
Malam sudah datang, saat ini Brydan dan Nadya tengah menikmati makan malam mereka. Setelah selesai, keduanya kembali ke kamar, sebenarnya Nadya masih ingin bersantai di sofa dekat meja makan. Tetapi apalah daya, jika Brydan menginginkan Nadya di sampingnya. Dengan terpaksa dia ikut ke kamar bersama sang suami. Mereka duduk berdua di kursi yang ada di balkon. Dengan posisi berseberangan.
Tiba-tiba ponsel Nadya bergetar, menandakan ada notifikasi yang masuk. Dia sengaja mensetting ponselnya dengan mode silent. Karena dia sedang menyembunyikan sesuatu dari Brydan di dalam ponselnya. Dengan partner sejatinya, siapa lagi kalau bukan Tica.
Notifikasi Pesan_
"Nad, jadi kan?" Tica.
"Jadi, kamu besok tunggu di taman yah." Nadya.
"Tapi, kamu jangan sendiri aja kan?" Tica.
"Iya udah, tenang aja." Nadya.
read
Brydan sudah memerhatikan gerak-gerik istrinya yang tampak sibuk dengan ponselnya. Seperti ada sesuatu yang berharga di ponselnya yang tidak boleh diketahui orang lain.
"Berikan ponsel mu!" Brydan menengadahkan tangannya untuk meminta ponsel istrinya. Dia ingin tahu, apa yang istrinya lakukan di ponsel itu? Kenapa ponsel itu lebih penting daripada dirinya? Itulah pikiran Brydan sekarang. Dengan terpaksa Nadya memberikan ponselnya. Tetapi dia sudah mengantisipasi sebelum Brydan melihat pesan Tica, Nadya sudah menghapus semua pesan Tica.
Brydan mulai mengotak-atik ponsel istrinya. Dia mencari apa yang tadi dilihat oleh istrinya. Brydan membaca semua pesan yang masuk. Tetapi isinya hanya percakapan biasa, tapi kenapa istrinya tampak berbeda tadi. Akhirnya dia mengembalikan ponsel istrinya.
"Jangan berani menghianati aku!" Hanya itu ultimatum yang dikeluarkan oleh Brydan. Dan dengan lantang Nadya menjawab dengan anggukan.
"Sayang, aku boleh tidak. Keluar dengan Tica besok." Ujar Nadya. Nadya berpindah posisi ke belakang tempat duduk Brydan dan memijat bahu kekar Brydan.
"Fanny akan ikut!" Jawab Brydan yang terlihat menikmati pijatan istrinya.
"Tapi, Tica tidak nyaman dengan kehadiran Fanny, sayang." Ucapnya kembali merayu Brydan agar terlepas dari Fanny ekornya.
"Tidak ada bantahan!" Titah yang mutlak sudah keluar, dan Nadya tidak akan bisa membantah lagi. Jarang bahkan tidak mungkin bagi Brydan untuk menarik ucapannya kembali. Apalagi hal itu bersangkutan dengan keamanan sang istri.
"Baiklah." Kata Nadya.
"Aku masuk dulu, sayang." Tambahnya dibumbui kecupan kecil di pipi Brydan. Kemudian dia melangkah masuk ke dalam dan duduk di atas ranjang.
Nadya sudah memberitahu Tica, bahwa Fanny akan ikut. Dan mereka sudah menemukan cara agar Fanny tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Dan melepaskan pantauannya dari Nadya.
__ADS_1
"Kau akan pergi kemana?" Tiba-tiba saja Brydan naik ke atas ranjang dan memeluk Nadya. Hingga Nadya kaget, karena dia tadi sempat melamun.
"Hanya ke taman, Sayang." Jawab Nadya sambil memainkan rambut Brydan dengan jari-jarinya. Rambut yang halus dan wangi, bahkan rambut wanita tidak sehalus dan seharum itu.
"Ingat waktu, aku ingin kau selalu menyambutku saat aku pulang." Kata Brydan yang sudah memejamkan matanya hendak tidur.
"Tentu, Sayang." Jawab Nadya.
_____________________ 00 _____________________
Sepasang suami istri baru saja selesai melakukan rutinitas pagi mereka. Kini sang istri tengah mengantar suaminya ke pintu utama untuk melepas suaminya bekerja. Dengan untaian ucapan manis dan kecupan kecil di pipi sang suami.
