Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-5 Mengancam.


__ADS_3

"Den, ambil rekaman cctv SEKARANG!" Titah Brydan pada Dendy yang berada di belakangnya. Berani sekali wanita di depannya ini, pikir Brydan. Bahkan selama ini tidak ada seorangpun yang berani memelototi tuannya. Tapi apa, wanita ini justru menampar tuannya di depan umum? Depertinya wanita dihadapannya ini sudah bosan hidup, pikir Dendy. Kemudian langsung mengangguk hormat untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Brydan.


"Setelah aku mendapatkan rekaman cctv, aku akan melaporkanmu ke pihak yang berwajib atas tuduhan kekerasan." Ucap Brydan dengan wajah yang sudah semerah cabe. Karena Brydan merasa dipermalukan di depan umum oleh wanita dihadapannya itu.


Seketika wajah Nadya langsung berubah masam, sepertinya dia sudah salah orang seharusnya tadi dia tidak menampar laki-laki dihadapannya itu. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang dia harus berani menanggung resikonya.


"Saya sudah mendapatkan rekaman cctv nya, Tuan." Kata Dendy yang baru saja tiba setelah mencopy rekaman cctv yang diminta tuannya.


Tiba-tiba senyum licik merekah di wajah Brydan. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Dan Nadya, Dendy, Tica, Pak Lucke serta Mr.Ricko dibuat heran akan hal itu.


"Tuan maafkan saya, saya mohon jangan laporkan saya, itu juga salah Tuan yang tidak melihat ke depan saat berjalan." Ucap Nadya. Masih sempat-sempatnya dia menyalahkan Brydan, apa dia tidak tahu siapa yang sedang dia hadapi ini? Sang Penguasa.


"Jika kau ingin selamat dari jeratan hukum, maka datanglah ke kantor besok!" Ujar Brydan kepada Nadya.


Sedangkan Tica hanya bisa diam karena sedari tadi Dendy sudah menatapnya dengan tajam seakan ingin menelannya bulat-bulat. Tubuhnya saja sudah gemetar sekarang. Wajah nya berkeringat dingin walaupun di mall itu tidak kekurangan ac.


"Den!" Brydan hanya memanggil Dendy dan melirik Nadya. Dendy sudah tahu apa yang diinginkan tuannya itu. Dia langsung berkata pada Nadya.


"Nona, ini alamat kantor kami dan ini kartu nama saya, hubungi saya jika ada hal penting." Ucap Dendy kepada Nadya sambil memberikan dua buah kartu yang berisikan alamat kantor dan nomor telfon dirinya.


Keesokan paginya_


Pagi ini Nadya izin untuk cuti pada atasannya karena dia harus datang ke kantor Brydan. Sebenarnya dia sudah ketar-ketir alias gelisah dari semalam karena dia baru saja tahu jika orang yang dihadapinya adalah seorang Brydan Robson pria terkaya SE-Asia Tenggara dan juga pengusaha sukses yang memiliki harta berlimpah.


Semoga aja masalah ini cepat selesai dan tidak merugikan pihak manapun. Batin Nadya.


Kemudian dia langsung melajukan motornya untuk menuju ke kantor Brydan. Sesampainya di kantor Brydan, dia menelfon Dendy dan Dendy langsung berbicara kepada penjaga agar mengizinkan Nadya masuk. Setelah memarkir kendaraannya dia langsung masuk ke dalam dan sudah ada seorang wanita cantik yang sudah menunggunya di meja resepsionis.


"Apa Nona ini yang bernama Nadya?" Tanya resepsionis itu.


"Iya saya sendiri." Sahut Nadya.

__ADS_1


"Mari nona, saya antarkan ke ruangan Tuan Brydan." Ucap sang resepsionis yang meminta agar Nadya mengikutinya.


Sesampainya di ruangan Brydan_


Dendy mempersilahkan Nadya masuk, Nadya melihat-lihat isi ruangan Brydan. Ruangan yang luas bahkan mungkin separuh dari kontrakannya. Memiliki dekorasi yang indah dengan cat berwarna gold dan atap berwarna putih. Seluruh benda diruangan tersebut tertata dengan rapi. Dan ada kursi kebesaran Brydan, yang didepannya ada sebuah meja dengan papan kecil bertuliskan Brydan Robson as CEO.


Brydan yang sudah tahu akan kedatangan Nadya tetap duduk di kursinya sambil mengerjakan pekerjaannya. Dia seakan tidak peduli akan kehadiran Nadya di dalam ruangannya.


"Silahkan duduk nona, sebentar lagi tuan selesai." Ujar Dendy pada Nadya.


Ishh, dia kira aku manekin apa, didiamkan terus kok malah sekertarisnya yang nyuruh duduk, seharusnya kan yang punya ruangan yang nyuruh duduk, dasar gunung es. Batin Nadya mengutuki sikap Brydan yang cuek bebek.


Seakan sadar bahwa Nadya meliriknya dengan tatapan tidak enak, Brydan langsung menimpali lirikan tersebut dengan tatapan tajamnya dan berkata.


