Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-66 Temukan adikmu, Nak.


__ADS_3

Hari ulang tahun Nadya telah terlewat. Berbagai kejutan telah diterimanya. Entah itu dari sang suami, dari sahabat atau pun dari adik iparnya. Kemarin Edward memang tidak hadir di acara ulang tahun Nadya, karena dirinya harus menghadiri meeting dengan kliennya di luar kota. Dan baru sampai di mansion pada malam hari. Jadilah ia memberikan kejutan untuk Nadya di malam hari.


***


Seusai mengantarkan suaminya ke pintu utama mansion. Nadya segera saja kembali ke kamarnya. Untuk memastikan sesuatu yang ia temukan kemarin. Liontin hati, yang kemarin ia temukan di meja gedung tua itu.


Sebenarnya gedung tua itu adalah tempat shooting sebuah film. Dimana gedung itu memang sengaja dibiarkan terlantar. Namun, ada beberapa ruangan yang masih dirawat, seperti aula dan beberapa ruangan lainnya. Nadya mengetahui hal ini dari sang suami. Karena kemarin ia sempat bertanya kepada Brydan.


"Sebenarnya liontin ini milik siapa? Kenapa serupa dengan milikku?" Gumam Nadya, ia bermonolog kepada dirinya sendiri. Ia masih heran kenapa liontin yang ia temukan itu begitu mirip dengan miliknya. Saat liontin itu dibuka, maka akan ada sebuah foto di dalamnya. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah foto ibunya, adiknya, ayahnya dan dirinya.


Untuk memastikan, akhirnya Nadya membuka liontin itu perlahan.


Deggg.


"I.. ini sama? A.. adikku masih hidup? Ya, adikku pasti masih hidup. Aku ingat betul apa yang dikatakan ibu saat itu." Ia berbicara lirih.


Flashback On


Sebelum kepergian sang ibu, Nadya sempat menanyakan satu hal kepada ibunya. Dan ibunya pun berpesan sesuatu kepada putri kesayangannya itu. Dimana saat itu, sang ayah telah pergi mendahului ibunya ke hadapan sang ilahi.


"Ibu, apa benar adikku sudah tiada?" Ujar Nadya dengan suara lirih kepada sang ibu yang kini tengah sakit parah.


"Nak, temukan adikmu. Dia masih hidup, Nadya. Ibu hanya ingin menyampaikan, bahwa kalian memiliki benda yang sama, liontin hati dan ada foto keluarga kita di dalamnya, Nak." Ujar sang ibu dengan suara lemah.


Nadya bergetar hebat mendengar hal itu. Ibunya bahkan tidak pernah menceritakan satu hal pun mengenai sang adik. Baru kali ini ibunya memberikan satu fakta mengenai dirinya dan snag adik. Nadya benar-benar tidak tahu dimana adiknya berada.


"Adikmu memiliki tanda lahir di belakang telinganya, Nak."


"Tapi, Bu, kenapa adik tidak hidup bersama kita? Kenapa adik harus hidup terpisah?" Tanya Nadya dengan suara yang bergetar. Ia benar-benar ingin melihat satu menit saja wajah adiknya.


"Maafkan ibu, Nak. Seiring berjalannya waktu, kebenaran pasti akan terungkap. I.. ibu yakin, kamu adalah anak yang baik. Do'a ibu selalu menyertai hidupmu, Nadya."


Setelah berkata demikian, sang ibu harus pergi untuk selamanya. Menghadap sang ilahi bersama ayahnya. Kini, Nadya harus hidup sebatang kara. Dimana tak ada satu sanak saudara pun yang menemani dirinya. Karena ayah dan ibu Nadya sama-sama anak tunggal dalam silsilah keluarga mereka.


Bahkan pada saat itu Nadya masih duduk di bangku SMA. Terpaksa ia harus bekerja keras untuk membiayai sekolahnya. Ia tidak mau putus sekolah, selama ini ibu dan ayahnya telah bekerja keras membanting tulang demi pendidikannya. Maka, ia yakin ia pasti bisa.


***

__ADS_1


"Na.. Naddie? Apa benar dia adikku? Aku harus memastikannya! Ibu pasti menyimpan sesuatu di rumah lama, pasti ada petunjuk di sana." Ucap Nadya dengan yakin. Rumah lama yang ia maksud adalah rumahnya yang dulu berada di kampung. Nadya memang sengaja tidak menjual rumah itu, karena di rumah itu ada banyak kenangan dirinya bersama keluarga.


