke kamar, Sayang. Ed, Fan, kami ke kamar dulu ya." Nadya dengan entengnya mengatakan hal itu. Edward benar-benar gemas pada wanita satu ini. Jika Nadya bukan kakak ipar nya, mungkin Edward sudah menenggelamkan Nadya ke dalam sungai Amazon.


"Kakak ipar, terus aku bagaimana?" Edward mencoba untuk protes atas perlakuan semena-mena Nadya terhadap dirinya.


"Ajak saja Fanny jalan-jalan." Kata Nadya sembari menarik tangan Brydan untuk keluar. Setelah Brydan dan Nadya keluar, barulah Edward dan Fanny keluar juga.


***


"Sayang, nanti kita jadi kan barbeque bersama Edward dan Fanny?" Tanya Nadya yang kini tengah berada di dekapan sang suami.


"Ahh Sayang, bagaimana kalau kita ajak Sekertaris Dendy. Dia kan suka sendirian di apartment nya. Kasihan kan, Sayang." Dan perkataan Nadya barusan membuat Brydan terfokus kepada manik mata sang istri.


"Kenapa kau begitu peduli kepada Dendy?" Mulai lagi cemburunya.


"Bukan begitu, Sayang. Kamu punya aku, Edward punya Fanny. Bayangkan Sekertaris Dendy tidak punya siapa-siapa. Dia itu bagaikan gantungan tanpa kunci. Jadi tidak ada salahnya kan kalau kita ajak?"


"Terserah mu!"


Benar dugaan Nadya, Sekertaris Dendy langsung menyetujui ajakannya. Karena Brydan yang berbicara.


"Sekarang tidurlah, aku lelah." Brydan sudah mulai memejam matanya. Dengan sayang, Nadya membelai rambutnya. Menepuk-nepuk kecil punggungnya. Dan Brydan nyaman dengan perlakuan sang istri yang satu ini. Terbukti dari kebisuannya.


***


Sedangkan di tempat lain, Edward tengah menikmati segelas jus jeruk segar. Ya, Edward meminta Pak San membuatkannya segelas jus jeruk. Hawa panas lebih segar jika meminum minuman dingin. Pikirnya.


Fanny sudah ada di gerbang utama mansion sedari tadi. Fanny tidak mau dianggap malas. Walaupun dia adalah kekasih Edward, tetapi dia juga pekerja di mansion Brydan. Dan dia tidak boleh lupa akan tanggung jawabnya itu.


Tetapi tiba-tiba saja Edward terpikirkan akan sesuatu. Dia bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Jika Kakak sudah mempunyai seorang istri, apa Sekertaris Dendy juga akan mempunyai seorang istri? Sekertaris Dendy kan orangnya sangat pendiam dan kaku. Selain itu, Sekertaris Dendy juga pasti akan sulit didekati oleh wanita karena dia kan ditakuti semua orang. Hanya Kakak yang bisa menjinakkan makhluk satu itu. Tapi, ahhh sudahlah." Akhirnya Edward frustasi sendiri karena memikirkan masa depan Sekertaris Dendy. Hahaha.


Edward memilih untuk kembali ke kamarnya dan tidur. Sebelum nanti malam memulai acara barbeque dengan kakak ipar dan kakaknya.

__ADS_1


***


Tanpa Edward sadari, sedari tadi ada yang mendengar pembicaraannya itu.


"Anda terlalu ikut campur, Tuan kecil." Kata orang tersebut, siapa lagi kalau bukan Sekertaris Dendy. Brydan meminta Sekertaris Dendy untuk datang sekarang supaya nanti bisa membantu untuk acara barbeque nya.


Padahal sudah ada para pelayan yang menyiapkan acaranya. Ya begitulah Brydan, tidak afdol jika belum membuat Sekertaris Dendy kesusahan.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang ✨


Yang mau gabung GC silahkan klik profil othor yah 😁


Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah


IG: @cynshindi

__ADS_1


nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah


__ADS_2