"Kamu bukan tamu penting, jadi tidak perlu sambutan istimewa." Ucap Brydan kepada Nadya dengan ekspresi datarnya.


"Den, jelaskan padanya!" Titah Brydan kepada Dendy. Dan langsung diangguki oleh Dendy. Kemudian Dendy duduk di sofa sebelah Nadya, dan membuka file yang dia letakkan di meja dan mulai menjelaskan isinya pada Nadya.


"Jadi begini Nona, untuk menebus kesalahan yang Anda perbuat, Anda harus bersedia menjadi istri dari Tuan Brydan, dan..." Pembicaraan Dendy terhenti karena Nadya langsung memotongnya. "Apa? Anda masih waras kan, saya ini cuma menampar atasan Anda, bukan membuatnya sekarat." Sahut Nadya dengan nada terkejut.


"Bukan tidak mungkin jika Nona akan tertangkap, karena pihak pengacara saya sudah melihat Nona secara langsung melakukan kekerasan terhadap Tuan Brydan."Imbuhnya.


Apa sih maunya dia, aku cuma menampar tuannya bukan membuat tuannya sekarat, sekertaris nyebelin, atasan sama sekertarisnya kok sama-sama sinting. Nadya sudah memaki Dendy di dalam hatinya.


"Saya kasih Nona waktu 3 menit untuk memutuskan." Ucap Dendy.


3 menit? Dia pikir ini main suit cuma butuh waktu 1 detik, dasar sinting. Batin Nadya.


Hahhh, bagaimana ini, jika aku tidak menerimanya maka hidupku pasti akan susah, ya walaupun hidupku memang sudah susah. Terima sajalah toh aku juga tidak akan menang melawannya. Aku hanya sebutir debu bagi dia, jika aku melawannya aku bisa apa berhadapan dengan orang tidak berperasaan sepertinya. Semoga ini menjadi keputusan yang terbaik. Batin Nadya.


"Tenang saja Nona, kami akan menjamin semuanya. Saya sudah menyiapkan surat kontrak untuk pernikahan Nona dan Tuan nanti." Kata Dendy sambil memberi satu file ke Nadya untuk dibaca.

__ADS_1


Pihak Pertama :


BRYDAN ROBSON


Pihak Kedua :


NADYA KHARISMA


Poin yang wajib untuk ditaati dan akan mendapatkan sanksi apabila melanggar, sanksi langsung diberikan oleh Pihak Pertama.


[.....]


Selama kedua pihak masih terikat, maka surat perjanjian ini masih berlaku.


___________________ ∞ __________________


Kedua mata Nadya langsung melotot setelah membaca file yang diberikan oleh Dendy kepadanya.


Apa ini? Pikirnya. Ini surat perjanjian atau surat perbudakan. Ini benar-benar menyiksa jiwa dan raganya. Lebih baik dia tenggelam ke dasar lautan saja. Pria di depannya ini memang tidak berperasaan atau tidak berotak. Dimana letak nurani pria itu? Pikirnya. Tidakkah dia melihat bahwa Nadya hanya wanita biasa, bukan wanita kaya raya yang bisa menyewa pengacara untuk melawan dirinya. Jika Nadya bisa, ingin sekali dia mengutuk pria di depannya ini menjadi batu. Atau menjadi ikan mas saja, supaya bisa digoreng. Hahaha.


Kalau begini dia yang enak, terus aku bagaimana? Nasib, nasib. Batin Nadya.


"Maaf Tuan, kenapa semua poinnya menguntungkan pihak Anda, lalu saya bagaimana?" Ucap Nadya memberanikan diri untuk bertanya kepada Brydan yang sedari tadi hanya diam. Mungkin saja dirinya bisa mendapat sedikit keringanan.


"Karena saya yang dirugikan." Sahut Brydan dengan mudah.


Ishhh, tahu begitu aku tidak usah bertanya saja tadi. Dasar kaku!


Nadya ingin sekali mengumpat di depan wajah pria ini. Tapi masih dia tahan, daripada dia dapat masalah baru. Bukannya untung malah semakin buntung nantinya.


"Cepat tandatangan atau sebentar lagi akan ada polisi di kantor ini." Ancam Brydan. Seketika tubuh Nadya langsung gemetar tanpa pikir panjang, Nadya langsung melakukan apa yang disuruh oleh Brydan.

__ADS_1


"Ba.. baik Tuan" Sahut Nadya.


Seraya menandatangani file yang diberikan oleh Dendy. Nadya hanya berharap bahwa kehidupannya bisa sedikit lebih baik. Ia berharap semoga keputusannya ini menjadi keputusan yang tepat. Percuma saja, pikirnya. Jika ia memutuskan untuk melawan, toh ia tidak akan mampu. Brydan bisa melakukan apapun yang dikehendakinya, termasuk membuat hidup Nadya semakin susah. Sedangkan Nadya, apa yang bisa ia lakukan. Nadya hanya takut masalah ini akan berimbas pada orang-orang terdekatnya.


__ADS_2