"Aku harus meminta bantuan Brydan. Aku akan menyelidikinya, Ibu. Aku pasti akan menemukan adik untuk kita," monolognya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Kakak pasti akan menemukan dirimu! Tunggu kakak datang, adik! Jika ibu menitipkan liontin ini, itu artinya adikku adalah wanita. Ya, dia pasti wanita.


Nadya akan menyelidiki ini lebih dalam lagi. Ia tidak boleh sembarangan mengklaim orang lain sebagai adiknya. Apalagi hubungan dirinya dengan Naddie bisa dibilang tidak baik.


***


Di tempat lain, seorang wanita tengah tertawa dengan penuh kemenangan. Selangkah lagi rencananya pasti akan tercapai. Yaitu, menghancurkan Nadya! Siapa lagi kalau bukan Naddie.


Ia bahkan mengancam ayah dan ibunya untuk melakukan sesuatu. Dengan sangat terpaksa ayah dan ibunya harus terlibat dalam permainan putrinya sendiri. Sebenarnya mereka tidak sanggup, dengan melakukan ini. Mereka sama saja mengkhianati orang yang selama ini mereka anggap putra mereka sendiri.


Tetapi jika mereka tidak melakukannya, maka mereka akan kehilangan putri semata wayang mereka. Dengan sangat terpaksa, mereka mengiyakan permintaan gila putri mereka sendiri.


Gerald sebagai ayah, benar-benar merasa gagal dalam mendidik putri semata wayangnya itu. Begitupun dengan Karin yang sama sekali tidak menyangka putrinya akan bertindak senekat dan sejauh ini.


Apalagi sampai mengancam akan bunuh diri, jika kedua orangtuanya tidak mengikuti rencana gilanya.


Entah apa yang dipikirkan oleh wanita ular itu. Tetapi yang jelas, hanya Nadya lah incarannya sekarang. Ia sudah menetapkan dalam hatinya, bahwa ia pasti akan menghancurkan siapapun yang merebut Brydan. Walaupun seharusnya dialah yang pantas diklaim sebagai perebut. Bukan malah Nadya, yang notabene nya adalah istri sah Brydan.


***


"Nyonya, telurnya gosong!" Karena terlalu banyak melamun, Nadya sampai lupa kalau dirinya tengah menggoreng telur. Nadya sedang ingin makan mie instan dengan telur setengah matang. Ia juga membuatkan Fanny juga, kan tidak enak hati kalau hanya makan sendirian. Ia bukan tipe majikan yang pelit.


"Astaga, aduh cerobohnya aku. Fan, kita buang saja ya, tolong ambilkan aku yang baru." Dengan cekatan Fanny mengambilkan satu telur lagi untuk Nadya, di lemari pendingin.


Dan mereka pun kembali melanjutkan acara masak-masak siang ini. Setelah jadi, Fanny menaruh mie di piring dan disandingkan dengan beberapa sayuran seperti timun. Kemudian dengan hiasan telur ceplok setengah matang di tengah-tengah mie.


"Ayo Fan, saatnya makan! Hehe."


"Siap, Nyonya."


Mereka menyantap hidangan masing-masing di meja makan. Sembari mengobrol ringan mengenai kehidupan masing-masing. Namun tetap saja, pikiran Nadya masih berpusat pada liontin hati itu.


Setelah menyelesaikan makan siang, Nadya dan Fanny menghabiskan waktu untuk bermain bersama Cemong. Yang sekarang terlihat lebih gemoy dan bulunya semakin lebat. Nadya beberapa kali memotret Cemong. Sekarang Cemong memang sudah memiliki rumahnya sendiri.

__ADS_1


"Fan, kemana Edward?"


"Setelah sarapan, dia pergi untuk mengontrol proyek barunya, Nyonya. Edward sedang membuka cabang baru untuk Restorannya, Nyonya." Jelas Fanny.


"Owh, good luck yah buat Edward."


"Akan saya sampaikan, Nyonya."


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang ✨


Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah, ayo ramaikan 💖


Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah


IG: @cynshindi

__ADS_1


Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.


__ADS_2