Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-18 Belikan pem.. pem.. Pempek?


__ADS_3

Mereka menempuh 1 setengah jam perjalanan untuk sampai ke mansion. Setelah sampai di mansion, Brydan langsung menggendong Nadya ala bridal style. Dan membawa sang istri ke kamar kemudian menidurkan istrinya di ranjang dengan perlahan-lahan. Karena Brydan tidak mau membangunkan istrinya yang tengah tertidur. Dia tau istrinya itu kelelahan karena terlalu semangat.


Brydan terus memandangi wajah istrinya yang tengah tertidur. Sesekali dia tersenyum tipis. Wajah yang tidak terlalu cantik tapi imut, lebih enak dipandang. Seakan tidak ada bosannya Brydan terus saja memandangi wajah istrinya. Wajah yang tadinya teduh, tiba-tiba sedikit cemberut. Dan keluar erangan dari mulutnya.


"Shhhhh, sakit." Erangan Nadya dengan mata yang masih terpejam. Seketika Brydan langsung kalang kabut. Dia khawatir istrinya kenapa-napa. Brydan menepuk pelan pipi Nadya untuk memastikan bahwa Nadya tidak pingsan seperti tempo hari.


"Bangun hei, bagian mana yang sakit?" Tanya Brydan sambil tetap menepuk pelan wajah istri tercintanya itu. Nadya sedikit membuka matanya dan berkata dengan suara seraknya pada Brydan.


"Sepertinya aku menstruasi, tolong sampaikan kepada Fanny. Belikan aku pembalut, aku tidak memiliki persediaan pembalut." Ucap Nadya.


"Apa itu menstruasi, pembalut itu seperti apa?" Astaga Brydan bahkan tidak mengerti apapun tentang wanita.


"Aku akan jelaskan nanti, tolong sampaikan pesanku kepada Fanny." Nadya benar-benar bingung dengan Brydan. Masa iya ada orang yang tidak tahu menstruasi itu apa? Dan pembalut itu seperti apa?


Brydan langsung keluar kamar, dan melihat Fanny sedang berdiri di depan kamarnya.


meneruskan ucapannya, karena dia lupa apa yang diminta oleh istrinya. Untuk dibelikan oleh Fanny.


Fanny sukses dibuat heran. Pem? Pem apa yang dimaksud Brydan? Pempek? Atau apa?


"Istriku bilang, dia sedang mens, mens. Ahhh aku lupa, kosakata nya sulit, Fan." Brydan putus asa, dan sedikit menjambak rambutnya. Tapi Fanny langsung tau apa yang diminta oleh Nadya. Dia heran dengan tuannya itu, masa pembalut tidak tahu?


"Maksud Anda pembalut? Untuk wanita menstruasi?" Kata Fanny.


"Ya, ya benar itu." Jawab Brydan sambil menjentikkan jarinya. Seolah-olah mendapat jawaban rumus matematika saja.


"Baik, Tuan." Fanny berlalu pergi untuk membeli apa yang diminta Nadya di supermarket terdekat.


"Katakan yang jelas, mana yang sakit?" Ucap Brydan setelah masuk ke dalam kamarnya.


"Menstruasi itu adalah hal yang wajar dialami setiap wanita yang sudah pubertas. Ketika menstruasi wanita akan mengeluarkan darah dari kewanitaannya." Nadya menjelaskan panjang lebar kepada Brydan. Hingga Suaminya itu perlahan tapi pasti mulai mengerti.


"Apa yang bisa meredakan rasa sakit mu?" Tanya Brydan, karena dia tidak tega melihat istrinya kesakitan.

__ADS_1


"Tolong bilang kepada Pak San, buatkan aku air hangat dengan sedikit madu." Ucap Nadya. Ya, air hangat memang bisa memperlancar darah yang keluar saat haid.


Brydan langsung memanggil Pak San, untuk membuatkan apa yang istrinya pinta.


"Permisi Tuan, Nyonya." Terdengar suara Fanny dari luar kamar.


"Masuk." Sahut Nadya.


"Ini Nyonya, pembalut yang Anda pinta." Ucap Fanny sembari menyerahkan pembalut yang dibawanya kepada Nadya.


"Terimakasih Fan." Dan diangguki oleh Fanny.


Nadya langsung bergegas ke kamar mandi, untuk mengganti celana nya dan memakai pembalutnya.


Legaaa. Batin Nadya setelah selesai memakai pembalut.


Tidak lama Pak San datang membawa madu hangat untuk Nadya. Brydan membantu Nadya, dia menyuapkan satu sendok ke mulut Nadya. Tidak lupa Brydan meniupnya terlebih dahulu, khawatir terlalu panas. Terus begitu, sampai air di gelas tersebut habis.


