Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-31 Kecanggihan handphone.


__ADS_3

Tidak terasa, sudah sebulan lebih Nadya dan Brydan menjalani hidup sebagai sepasang suami istri dan berumah tangga. Walaupun sesekali ada pertengkaran, tetapi hal itu tidak menampik kan, bahwa kini rasa cinta Nadya telah tumbuh untuk Brydan. Bahkan mungkin sudah ada, sejak Brydan selalu memperhatikan dirinya. Memberinya perhatian-perhatian kecil yang tidak dia dapatkan dari mantannya dulu.


Nadya bukanlah gadis yang polos, jadi dia juga memiliki seorang mantan kekasih dulu. Saatnya dirinya duduk di bangku SMP. Dan Brydan sudah tau itu, hanya saja dia tidak memberitahukan kepada Nadya. Brydan tidak mungkin menikahi orang sembarangan, dia sudah terlebih dahulu menyelidiki semua yang bersangkutan dengan Nadya. Dan bagi seorang Brydan, itu adalah hal yang mudah. Dengan uang dan kekuasaan yang dimiliki dirinya, apa saja bisa dia lakukan dan dia dapatkan.


"Sayang, ada yang menelfon." Ujar Nadya kepada Brydan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, bulir-bulir air yang masih tersisa dan jubah mandinya. Brydan mengambil handphone nya dari Nadya.


"Siapa, Sayang?" Tanya Nadya, setelah Brydan memutus sambungan telfon.


"Hanya klien." Jawab Brydan kemudian melangkah ke ruang ganti untuk memakai piyamanya. Nadya mengambil dan melihat-lihat handphone Brydan. Handphone yang bagus, dengan harga yang fantastis. Bahkan satu handphone itu bisa untuk membeli satu sepeda motor. Karena handphone yang dimiliki Brydan itu tahan air. Tetapi Nadya heran, mengapa Brydan tidak mengunci nya? Padahal kan di handphone itu ada banyak hal-hal yang penting.


"Kenapa melihat handphone ku seperti itu?" Tanya Brydan, dia sudah selesai memakai piyama.


"Kenapa kamu tidak menguncinya, Sayang?" Ujar Nadya.


"Karena handphone itu tidak akan bisa digunakan selain olehku dan Dendy." Jawab Brydan, dia merangkak naik keranjang dan duduk bersandar bersebelahan dengan sang istri.


"Maksudnya Sayang?" Jiwa ke-kepoan Nadya sudah meronta-ronta untuk mengorek informasi lebih dalam lagi.


"Handphone itu tidak akan bisa digunakan oleh siapapun kecuali aku dan Dendy. Karena di dalam handphone itu sudah tercantum namaku, dan jika kau ingin dia berfungsi dengan baik, maka kau harus mengeluarkan suaramu. Dan jika itu bukan suaraku, maka handphone itu akan langsung mati. Intinya handphone itu bisa mendeteksi suara. Jika handphone nya sudah mati, karena suara yang keluar bukan suaraku, maka hanya sidik jariku dan Dendy yang bisa menghidupkannya kembali." Jelas Brydan panjang lebar kepada Nadya.


"Berapa harga handphone ini, Sayang?" Tanya Nadya lagi.


"Tanya Dendy, aku tidak mau tahu tentang hal yang tidak penting." Kata Brydan.


"Jangan banyak tanya, ayo makan!"


***


Makan telah usai, kini mereka tengah duduk di bersebelahan di sofa kamar.


"Sayang?"


"Hmm."


"Apa aku boleh meminjam handphone mu?"


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk melihat, kau memberikan aku nama apa di handphone mu?"


Akhirnya Brydan memberikan handphone nya yang telah dia buka kepada Nadya. Dan Nadya mencari di daftar kontak. Dia mengetik nomornya dan keluarlah nama yang diberikan Brydan kepada dirinya.


Kenapa aku jadi salah tingkah begini sih? Dia memberiku nama romantis sekali. Sampai aku ingin mencakar nya!


"Kau memberikan aku nama 'Dear Pendek', kenapa? Dan siapa pencetus ide ini?"


"Karena aku suka, dan itu ide ku! Kenapa? Kau mau marah? Ayo marah kalau berani."


