
Ceklek.
Manusia yang sedari tadi ditunggu akhirnya keluar juga dari persembunyiannya. Brydan sudah menghukum sang istri dengan caranya sendiri. Nadya pun tengah tertidur dengan lelapnya karena kelelahan. Dengan santainya Brydan keluar, Sekertaris Dendy langsung berdiri dari duduknya.
Ia mempersilahkan Brydan untuk duduk. Begitupun dengan Fanny, dia langsung berdiri dari duduknya dan menundukkan kepalanya. Tidak lama kemudian, Brydan bangun dari posisinya.
"Kalian berdua ke ruang kerjaku!" Titah Brydan kemudian berjalan mendahului kedua bawahannya itu. Dengan angkuhnya dia duduk di sofa ruang kerjanya. Dia menyimpangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya.
"Duduk!" Dengan ragu, Fanny duduk di sofa seberang Brydan. Sekertaris Dendy tetap berdiri di sebelah sofa yang Brydan duduki.
"Kau tau apa kesalahanmu?" Ujar Brydan dengan tatapan mata yang begitu menusuk. Seakan-akan tengah berhadapan dengan mangsanya.
"I.. iya Tuan." Sahut Fanny dengan gugup. Bukan hanya tangan bahkan seluruh tubuhnya sudah gemetar. Jantung nya sudah berdetak dengan cepat, seperti habis lari maraton saja. Fanny sedikit menghela nafasnya untuk meminimalisir kegugupan dalam dirinya.
Kali ini aku pasti akan tamat. Tuan pasti akan menelanku bulat-bulat. Seperti aku menelan sandwich tadi. Gegara rencana gila ini membuat semuanya kacau. Kemana kau, kumohon datanglah. Batin Fanny.
"KAU SUDAH MELANGGAR PERINTAHKU!" Tiba-tiba saja Brydan mengeluarkan suara dengan volume yang begitu keras. Siapa saja yang mendengarnya pasti akan terkejut. Fanny bahkan sampai mengelus dadanya.
"Ma.. maaf Tuan." Hanya itu yang bisa Fanny katakan. Lidahnya kelu, bibirnya seakan berat untuk digerakkan. Jantung nya terus berpacu dan berpacu. Bukannya hilang, kegugupannya justru semakin menjadi. Gemetaran ditubuhnya sudah sedikit ketara oleh Sekertaris Dendy.
"APA MAAF MU BERGUNA?" Bentakan keras kembali Brydan layangkan untuk bodyguard sang istri.
"Kau sudah membuat istriku dalam bahaya. APA YANG AKAN KAU PERBUAT JIKA ISTRIKU TERLUKA?" Fanny hanya diam tidak berniat menjawab hardikan tuannya. Kali ini dia akan diam saja. Mungkin diam adalah emas baginya. Posisinya sedang terjepit sekarang, antara Sekertaris Dendy dan Brydan.
Jika dia mengangkat kepalanya dia akan langsung mendapatkan tatapan tajam dari tuannya. Tapi jika dia menunduk, Sekertaris Dendy yang akan menatapnya dengan tajam. Sungguh tidak enak berada di posisi seperti saat ini. Ingin rasanya Fanny menenggelamkan diri di kubangan lumpur saja. Agar tidak lagi bisa ditemukan.
"Apa kau bisu? Apa bayaran yang aku berikan untukmu masih kurang? Hingga kau berani melanggar kepercayaan ku! Aku sudah memberimu kepercayaan ku! Dan kau tahu, tidak semua orang bisa mendapatkan itu!" Brydan mulai sedikit tenang terlihat dari nada bicaranya yang sedikit menurun. Tetapi tidak dengan tatapan tajam nya.
"Ambil surat pemecatan, Den!" Ujar Brydan melirik sekilas ke arah Sekertaris Dendy. Dan seketika air mata Fanny keluar sudah. Tubuhnya langsung dia jatuhkan di kaki Brydan. Memohon pengampunan agar tidak dipecat. Dia menangis histeris, dia berkata-kata sambil bercucuran air mata.
Sungguh iba bagi siapapun yang melihatnya. Tetapi tidak dengan Brydan, baginya sekali hitam maka selamanya akan tetap hitam. Dia sudah memberi Fanny kepercayaan, tetapi Fanny melanggarnya. Maka tidak ada lagi kata maaf untuk Fanny.
"Saya mohon jangan pecat saya, Tuan. Hikss... hiksss. Saya masih membutuhkan pekerjaan ini. Saya janji tidak akan lagi melakukan kesalahan. Saya akan menjaga Nyonya dengan nyawa saya."
***
"Tuan Edward?" Ujar Pak San. Samar-samar dia melihat seorang pria masuk ke dalam mansion. Hampir saja dia memarahi penjaga, tetapi diurungkan saat melihat siapa yang datang.
"Pak San, apa kakakku ada?" Tanya Edward.
