
Hari ini adalah hari libur alias akhir pekan. Dimana Brydan dan Nadya sama sekali tidak memiliki agenda untuk hari ini. Pagi ini terlihat begitu indah. Matahari sudah bersinar sejak beberapa jam yang lalu. Nadya dan Brydan sudah bersiap untuk berolahraga melatih ketahanan tubuh dan menjaga bentuk tubuh.
***
"Sayang aku lelah." Ujar Nadya sembari mengelap bekas keringat di dahi nya. Dia terlihat mengibas-ngibaskan telapak tangannya karena gerah.
"Ayo." Brydan menyelesaikan olahraga dan bersiap untuk mandi.
Seusai mandi, keduanya turun untuk sarapan. Seperti biasa tidak ada pembicaraan saat makan berlangsung.
"Sayang kamu punya sosmed?" Tanya Nadya yang kini tengah duduk di bangku taman belakang bersama sang suami.
"Punya." Jawab Brydan.
Brydan memberitahu Nadya nama akun sosmed nya dan Nadya langsung menganga saat melihat akun sosmed milik Brydan.
"What? Kamu centang biru?" Tanya Nadya.
"Karena aku adalah CEO dari perusahaan besar di Asia." Dengan entengnya Brydan mengatakan itu. Nadya memang sudah tahu jika sang suami adalah seorang CEO di perusahaan terkemuka dan sang suami adalah orang terkaya se-Asia yang artinya dia adalah istri sultan.
"Sekaya apa sih dirimu, Sayang. Sampai akun mu bercentang biru?" Tanya Nadya yang kini jiwa kepo nya sudah meronta-ronta.
"Jika kau tau, bahwa kau adalah istri sultan. Mungkin kau akan segera jantungan." Ujar Brydan tersenyum tipis. Saat melihat ekspresi sang istri yang tidak biasa. Alias luar biasa.
"Ya ya kau benar." Kata Nadya.
"Kau menggunakan shampo apa? Jangan bilang shampo bayi!" Brydan baru kali ini mencium rambut yang begitu wangi. Rambut Nadya ternyata lebih wangi dari rambutnya. Dia kira hanya rambutnya saja apa yang wangi.
Nadya memiliki rambut yang lurus, indah ketika gerai dan anggun ketika di ikat. Tetapi Nadya lebih suka menggerai rambutnya. Tekstur rambut Nadya begitu halus, Nadya sendiri tidak tahu kenapa. Padahal dia tidak pernah memberikan obat atau vitamin apapun ke rambutnya, kecuali shampo dan conditioner saja.
"Shampo yang sama seperti dirimu, Sayang." Jawab Nadya.
"Tapi kenapa wanginya berbeda dan rambutmu lebih halus. Dan juga apa ini? Rambutmu lebih hitam." Brydan masih meneliti rambut istrinya. Seakan-akan ada barang bukti kejahatan di sana.
"Aku tidak tahu, Sayang. Dari dulu rambutku memang seperti ini. Aku tidak pernah memberikan apapun, hanya shampo dan conditioner saja." Kata Nadya memberikan senyum manisnya.
"Sayang, kenapa kamu tidak pernah mengunggah sesuatu di akun sosmed milikmu?" Tanya Nadya, setelah drama rambut tadi. Nadya kembali men-stalking akun sosmed milik Brydan.
"Karena bagiku itu hal yang tidak penting." Ujar Brydan masih dengan tangan yang bermain di rambut sang istri. Dia mengusuk-ngusuk rambut istrinya, kemudian sesekali menciumnya. Menghirup aroma milk dari rambut istrinya. Wangi nya bukan milk saja tetapi juga ada wangi seperti bunga mekar. Sungguh membuat Brydan ingin mencium lagi dan lagi.
"Followers mu banyak sekali, Sayang." Ujar Nadya, tanpa mengalihkan pandangan dari handphone nya.
"Aku tidak tahu." Brydan tetap saja memfokuskan diri dan pandangan pada rambut Nadya. Entah rambut Nadya sudah menjadi candu baginya atau apalah. Yang penting dia suka.
"Conditioner apa yang kau pakai?" Manusia satu ini tetap saja kepo pada rambut Nadya.
__ADS_1
"Itu untuk wanita, Sayang." Jawab Nadya.
