Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-32 Gunung es yang manja.


__ADS_3

Ting.. Ting..


Suara benturan sendok dan piring saling bersahutan. Kini Nadya dan Brydan tengah menikmati makan malam mereka. Selang beberapa menit, akhirnya makan malam pun usai. Keduanya kembali menuju ke kamar mereka. Hari ini pekerjaan Brydan tidak terlalu banyak, jadi dia tidak perlu lagi bekerja di mansion.


Nadya dan Brydan tengah duduk bersandar di kepala ranjang. Dengan pandangan yang terfokus pada ponsel masing-masing.


"Sayang besok aku mau jalan-jalan yah bersama Tica." Ujar Nadya. Karena Tica baru saja memberitahu kalau besok Edward mengajak Nadya bertemu di taman.


"Asalkan Fanny ada." Hanya itu yang Brydan katakan.


"Tentu, Sayang."


"Kalau begitu kau harus membayar atas izinku tadi." Brydan kembali menindih tubuh istrinya, dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi.


____________________ 00 ______________________


Nadya sudah bersiap untuk pergi ke taman setelah mengantar suaminya. Dia melangkah masuk ke dalam mobil.


***


Di taman mereka bertiga berkumpul, siapa lagi kalau bukan Nadya, Tica dan Edward. Dan Fanny yang dengan setia berdiri di belakang Nadya.


"Nadya kenapa kau sulit untuk dihubungi?" Tanya Edward, karena dia heran Nadya selalu saja menolak panggilan nya. Dan pesannya pun jarang dibalas oleh Nadya.


"Hehehe, aku sibuk." Nadya berbohong kepada Edward, jelas dia takut Brydan marah.


"Nadya itu memang begitu, jangan kan kamu. Aku saja juga jarang direspon kok sama dia." Kata Tica menimpali ucapan mereka berdua. Sebenarnya Tica hanya membantu Nadya, karena dia tahu orang seperti apa suami Nadya.


Dan hari ini mereka menghabiskan waktu untuk berpiknik di taman. Edward lah yang menyediakan semuanya. Dia membawa satu tikar lumayan besar. Satu set makanan beserta alat makannya. Dan Nadya sangat antusias, tahu begitu tadi dia saja yang membawa tempat makannya. Begitupun dengan Tica, dia terlihat begitu antusias. Karena jarang mereka melakukan piknik seperti sekarang ini.


Jujur saja, sikap Edward yang seperti ini sungguh membuat mereka senang. Edward memang mudah akrab dengan siapapun. Terbukti sekarang. Mereka makan sambil bercengkrama, Nadya menceritakan tentang kisah masa kecilnya di kampung, pun dengan Tica yang menceritakan kisah masa remajanya di kampung. Dan Edward hanya menjadi pendengar yang baik, dengan sesekali tertawa karena kekonyolan dua wanita di hadapannya ini.


Edward terlihat mengerlingkan sebelah matanya kepada seseorang. Dan diangguki oleh orang tersebut. Edward yakin kali ini rencananya akan berjalan lancar. Dia benar-benar akan membalas orang yang telah membohongi dirinya. Saat mereka telah usai makan, Edward meminta Fanny untuk memotret mereka bertiga melalui handphone Edward. Mereka bertiga berpose dengan lucu. Edward berpose dengan merangkul kedua teman barunya itu. Dan setelah itu mereka kembali duduk menikmati indahnya pemandangan taman, Nadya bertanya kepada Edward.


"Ed, kau tidak kuliah?" Tanya Nadya.


"Aku sudah lulus beberapa hari yang lalu, aku kuliah di luar negeri."


Dan mereka kembali bercengkrama mengenai ini dan itu. Setelah dirasa hari sudah sore, Nadya pamit kepada kedua temannya untuk pulang terlebih dahulu. Dan diikuti oleh Tica. Sebelumnya mereka sudah membersihkan semua kekacauan yang mereka buat tadi.


"Aku akan membuat grup chat untuk kita bertiga, sehingga kalau kita hendak hang out lagi. Jadi aku bisa langsung menyampaikan melalui grup." Ujar Edward sebelum berpisah.


"Terserah mu saja, Ed."


"Baiklah."

