
Saat tengah asyik-asyiknya bersenda gurau bersama kekasih tercintanya, tiba-tiba saja Fanny mendapatkan telfon dari sang majikan, siapa lagi kalau bukan Brydan.
Brydan hendak membahas mengenai perpindahan tugas Fanny. Dan hal itu sukses membuat pikiran dan hatinya menjadi kacau. Fanny benar-benar belum bahkan tidak siap sama sekali untuk menjalani tugas baru.
Dia sudah terlanjur klop dengan istri majikannya. Dia sudah terlanjur mencintai mansion yang kini dipijaknya. Hati yang tadinya sudah sedikit lega, kini kembali kabut. Pikirannya pun tengah dilanda kekacauan.
Edward yang melihat perubahan mimik wajah Fanny, langsung bertanya. Dia khawatir ada hal buruk yang terjadi kepada pujaan hatinya itu.
"Apa yang dikatakan oleh kakak, Sayang?" Tanya Edward. Edward berusaha terlihat tenang karena Edward tidak mau membuat sang kekasih bertambah kacau. Jika dirinya ikut-ikutan panik.
Fanny masih saja melamun, pikiran dan hatinya sedang kacau. Kesadarannya seakan terenggut entah kemana, membuat pikirannya sama sekali tidak merespon perkataan yang dilontarkan Edward. Hingga Edward menepuk pelan bahunya, barulah dia tersadar dari lamunannya.
"Are you okey? Apa yang dikatakan kakak, Sayang?" Edward kembali melontarkan pertanyaan yang belum sempat terjawab tadi.
Tapi tiba-tiba saja Fanny menggelengkan kepalanya dan langsung menyentak Edward dengan pelukan mendadak. Edward sampai sedikit terjungkal karena mendapat pelukan mendadak.
"Tuan Brydan meminta aku untuk datang ke kantornya. Beliau hendak membicarakan persoalan perpindahan tugas untukku. Hiks... Aku tidak mau pindah, aku sudah nyaman disini. Aku sudah merasa klop bersama Nyonya. Aku sudah..." Fanny terisak dalam dekapan hangat sang kekasih.
Dia bahkan sampai tidak bisa melanjutkan kata-katanya, saking sesaknya.
Edward mengurai dekapannya dan memberikan penjelasan yang mungkin saja bisa menenangkan hati kekasihnya. Dia berusaha sebaik mungkin untuk membuat hati dan pikiran Fanny kembali rileks.
Edward menghapus jejak air mata Fanny dengan ibu jarinya. Dia menunggu sampai isakan Fanny mulai mereda, barulah Edward menjelaskannya.
"Sayang, dengarkan aku! Jika kamu sudah merasa nyaman di mansion ini, maka aku akan membantu dirimu untuk tetap bekerja disini. Jika kamu sudah nyaman bersama Kakak ipar, maka aku akan berusaha untuk membujuk kakak ku supaya tidak memindahkan dirimu. Kamu tidak perlu menangis, aku rela menyembah di kaki kakak ku demi dirimu. Jadi kumohon jangan lagi jatuhkan air mata mu. Hatiku sakit melihat mu seperti ini. Kamu paham kan?" Kata-kata yang Edward berikan, sedikit membuat hati Fanny menjadi tenang. Dan pikirannya juga tidak se-kacau tadi.
"Mari kita temui kakak."
Keduanya pun bersama-sama menuju kantor Brydan. Edward menemani Fanny, guna membantu sang kekasih agar tidak dipindah tugaskan.
***
"Selamat siang, Tuan Brydan dan Sekertaris Dendy." Ucap Fanny yang kini sudah duduk di sofa ruangan Brydan.
Dengan Edward di sebelahnya yang terus memberinya semangat dengan menggegam tangannya. Sekertaris Dendy sampai terharu melihatnya. Tidak menyangka, se-sayang itukah Tuan kecil kepada kekasihnya? Pikir Dendy.
"Den, jelaskan!" Titah Brydan tanpa berpindah dari kursi kebesarannya. Dan dengan sigap, Dendy langsung memberikan file yang berisi keterangan perpindahan tugas kepada Fanny.
"Silahkan tandatangan." Ucap Dendy dengan senyuman aneh yang tersungging di bibir tebalnya.
__ADS_1
Fanny sudah menunduk sedari tadi. Bukan apa, air matanya sudah siap untuk meluncur. Edward yang melihat air mata Fanny menetes, langsung berdiri dan menghampiri Brydan.
"Kakak aku mohon jangan pindahkan kekasihku. Demi aku, Kak. Kakak boleh menghukum diriku sepuas hati Kakak. Asalkan Fanny tetap bekerja bersama Kakak ipar." Edward mencoba membujuk Brydan. Tetapi yang diajak bicara tetap tidak bergeming. Dan tidak ada niatan untuk membuka katupan bibirnya.