"Apa kabar, Tuan. Tuan Brydan ada di ruang kerjanya, Tuan." Kata Pak San sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Ahhh, aku baik Pak San. Aku duluan ya, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan kakak." Dan Edward langsung berlalu dari hadapan Pak San.
__ADS_1
Tap. Tap. Tap.
Dia melangkah dengan gagahnya, bahkan semua pelayan membungkukkan badannya saat melihat siapa yang datang.
Ceklek.
Pintu ruang kerja Brydan terbuka, hampir saja sang pemilik ruangan marah. Tapi kembali datar saat melihat siapa yang masuk.
Deg.
Hati Edward sakit saat melihat kejadian di ruangan yang baru saja dia masuki. Dia membulatkan matanya. Tak terasa air matanya menetes, dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini.
"Kakak."
"Kakak sedang ada urusan. Keluar Edward!" Titah Brydan tetapi tidak didengar oleh sang adik.
"Kak akulah yang bersalah. Dia hanyalah membantuku untuk semua ini. Dia adalah kekasihku, Kakak. Kumohon jangan pecat dia, demi aku, Kakak." Brydan masih mencerna ucapan sang adik. Bahkan dia sekarang ikut berlutut dihadapan kakaknya bersama Fanny.
"Duduk!" Edward membantu Fanny berdiri dan mereka berdua duduk bersebelahan di sofa seberang Brydan.
"Jelaskan!"
"Jadi begini Kak, aku sudah menjalin hubungan dengannya sejak beberapa bulan yang lalu. Singkat cerita, aku mendapat kabar darinya kalau dia bekerja di sebuah mansion besar dan majikannya bernama Brydan. Aku pun meminta penjelasannya, dia menjelaskan semua tentang Kakak kepadaku. Dan aku tidak percaya satu hal, nama istri kakak. Dia bilang namanya Nadya, sedangkan setahuku Kakak sedang berhubungan dengan Velyn.
"Dasar kau yah! Kakak akan menghukum mu!" Ujar Brydan.
"Kakak akan memindah tugaskan kekasihmu jauh dari sini."
"Kakak jangan, Kak. Kakak aku mohon, mana kakak ipar, aku ingin bicara." Dia tahu kunci dari Brydan adalah Nadya. Dia harus berbicara kepada Nadya supaya Brydan tidak memindah tugaskan kekasihnya.
"Aku sudah menghukum kakak ipar mu! Dan jangan coba-coba menghubungi nya. Atau kau akan menyesal!" Jika Sang Penguasa sudah bertitah, biarpun itu adik kesayangannya, tidak akan berani melawannya.
"Den, bawa Fanny pergi." Titah Brydan, dan dengan sigap Sekertaris langsung mempersilahkan Fanny untuk keluar.
"Kakak, aku mohon."
"Kau tinggalah di sini. Kau ini selalu membantah Kakak!" Membantah katanya? Bahkan Edward mematuhi dirinya untuk kuliah di luar negeri. Edward sampai rela berjauhan dengan sang kekasih demi membanggakan kakaknya.
"Baiklah, tapi kumohon jangan jauhkan aku dari kekasihku!"
Sebenarnya Brydan hanya mengerjai adiknya saja. Di sisi lain, dia senang jika tau wanita yang berhubungan dengan sang adik adalah wanita baik-baik. Dia tentu sudah menyelidiki semua mengenai Fanny. Dan menurutnya Fanny adalah gadis yang pas untuk sang adik yang sedikit nakal.
"Jangan keluar dari mansion selama kakak tidak mengizinkanmu! Jika tidak, Kakak akan menarik semua fasilitas mu!" Ujar Brydan.
__ADS_1
"Iya iya." Edward sudah pasrah jika sang kakak sudah bertitah. Jika Brydan bilang tidak, jangan sampai Edward melanggar, atau dia akan dihukum seperti sekarang ini. Kakaknya memang tidak pemilih dalam menghukum, biarpun itu adik kesayangannya.
"Jangan temui kakak ipar mu selama seminggu. Kakak sedang menghukumnya!"
"Kakak ini memang kejam. Istri sendiri saja dihukum. Adiknya juga dihukum!" Edward sedikit bergumam, tapi entah mengapa perasaannya tidak enak. Dan benar saja, perkataannya barusan didengar jelas oleh Brydan.
"Kau berani mengatai Kakak kejam?" Dengan pelototan mata Brydan menatap sang adik.
Ishh dasar mulut.
"Ti.. tidak Kakak. Aku sayang Kakak, Bye!" Edward langsung keluar dari ruangan sebelum dia kembali dihakimi oleh sang kakak.
Brydan dibuat geleng-geleng kepala oleh tingkah sang adik. Adiknya selalu saja bersikap imut jika dihadapannya. Brydan tahu bahwa sang adik sudah mempunyai usaha sendiri. Dan dia mendukung apapun jalan yang diambil oleh adiknya. Selama itu hal yang positif dan berfaedah.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
IG : @cynshindi.
Nanti bakalan ada info perihal novel ini kok di sana.
__ADS_1