"Terimakasih, Suamiku." Ucap Nadya dengan tulus. Jujur dia begitu terharu dengan perhatian kecil yang diberikan oleh Brydan.


"Sudah tidak sakit?" Tanya Brydan, dia khawatir istrinya masih merasakan sakit.


"Sudah mendingan, wanita haid memang sakit, Sayang. Tapi berbeda-beda menurut hormon. Ada yang sakitnya parah dan ada juga yang hanya sedikit sakitnya." Ucap Nadya kepada suaminya. Dia tidak ingin suaminya khawatir terlalu berlebihan.


"Baguslah, tunggu, kau memanggilku apa tadi?" Kata Brydan, dia senang mendengar Nadya memanggilnya dengan sebutan yang romantis.


"Sayang, kenapa tidak mau aku panggil seperti itu?"


"Jika kau berani mengubah panggilan itu, aku akan menyumpal mulutmu menggunakan pare."


Kapan sih dia akan berhenti melontarkan ancaman mautnya itu? Dia ini memang tidak bisa berbicara baik-baik tanpa mengancam. Menyebalkan, tapi aku cinta!


"Iya, iya. Tapi ada syaratnya." Ucap Nadya sambil mengerlingkan sebelah matanya. Seakan mencoba merayu gunung es di hadapannya itu. Brydan menatapnya dengan lekat, seakan menerawang apa isi kepala Nadya.

__ADS_1


Karena Brydan tidak kunjung menjawab, akhirnya Nadya mengatakan syarat yang harus Brydan penuhi.


"Kamu harus memanggilku dengan panggilan yang spesial juga." Kata Nadya, berharap si gunung es akan menjawab 'iya'. Dan dia ingin sekali mendengar Brydan memanggilnya dengan panggilan spesial tersebut. Dan Brydan sedikit berpikir.


"Aku akan memanggilmu, Bey." Jawab Brydan.


"Bey? Apa itu?" Tanya Nadya, karena dia merasa aneh dengan panggilan itu. Dia tidak pernah tau dan tidak pernah mendengar panggilan tersebut.


Bey adalah singkatan dari Beauty. Itu artinya aku sudah mengakui kecantikan mu.


Namun sayang, itu hanya Brydan ucapkan di dalam hati.


"Rahasia." Ucap Brydan.


"Terserah, yang penting jangan memanggilku GaKam lagi!" Nadya sungguh kesal ketika mendengar Brydan memanggilnya dengan sebutan itu. Dia tidak terlalu kampungan banget kok, hanya sedikit.


"Ya, memang terserah diriku. Karena aku adalah Penguasa disini!"


"Awas aku mau mandi!" Ucap Nadya dengan kesal, dia sedikit menyenggol bahu Brydan dengan bahunya. Ya, walaupun yang disenggol sama sekali tidak berpindah atau bergerak. Dia mengakui kalau badannya memang mini alias kecil. Jauh beda dari badan Brydan yang kekar dan tinggi.


***


Terdengar suara dentingan sendok bersahutan. Ya, pasangan suami istri itu tengah menikmati makan malamnya. Seperti biasa, setelah makan malam selesai, Brydan akan mengecek laporan yang masuk dari Dendy. Jika sudah serius dengan laptopnya, dia tidak akan memedulikan apapun yang terjadi atau ada di sekitarnya.


Nadya menemani suaminya, duduk di sofa yang sama dan bersebelahan dengan suaminya. Dia memijat kecil pundak suaminya. Karena dari tadi Brydan tidak menolehkan kepalanya sama sekali, pandangan matanya hanya tertuju pada laptop saja. Nadya takut suaminya lelah.


"Sayang, jangan diforsir." Ucap Nadya dengan lembut.


"Sayang, mau aku buatkan kopi?" Dan hanya mendapat gelengan kepala Brydan.


"Ya sudah, aku akan menemanimu." Dan akhirnya Brydan membuka mulutnya.


"Tidak usah. Tidurlah." Titah Brydan. Nadya memang lelah hari ini, jadi tidak dipungkiri jika dia ingin tidur lebih awal. Sudah lelah karena bertamasya berkeliling-keliling kota, harus sakit karena haid pula. Sungguh mengenaskan!

__ADS_1


"Baiklah, aku tidur yah. Selamat malam." Kata terakhir yang diucapkan Nadya sebelum ia tidur. Jangan lupakan Nadya juga memberi kecupan kecil di pipi dan dahi Brydan. Brydan memang senang dengan perlakuan istrinya, tapi gengsi nya masih seluas lautan. Jadi dia hanya menjawab deheman saja.


__ADS_2