Dan Brydan hanya menggeleng kepala sebagai jawaban. Sontak hal itu membuat Edward bingung harus melakukan apa. Akhirnya dia bertekuk lutut menyentuh kaki Brydan.
"Ed, Bangun!" Sentak Brydan. Dia tidak suka adiknya menghibah kepada siapapun juga.
"Tidak, Ed tidak akan bangun sampai Kakak mencabut keputusan Kakak. Ed janji akan patuh apapun perintah Kakak, asalkan Fanny tidak dipindah tugaskan."
Fanny yang melihat Edward sampai sebegitunya rela jatuh untuk dirinya. Fanny benar-benar dibuat speechless. Fanny berdiri dari duduknya, dia ikut bertekuk lutut bersama Edward. Dan Brydan maupun Dendy tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak tertawa.
Brydan dan Dendy tertawa dengan begitu lantang. Bahkan Brydan sampai mengeluarkan air mata saking kerasnya tertawa. Edward perlahan-lahan mulai paham, dia sudah mengetahui sekarang. Kakaknya mengerjai dirinya!
Edward langsung berdiri dan menginjak sepatu Brydan dengan keras. Kemudian dia membantu Fanny berdiri dan kembali duduk di tempat semula.
Brydan tidak mempedulikan injakan yang diberikan oleh Edward, dia sudah berlarut pada tawa yang tidak kunjung berhenti. Begitupun dengan Sekertaris Dendy.
Edward sukses dibuat kesal oleh dua manusia itu. Akhirnya dengan berani dia bangkit kembali dari duduknya dan menginjak kaki Sekertaris Dendy dengan sangat keras.
"Arghhhhh." Sekertaris Dendy sampai mengaduh kesakitan. Sontak hal tersebut mengundang perhatian Brydan. Brydan menghentikan tawanya dan menitah Sekertaris Dendy untuk kembali menjelaskan.
Dikarenakan sering sakit karena usianya yang sudah menginjak kepala enam. Tetapi Nona Fanny akan tetap menjadi bodyguard Nyonya Nadya, jika Nyonya Nadya berada diluar mansion." Ucap Dendy dengan senyum kemenangan karena telah berhasil mengerjai adik dari atasannya itu.
"Misi kita berhasil, Tuan." Sekertaris Dendy beranjak dari duduknya dan melakukan tos kemenangan dengan Brydan. Yang sontak membuat hati Edward langsung tersulut emosi kekesalan.
Fanny pun juga merasakan hal yang sama dengan Edward, tapi dia tidak berdaya. Berbeda dengan Edward yang langsung berdiri dan menghampiri kedua manusia tidak berotak itu.
Bugg. Bugg.
Edward memberikan pukulan keras di bahu Sekertaris Dendy dan juga Brydan. Pukulan tidak lebih dari satu detik itu berhasil memancing emosi Brydan. Kesal, itu yang saat ini dirasakan oleh atasan dan sekertaris itu.
***
"Kakak, Ed lelah." Ya, sejak beberapa jam yang lalu Edward sudah berdiri di pojokan ruangan.
Brydan menghukum adiknya dengan meminta Edward berdiri satu kaki sembari menjewer kedua telinganya sendiri. Sedangkan Fanny sudah diminta untuk pulang oleh Brydan.
Brydan tidak mengidahkan adiknya, seakan Edward adalah pajangan dinding. Sekertaris Dendy sudah kembali ke ruangannya sejak satu jam yang lalu.
__ADS_1
"Kakak, Ed sudah berdiri selama dua setengah jam. Ed akan pingsan sebentar lagi." Dan semenit kemudian Edward langsung terjatuh di tempat.
Awalnya Brydan tidak percaya, namun setelah beberapa menit kemudian Edward masih tidak bergerak. Hingga membuat hati Brydan tergerak untuk membangunkan adiknya.
"Ed, bangun. Kalau bangun kau boleh pulang." Ucapan Brydan yang satu ini membuat Edward tersenyum di hatinya. Dia hanya pura-pura pingsan.
Seketika Edward langsung bangun dan memeluk Brydan sekejap.
"Terimakasih Kakak ku tersayang." Katanya yang sedetik kemudian langsung melenggang pergi dari ruangan Brydan. Sebelum terkena omelan sang kakak untuk yang kesekian kalinya.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
IG: @cynshindi
nanti bakalan ada info perihal novel ini kok di sana.
__ADS_1
Buat para readers tercinta, yang mau masuk GC, boleh klik profil othor yah. Biar tau info-info seputar novel ini. Mengenai jadwal update atau lain-lain.