Nadya kembali masuk ke kamarnya, setelah mengantar Brydan. Dia sudah mengganti pakaian santainya dengan dress selutut bermotif bunga-bunga kecil. Sungguh menggemaskan seperti boneka Barbie. Dia memoles sedikit make-up dan memakai flat shoes nya. Kemudian dia turun dan masuk ke dalam mobil yang sudah ada Fanny sebagai pengemudi nya. Terlebih dahulu dia ke rumah Tica, untuk menjemput partner nya itu.
***
"Nadya, aku disini." Ucap Tica yang sudah menunggu kedatangan Nadya di depan rumahnya.
Untuk menuju ke taman, membutuhkan waktu 10 menit. Hingga kini mereka sudah duduk di bangku taman. Menikmati udara segar dan pemandangan indah. Jangan lupakan Fanny yang ada di belakang mereka berdua.
"Tic, aku merindukan mu." Ujar Nadya sembari memeluk Tica.
"Aku sudah membawa yang kau pinta." Bisik Tica dengan suara yang amat pelan. Bukan apa, supaya Fanny tidak mendengarnya.
"Kau memang bisa diandalkan." Sahut Nadya dengan volume suara yang kecil.
"Fan, kau duduklah disini. Aku ingin berjalan-jalan sebentar. Jika kau tidak percaya, kau bisa pegang ponselku!" Kata Nadya. Fanny sedikit berpikir, dia khawatir terjadi apa-apa kepada Nadya. Tapi dia menepis pikiran itu.
"Apa Nyonya bisa dipercaya?" Tanya Fanny. Dan diangguki oleh Nadya. Akhirnya Fanny duduk di bangku itu menggantikan Nadya dan Tica. Sedangkan sepasang sahabat itu melangkah menjauhi bangku yang diduduki Fanny. Tica melihat ke arah tas selempang nya, dia merogoh benda yang tadi dibawanya. Karena berjalan tanpa melihat kedepan, hingga dia menabrak seorang pria yang tengah berada dalam panggilan. Dan naas, ponsel pria itu terjatuh, hingga pecah dan mati.
"Ehh, maaf saya tidak sengaja." Ujar Tica berjongkok untuk mengambil ponsel milik pria itu.
"Nad, ini pegang lah." Tica langsung memasukkan benda yang tadi dibawanya ke dalam tas Nadya. Sedangkan Nadya masih menganga karena ponsel pria itu mati total akibat ulah Tica. Tica seakan-akan sedang menyelundupkan barang ke dalam tas Nadya, karena Nadya sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Pandangan Nadya hanya fokus pada ponsel pria itu yang kini ada di genggaman Tica.
"Yah mati." Ujar Tica sambil mencoba menghidupkan kembali ponsel pria itu.
"Maaf Tuan, saya akan bertanggung jawab." Ucap Tica mengembalikan ponsel rusak pada si pemilik. Dan pria itu tersenyum miring.
__ADS_1
"Saya Edward." Kata pria itu menyodorkan tangannya ke arah Tica dan kemudian Nadya.
"Nadya."
"Tica."
"Saya minta nomor kalian berdua, nanti saya hubungi untuk penyelesaian nya." Kata Edward. Nadya bingung, kenapa orang ini meminta nomornya juga? Padahal kan yang menabrak dia tadi adalah Tica.
"Tapi saya tidak salah, Tuan." Ujar Nadya.
"Kau temannya bukan? Jika teman kamu dalam kesusahan apa ini rasa solidaritas yang kau tunjukkan?" Jawab Edward sedikit memprovokasi Nadya. Dan akhirnya Edward mendapatkan nomor Nadya dan juga Tica. Setelah itu, Tica dan Nadya kembali ke tempat mereka tadi. Tica meminta Nadya untuk mengantarkan nya pulang.
"Kalau orang itu minta ganti rugi, aku harus apa Nad? Aku kan lagi bokek." Kata Tica, sebenarnya dia tidak mau membebani Nadya. Tapi mau bagaimana lagi, hanya Nadya yang dia punya di kota ini.
"Tenang saja, aku akan meminjamkan mu uang tabungan ku." Jawab Nadya berusaha untuk menenangkan Tica. Fanny tidak akan mendengar percakapan mereka, karena bodyguard Nadya itu tengah memakai headset. Kemudian mereka berpisah, karena Tica sudah sampai di rumahnya. Nadya melihat ke arah tas selempang nya. Dan benda yang tadi diselundupkan oleh Tica sudah ada di sana. Pil kontrasepsi dengan wadah kecil, seperti wadah vitamin. Nadya sengaja meminta Tica merubah wadah nya, agar tidak ketahuan.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Jangan jadi pembaca gelap guysss😁
Makasih kakak-kakak sayang 😁✨
__ADS_1
kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
IG: @cynshindi