Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-12 Belajar menjadi yang terbaik.


__ADS_3

Mulai sekarang Nadya mulai belajar untuk menerima Brydan sebagai suaminya. Karena bagaimanapun dia hanya ingin menikah satu kali seumur hidup.


"Selamat datang Suamiku, Sekertaris Dendy." Sambut Nadya saat Brydan dan Dendy hendak masuk ke dalam mansion.


Tapi seperti biasa si gunung es itu hanya akan menanggapi dengan deheman saja. Berbeda dengan Dendy, yang menanggapi dengan senyum manisnya kemudian berkata "Terimakasih, Nyonya."


"Suamiku, Anda sudah makan?" Tanya Nadya.


"Sudah." Jawab Brydan. Begitulah Brydan dia masih memiliki gengsi yang seluas Samudera Hindia.


Sabar Nad, kau harus bisa melelehkan gunung es ini.


Brydan terus berjalan ke arah kamar diikuti Nadya di belakangnya. Sedangkan Dendy sudah izin untuk pulang ke apartment nya. Sebenarnya Nadya ingin sekali bertanya banyak hal mengenai Brydan. Tapi dia masih takut. Oleh karena itulah, dia berusaha menjadi istri yang baik. Supaya Brydan mau menceritakan tentang dirinya kepada Nadya. Seperti asal usulnya, kisah hidupnya, atau mungkin saudara atau kedua orangtuanya.


"Suamiku, Anda mau langsung mandi, atau istirahat dulu?" Tanya Nadya setelah sampai di dalam kamar.


"Aku mau mandi." Jawab Brydan


Nadya segera menyiapkan air hangat untuk suaminya. Dan juga baju ganti untuk suaminya.


Makan malam_


Seperti biasa, tidak boleh ada yang bersuara ketika makan malam sudah dimulai. Setelah selesai makan keduanya pun kembali ke kamar. Dan berbaring di tempat masing-masing.


"Kenapa akhir-akhir ini kau banyak berubah?" Tanya Brydan.


"Karena saya ingin menjadi yang terbaik, maksud saya istri yang baik untuk Anda." Kata Nadya.


"Matikan lampunya dan nyalakan AC nya!" Titah Brydan. Dan langsung dilakukan oleh Nadya. Tiba-tiba terbesit sebuah ide jahil di kepala Brydan. Dia tersenyum penuh arti melihat Nadya sudah memejamkan matanya.


"Kau tau, kemarin malam saat aku terbangun untuk buang air kecil, aku melihat sesosok perempuan di dekat jendela balkon. Aku kira kau, tapi aku lihat kau masih ada di tempat tidur." Ucap Brydan. Dan benar saja, Nadya langsung berkeringat dingin. Dia membuka matanya lebar-lebar dan melihat sekelilingnya. Guling yang tadinya berada di tengah, Nadya memindah guling itu ke tepi. Hingga tidak ada lagi pembatas antara Brydan dan dirinya.


"Suamiku, bolehkah saya memeluk Anda?" Tanya Nadya.


"Terserah, tapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu." Jawab Brydan.


Tanpa aba-aba Nadya langsung memeluk Brydan dengan erat, sedangkan yang dipeluk hanya diam saja seperti patung.


Tiba-tiba Brydan langsung membalik tubuh Nadya dan menindihnya. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Tadi Brydan sudah memberikan peringatan tapi Nadya tidak mendengarkan.

__ADS_1


Rencanaku berhasil, gadis ini memang benar-benar bodoh. Hahaha, mana mungkin dia takut dengan hal yang tidak nyata. Karena tadi hanya bualanku saja.


Hingga tengah malam kegiatan itu belum juga selesai. Dasar Brydan!


____________________ 00 ______________________


Satu minggu sudah berlalu, masa hukuman Nadya pun sudah selesai. Sekarang dia boleh keluar asalkan dengan pengawalan Brydan. Ada 1 bodyguard yang menjaganya. Dan bodyguard itu adalah seorang wanita. Memangnya si gunung es itu rela jika istrinya berdekatan dengan pria lain?


Nadya setuju, toh yang penting dia tidak terkurung di dalam rumah itu. Sekarang dia hendak pergi ke rumah Tica. Dia juga sudah izin pada suaminya.


Tok.. tok.. tok..


Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah sederhana itu. Si pemilik rumah pun menyahuti dari dalam rumah.


"Iya sebentar." Sahut Tica.


Ceklek.