__ADS_1


Sesampainya di Mansion Brydan, Nadya langsung membersihkan dirinya. Dia berendam sebentar, kemudian mulai memakai sabun dan shampoo nya. Setelah 20 menit, dia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe alias jubah mandi berwarna putih. Dia memakai piyama nya dan bersiap menyambut kedatangan sang suami. Sebenarnya dia sangat lelah dan ingin sekali tidur mengistirahatkan tubuhnya. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mau membuat suaminya marah.


Sambil menunggu sang suami pulang, dia memainkan handphone nya. Dan benar saja dia sudah bergabung dengan sebuah grup yang berisikan tiga member.


'Trio Ondel-ondel' nama dari gruop itu. Dengan Tica, Edward dan dirinya sebagai member.


"Hai Guyss." Edward mengirim pesan.


"Holla." Balas Tica.


"Juga." Balas Nadya.


"Lagi pada ngapain nih?" Edward.


"Nafas." Tica.


"Duduk sambil main handphone." Nadya.


"Wihh, kayanya seru ya, Tic." Edward.


"Seru dong, apalagi kalau tidak usah bernafas semakin seru." Tica.


"Wkwkwk, awokawok." Nadya.


"Udah dulu ya, Guys. Bye!" Nadya.


"Bye!" Tica dan Edward.


Karena sang suami sudah pulang, akhirnya Nadya menyudahi obrolan bersama teman-temannya.


***


"Mandi dulu ya, aku sudah siapkan airnya." Ujar Nadya. Saat pulang bekerja tadi, Brydan terlihat lesu dan tidak fit seperti saat berangkat. Brydan meminta Pak San untuk mengantarkan saja makan malamnya ke kamar. Dan dia meminta Nadya untuk menyiapkan air hangat. Tanpa diminta pun Nadya akan melakukannya, karena melayani Brydan memang sudah menjadi kewajibannya.


Kini Brydan tengah rebahan di ranjang, perutnya seperti tidak enak. Saat makan tadi, Nadya yang menyuapi dan itu pun hanya beberapa suapan. Brydan terus saja bersendawa, dan Nadya sudah tahu pasti Brydan kini tengah masuk angin. Akhirnya dia meminta pelayan mengambilkan koin dan minyak angin. Setelah mendapat apa yang dia pinta, dia melangkah menuju ranjang.


"Sayang ayo bangun, kau ingin sembuh atau tidak?"


"Aku mau diapakan? Besok Meysha akan kemari." Brydan sudah melihat keanehan yang akan terjadi, jadi dia menolak sebelum terjadi. Mana ada trik pengobatan dengan menggunakan koin? Pikirnya.


"Ayo Sayang. Bangun kataku!" Nadya berusaha menegakkan tubuh Brydan. Akhirnya Brydan duduk dengan membelakangi Nadya. Ia membuka piyamanya di bagian atas.


Dan Nadya sudah bersiap dengan membalurkan Minyak angin di punggung Brydan, kemudian dia mengeroknya dengan koin. Brydan sedikit kesakitan, karena dia tidak terbiasa. Tapi lama-kelamaan dia sudah terbiasa dan menikmati itu.


"Kau masuk angin, lihatlah ini merah sekali."

__ADS_1


"Karena kulitku cerah!"


"Besok akan membaik."


"Terimakasih."


Dan kali ini mereka tertidur dengan posisi Nadya yang memeluk Brydan, Brydan menyembunyikan kepalanya di dada sang istri. Dan Nadya baru melihat sisi manja seorang gunung es yang terkenal dingin.


Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Nadya membelai rambut suaminya. Sesekali dia menciumnya. Begitu terus sampai Brydan benar-benar terlelap. Dan Nadya menyusul sang suami ke alam mimpinya.


Aku rela terus sakit jika diperlukan seperti ini.


Gunung es yang manja.


Cinta sudah tumbuh seiring berjalannya waktu. Tanpa harus izin dari sang pemilik hati. Tanpa harus ada kesadaran dari sang pemilik jiwa dan raga. Tanpa Nadya sadari Brydan sudah mencintai dirinya dan begitupun sebaliknya. Dan mereka harus selalu bersiap untuk menghadapi konflik yang akan muncul di perjalanan rumah tangga mereka. Jika mereka bisa menyelesaikan, maka ikatan cinta mereka akan semakin kuat. Dan sebaliknya, jika mereka tidak bisa menyelesaikan, maka ikatan cinta yang sudah ada dan bersemi akan berangsur musnah.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang ✨


Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah


IG: @cynshindi


Nanti bakalan ada info perihal novel ini di IG aku yah😁

__ADS_1


__ADS_2