
Seminggu sudah berlalu, hari ini adalah tepat dimana hari ulang tahun Nadya akan diselenggarakan. Brydan sudah memberitahukan Nadya perihal itu.
Ia memberitahu pada sang istri untuk hadir di perusahaan pada pukul 10.00 WIB. Nadya sudah berdandan secantik mungkin dengan Dress berwarna Rose, membuat penampilannya semakin memakau.
Seminggu belakangan ini sang suami selalu pulang larut. Dan Brydan juga terlihat sedikit cuek terkesan seperti mendiami sang istri. Entah apa yang terjadi kepada Brydan, Nadya juga tidak tahu-menahu. Ia pikir suaminya itu mungkin hanya kelelahan karena banyak kerjaan di kantor.
"Fan, bagaimana penampilanku?" Nadya seraya memutar tubuhnya menunjukkan penampilannya kepada Fanny. Fanny tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya singkat.
"Cantik, Nyonya." Jawab Fanny.
"Ayo, Nyonya, suruhan Tuan Brydan sudah menunggu di luar." Fanny baru saja keluar dan melihat sebuah mobil terparkir, dan setahunya itu suruhan Brydan untuk menjemput Nadya.
"Ayo." Dan mereka berdua pun menuju ke luar mansion. Setelah bertanya, ternyata benar sopir itu suruhan Brydan.
Di dalam mobil, Nadya masih meneliti wajah beserta riasannya lagi melalui sebuah cermin kecil yang sengaja ia bawa.
Beberapa menit sudah berlalu, namun mobil tak juga sampai di kantor Brydan. Hingga Fanny sedikit melihat kejanggalan, arah yang dituju sepertinya bukan ke arah kantor Brydan. Seketika Fanny pun panik, namun ia berusaha untuk tenang. Karena ia tidak mau membuat Nadya juga ikut panik.
Ckitttt.
Mobil berhenti tepat di sebuah gedung tua, gedung yang sepertinya sudah terlantar dan tidak lagi digunakan. Nadya pun masih bertanya-tanya, kenapa ia dibawa ketempat ini? Tempat apa ini dan bukannya Brydan memintanya untuk datang ke kantor.
"Pak, ini bukan kantor suami saya. Kenapa saya dibawa kesini?," Nadya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Daripada dia penasaran sendiri. Dan sang sopir hanya diam saja, kemudian ada dua orang bertubuh tegap yang mengetuk kaca mobil.
"Siapa mereka? Fan, kita dimana ini?"
"Tenang Nyonya, saya juga tidak tahu maksud dan tujuan mereka. Tapi kita harus tenang."
Ketukan dari luar semakin keras. Akhirnya sopir pun meminta Nadya dan Fanny untuk keluar.
"Fan, siapa mereka? Bagaimana ini?" Nadya semakin panik saja. Ia benar-benar takut dirinya menjadi korban penculikan.
"Keluar atau aku pecahkan kaca mobilnya." Sedangkan dua orang berseragam hitam itu sudah mengeluarkan pistolnya dan bersiap membidik ke arah kaca mobil.
Dengan berat hati akhirnya Nadya dan Fanny pun keluar. Mereka masih waspada akan sesuatu yang mereka hadapi kali ini. Nadya dan Fanny saling berpegangan tangan seraya menguatkan satu sama lain.
"Tenang, Nyonya. Jika Nyonya panik, maka semuanya akan kacau." Ujar Fanny mencoba untuk menenangkan Nadya yang terlihat panik. Bahkan tubuhnya juga sedikit gemetaran. Fanny tetap menggenggam Nadya seraya menyalurkan perlindungan.
"Masuk." Dua orang berseragam itu menyeret Fanny dan Nadya masuk, Fanny tentu tidak bisa melawan, karena mereka sudah mengarahkan pistolnya ke kepala Nadya. Mereka mengambil sebuah kain dan menutup mata Nadya. Entah apa yang mereka rencanakan.
"Apa-apaan ini, kenapa mataku ditutup? Lepaskan aku." Nadya masih mencoba untuk memberontak, walau dia tau ini akan sia-sia.
"Diam dan ikut kami, atau peluru saya akan menancap di kepala wanita ini." Salah satu dari orang itu telah mengarahkan pistolnya ke arah Fanny. Fanny pun terpaksa mengangkat kedua tangannya. Barulah Nadya diam.
__ADS_1
Dua orang itu membawa Fanny dan Nadya masuk ke dalam sebuah gedung tua. Gedung yang terlihat tidak terawat. Bahkan begitu kotor dan terbengkalai. Dan sepertinya sudah tidak layak dimasuki oleh manusia.