"Hehehe, tidak Sayang. Aku hanya berterimakasih karena kamu sudah memberikan nama yang romantis."


Sampai aku mau mengeluarkan lidah mu dari tempatnya!


"Jangan memaki ku!"


Apa dia ini anak indigo. Kenapa dia selalu bisa menebak apa yang aku pikirkan. Selain Sekertaris Dendy, hanya dia orang yang bisa melakukan itu.


"Hehe, aku mana berani Sayang."


"Bagus!"


_____________________ 00 _____________________


"Sayang, ayo bangun dan mandi. Ini sudah pagi." Nadya sedang berusaha untuk membangunkan si pangeran tidur. Kalau saja wajahnya tidak tampan, mungkin Nadya akan menyebutnya algojo tidur.


Selang beberapa jam, kini Brydan sudah siap untuk berangkat bekerja. Dan seperti biasa, sang istri akan mengantarkannya. Begitulah Brydan, dia mau sang istri selalu ada ketika dia hendak bekerja dan ketika dia pulang bekerja. Dia ingin senyuman istrinya menjadi hal pertama yang dia lihat saat pulang bekerja. Dan dia akan marah jika sang istri tidak menyambutnya. Tapi dia akan memaklumi dalam hal tertentu, contohnya jika sang istri tengah tertidur karena lelah.


***


Kemarin Nadya sudah katakan kepada Fanny, bahwa hari ini dia akan mengajarkan Fanny cara menggunakan make-up. Dan sekarang Fanny pun sudah siap di posisi.


Karena Nadya tidak terlalu pandai menggunakan make-up tebal, jadi dia hanya bisa mengajarkan Fanny menggunakan make-up natural saja. Natural lebih cantik dan tidak berlebihan menurutnya. Perlahan tapi pasti, Fanny mulai menguasai apa yang diajarkan oleh Nadya. Fanny mencoba apa yang tadi diajarkan oleh Nadya. Dengan tetap dipantau oleh Nadya, karena Nadya akan menegur Fanny ketika Fanny melakukan kesalahan.


"Bagaimana, Nyonya?" Tanya Fanny saat dia sudah selesai merias dirinya sendiri.


"Ahhh, kau pandai Fanny. Ya seperti itu." Ujar Nadya dengan antusias, dia suka sekali melihat wajah cantik Fanny. Entah kenapa.

__ADS_1


Dan akhirnya Fanny benar-benar sudah bisa menggunakan make-up natural seperti Nadya. Dan sementara Fanny menggunakan peralatan milik Nadya, karena dia belum membelinya. Dan nanti dia akan membeli secara online saja. Selama ini Fanny memang tidak pernah membeli make-up, jadi Nadya ikut andil dalam hal ini. Fanny hanya membeli beberapa skincare saja untuk merawat kulitnya agar tidak kusam.


"Sudah aku pesan, Fan. Jadi, mungkin nanti akan datang. Kalau sudah datang, kau sering-sering pakai ya. Supaya tidak terlalu kaku." Kata Nadya.


"Baiklah, Nyonya. Terimakasih atas ilmunya."


"Santai saja, Fan."


Setelah itu, Nadya merapikan alat-alat make-up nya dan menaruh kembali di tempatnya. Nadya memang punya satu set lengkap peralatan make-up. Tapi Brydan yang membelikannya. Karena pencetus ide untuk berdandan adalah Brydan. Jadi Brydan sudah menyediakan semua yang dibutuhkan.


Nadya senang sekali, karena kali ini dia bisa membagikan ilmu yang dia punya kepada Fanny. Dia memang bukan orang yang pelit untuk hal seperti itu. Jadi dengan senang hati dia akan mengajarkan ilmu yang dia punya. Kepada siapapun itu, dia bukanlah tipe orang yang pemilih dalam berteman. Bukan berarti dia mau berteman dengan orang gila dan orang yang nakal alias orang yang jalan hidup dan masa depannya sudah amburadul.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗✨


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang 😁


Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah

__ADS_1


IG : @cynshindi


Nanti juga bakalan ada info perihal novel ini di IG aku yah 🤗


__ADS_2