"Buat rambutku seperti milikmu." Ultimatum yang sama sekali tidak di mengerti oleh Nadya. Rambut Brydan kan bergelombang, sedangkan miliknya kan lurus? Maksudnya Brydan mau dia meluruskan rambut Brydan atau bagaimana?
"Baiklah, Sayang." Hanya itu yang Nadya katakan. Dia akan melakukan apa yang Brydan mau, walaupun dia masih belum paham. Tiba-tiba terbesit sebuah ide di kepala Nadya.
Kalau aku tidak paham, sekertaris Dendy pasti paham. Ah ya, aku akan menghubungi Sekertaris Dendy.
"Sayang ayo masuk, hari sudah mulai siang." Nadya beranjak dari duduknya dan hendak masuk ke dalam Mansion. Begitupun dengan Brydan.
***
Di dalam kamar Nadya dan Brydan tengah duduk berdua di sofa. Dengan posisi bersebelahan, Nadya sibuk dengan handphone nya. Sedangkan Brydan sibuk dengan rambut sang istri.
Dia tergila-gila pada rambutku atau bagaimana sih? Biarlah yang penting aku tidak terganggu.
Nadya mengirimkan sebuah pesan kepada Sekertaris Dendy.
"Sekertaris Dendy, boleh aku tanya?"
"Tanya apa, Nyonya?"
"Kau tau, tadi tuan mu menyuruh ku untuk membuat rambutnya sama dengan rambut ku. Maksudnya apa?"
"Dia menanyakan conditioner yang aku pakai."
"Maaf, Nyonya. Saya juga tidak paham soal itu.
"Ayo lah."
read
Ish sekertaris dan tuannya kok sama-sama menyiksa sih?
Nadya menaruh handphone nya di atas nakas. Dan dia benar-benar geli dengan apa yang sedang dilakukan oleh Brydan.
Sepertinya dia juga tergila-gila pada leherku. Lihat saja selain rambut dia juga menciumi leherku. Payah.
"Sayang aku geli." Nadya berusaha menjauhkan mulut Brydan dari lehernya.
"Diam atau kucekik!" Dan Nadya hanya bisa diam jika Sang Penguasa sudah bertitah. Dia menahan geli daripada dia dicekik bisa berabe nanti.
Selang beberapa menit, Nadya mulai jengah. Dia mulai bosan karena pantatnya pun sudah mulai keram dari tadi duduk begini terus tidak bergerak. Dia diam seperti patung, bukan karena dia takut. Tapi karena lehernya sudah keram dan akan sakit kalau digerakkan.
"Ayo aku mau tidur siang." Kata Brydan sudah mulai beranjak hendak menuju ranjang. Tapi Nadya masih tetap diposisi sebelumnya.
__ADS_1
"Kau membantahku!" Ujar Brydan.
"Aku bukan membantahmu, tapi leherku keram." Kata Nadya dengan nada yang sedikit tinggi. Akhirnya Brydan kembali ke sofa dan membantu Nadya. Dengan susah payah, Nadya terbebas dari keram sialan.
"Kau sendiri yang salah, kenapa tidak bergerak!" Brydan masih saja menyalahkan istrinya.
Dia ini benar-benar egois yah. Jelas-jelas dirinya yang meminta ku untuk tidak bergerak, tapi apa? Dia menyalahkan aku! Ish dasar manusia egois tingkat akut!
Nadya sudah memaki Brydan di dalam hatinya. Dia benar-benar kesal kepada makhluk satu itu. Apa egois itu sudah bawaan dari orok? Atau bagaimana sih.
Tanpa banyak bicara lagi, Nadya langsung tidur membelakangi Brydan. Tetapi bukan Brydan namanya jika tidak bisa membuat istrinya mematuhi titahnya. Dengan terpaksa Nadya membalik posisi menghadap Brydan.
Mereka berdua akhirnya tertidur dengan posisi saling memeluk dan menghangatkan. Diluar cuaca lumayan panas. Karena sinar matahari yang begitu terik. Jadilah Brydan menghidupkan AC di siang hari.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
oh ya, readers ku tercinta, kalian enjoy aja dulu yah, ngga usah mikirin tentang konflik. Karena konflik pasti ada kok kakak-kakak cantik. Cuma lagi nunggu waktu yang tepat aja, hehe. Jadi, stay tuned yahh❤️🤗
kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
IG: @cynshindi
nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana kok
__ADS_1