Mata Nadya masih tertutup, namun Nadya mendengar suara. Suara yang sangat ia kenali. Ya, ini suara suaminya, tapi kenapa menjerit kesakitan?
"Siapa kalian? Lepaskan suamiku! Jangan macam-macam kalian, jangan sakiti suamiku atau..."
"Atau apa, Nyonya kecil?" Dan Nadya juga mengenal suara ini.
"Den, tolong kami, kamu berpihak pada suamiku kan? Jadi tolong kami!" Ya, itu adalah suara Dendy. Tapi kenapa Dendy tertawa seperti orang jahat.
"Nyonya kecil yang malang. Kau pikir semudah itu, aku sudah bersusah payah menculik kalian dan merebut perusahaan suamimu, kemudian kamu memintaku untuk melepasnya?" Nadya masih tercengang mendengar ucapan Dendy.
"Apa maksudmu? Kamu berkhianat? Apa kurangnya suamiku padamu? Jahat, brengsekk kamu!" Nadya sudah tidak tahan dan akhirnya keluar juga makian dari dalam bibir kecilnya.
"Le.. lepaskan istriku, atau kalian akan hancur!" Suara Brydan terdengar begitu menyayat hati. Suara yang biasanya tegas, kini terdengar seperti menahan rasa sakit.
"Lepaskan Nyonya, kau tau siapa dia kan?" Fanny diikat disebuah kursi tua. Fanny benar-benar tidak bisa melakukan apapun.
Nadya sudah tidak kuat mendengar erangan kesakitan dari mulut suaminya. Dia bahkan mendengar sendiri cambukan yang begitu kuat.
Ia ingin memberontak, tapi apalah daya, dirinya juga dipegangi oleh dua bodyguard yang jauh lebih kuat darinya.
"Den, aku mohon, kau bisa membunuhku tapi tolong lepaskan suamiku. Cukup kau ambil apa yang dia miliki, tapi aku mohon jangan menyiksanya seperti ini." Nadya sekuat mungkin menahan agar air matanya tidak menetes. Nadya bersimpuh ia bertekuk lutut dan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Katakan apa yang kamu mau dari suamiku?"
"Aku mau segalanya, aku juga mau dirimu, cantik." Dendy sudah mulai berani menyentuh dagu Nadya.
Mata Nadya masih tertutup sebuah kain hitam. Dan kedua tangannya kini sudah diikat di sebuah tiang.
"Tidak aku tidak akan menyerahkan diriku kepada pria brengsekk seperti dirimu. Lepaskan aku, brengsekk!" Teriak Nadya tepat di depan wajah Dendy.
"Jangan berteriak, percuma tidak akan ada yang bisa mendengarnya. Aku sudah merencanakan semuanya sebaik mungkin." Kata Dendy dengan enteng.
"Akhhhh..." Sekarang bukan hanya suara erangan Brydan, tetapi erangan kesakitan Fanny juga terdengar.
"Jangan lukai Fanny, berhenti aku bilang." Teriak Nadya dengan berani. Sekarang ia sudah tidak memikirkan keselamatan dirinya. Yang ia pikirkan sekarang adalah keselamatan Fanny dan juga suaminya.
"Buka matanya." Perintah Dendy langsung dilaksanakan oleh bawahannya.
Setelah mata Nadya dibuka, Nadya langsung menangis, dia terduduk lemas di tanah. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang suami sudah lemah tak berdaya. Dan juga keadaan Fanny yang menyedihkan dengan beberapa luka lebam di wajahnya. Dan pelipis nya juga mengeluarkan darah.
"Segera bawa dia ke ruang yang sudah disediakan. Dan lepaskan suaminya, jadikan sebagai jaminan!"
__ADS_1
"Baik Tuan."
Dua orang berseragam hitam itu membawa Nadya ke ruangan yang berbeda.
"Aku tidak mau, lepaskan aku!" Teriak Nadya disertai tangisan histeris.
"Diam atau suamimu akan semakin menderita." Mendengar ucapan dari bawahan Dendy, membuat Nadya seketika terdiam membisu.
"Baik, aku akan ikut kalian, tapi jangan siksa suamiku lagi!"
"As you wish, cantik," kata Dendy dengan seringai liciknya. Dan mereka pun menggiring Nadya dan juga Brydan ke ruangan lain. Sedangkan Fanny dibiarkan sendiri dengan beberapa bodyguard lainnya.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah, ayo ramaikan 💖
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
IG: @cynshindi
Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.
__ADS_1