"Ehhh Nadya, ayo masuk." Tica bercipika-cipiki dengan sahabatnya itu kemudian Nadya masuk dan duduk di kursi kayu di dalam rumah Tica.


"Fan, kamu tunggu di mobil saja!" Ucap Nadya pada Fanny bodyguard nya. Dan diangguki oleh Fanny.


"Tic kamu tau kan, aku masih muda dan aku masih belum siap untuk memiliki anak. Tapi aku sudah melakukannya dengan si gunung es alias Suamiku. Jadi aku terpaksa harus menundanya dulu." Kata Nadya.


"Iya Tic, setelah aku pikir lebih matang. Aku sudah fix mau nunda dulu untuk punya momongan. Kamu tau kan Tic, dia belum cinta sama aku dan dia juga punya kekasih yang sepertinya dia cintai yang aku tidak tahu dimana keberadaannya sekarang. Aku pingin banget nanya sama dia tapi aku masih takut kalau dia marah." Kata Nadya.


Sebenarnya Nadya mau punya momongan tetapi setelah dia mengetahui bahwa dia adalah satu-satunya bagi Brydan. Karena dia tidak mau diduakan. Nadya melihat jelas rasa cinta dan perhatian Brydan pada Velyn sewaktu di restoran.


"Baiklah, aku akan menemanimu membeli pil penunda kehamilan." Kata Tica.


"Lewat pintu belakang saja ya." Kata Tica.


Kebetulan di dekat rumah Tica ada sebuah apotek. Di apotek itu sepertinya juga menyediakan pil kontrasepsi penunda kehamilan.


Setelah kembali dari apotek, Nadya sedikit berlari agar cepat sampai ke rumah Tica. Dia takut Fanny curiga. Dan melaporkannya pada Brydan.


"Kamu ingat kan Nad kata apoteker nya tadi, apa kamu yakin?" Tanya Tica.


"Aku yakin Tic, aku mau menjadi yang terbaik dulu untuk dia. Dan setelah semua pasti, bahwa aku ini adalah satu-satunya untuk dia. Aku akan membuang pil ini." Jawab Nadya.

__ADS_1


"Ya sudah aku pulang dulu ya Tic. Kapan-kapan kita ketemu lagi." Pamit Nadya.


"Ayo Fan."


"Baik Nyonya."


Nadya sudah dalam perjalanan pulang. Sesampainya di mansion Nadya langsung mengistirahatkan tubuhnya dengan berbaring di ranjang kamarnya.


***


"Ini sudah sore, sebentar lagi dia pulang." Ucap Nadya pada dirinya sendiri.


Dan benar saja beberapa menit kemudian terdengar suara klakson mobil milik Brydan. Nadya pun turun kebawah untuk menyambut kedatangan suaminya.


"Selamat datang, Suamiku." Kata Nadya dan tiba-tiba dia langsung mengecup pipi Brydan. Walaupun dia harus berjinjit. Karena tinggi badan Brydan yang 10 cm lebih tinggi darinya.


Dendy yang melihatnya hanya tersenyum tipis, sebenarnya Dendy sudah mau membelokkan mobilnya untuk keluar pagar. Tapi dia tidak sengaja melihat nyonya kecil mencium Tuan Brydan dari kaca spion mobil.


"Terimakasih." Ucap Brydan. Karena Nadya membawakan tas kerjanya.


"Aku akan menyiapkan air mandi untuk Anda, sebentar." Kata Nadya setelah sampai di kamar. Brydan sudah duduk di sofa kamar dengan santai.


"Pak San tolong panggilkan Fanny!" Titah Brydan kepada Pak San di sambungan telfon.


Tut..


Tok tok tok..


"Masuk." Kata Brydan.


"Selamat sore, Tuan memanggil saya?" Tanya Fanny.


"Ya, tadi Nadya pergi kemana saja."


"Nyonya hanya pergi kerumah temannya, Tuan. Kalau tidak salah namanya Tica." Jawab Fanny.


Inilah tugas Fanny melaporkan semua kegiatan yang dilakukan oleh Nadya dan tempat mana saja yang dikunjungi Nadya. Dan jangan lupakan siapa saja yang ditemui oleh Nadya.


"Tadi Nyonya hanya belajar menggunakan make-up, Tuan." Ucap Fanny.

__ADS_1


"Kau boleh pergi!" Kata Brydan. Kemudian Fanny membungkuk hormat untuk segera undur diri.


Beberapa hari ini Nadya memang belajar untuk memakai make-up. Dan dia juga sudah lumayan bisa, ya walaupun belum 100%.


__ADS_2