
Disinilah Nadya sekarang, tepat di depan pintu kamar yang tertutup rapat. Dia masih mengumpulkan keberanian dan kesiapannya menghadapi sang suami. Nadya menundukkan wajahnya dan mengepalkan kedua telapak tangannya. Setelah beberapa menit, dia mengangkat wajahnya, dan melepaskan kepalan tangannya.
Fanny terlihat tengah melakukan hal yang sama dengan Nadya. Karena Fanny tahu, bukan hanya Nadya yang akan dihukum, tapi juga dirinya. Yang bisa saja dihukum lebih parah dibandingkan Nadya. Kini kedua majikan dan bodyguard itu sudah siap menerima hukuman apa saja yang akan diberikan oleh Brydan.
Ceklek.
Perlahan tapi pasti, Nadya sudah membuka pintu kamarnya. Dan benar saja, kini tengah duduk dua makhluk di sofa kamarnya. Yang satu dengan wajah masamnya dan yang satu dengan wajah yang disembunyikan.
Begitu mendengar suara pintu terbuka, Brydan langsung membuat ekspresi wajahnya menjadi seseram mungkin. Dia benar-benar kesal dan marah tingkat akut sekarang.
Nadya ayo mikir! Aduh, aku harus bagaimana ini? Apa aku pura-pura sakit ya? Ahh tidak, kalau aku sakit sungguhan bagaimana? Lalu aku harus apa? Somebody's help me please!
"Loh Sayang, kamu tumben sudah pulang?" Nadya berpura-pura manis di depan suaminya.
"Keluar, Den!" Brydan tidak mau ada seseorang yang melihatnya ketika menghukum istrinya.
"Baik, Tuan."
"Kau urus bodyguard tidak becus itu!" Titah mutlak Brydan yang langsung diangguki oleh Sekertaris Dendy.
***
"Kau terlambat 2 jam kurang 3 menit!" Brydan bahkan menghitung waktu keterlambatan Nadya. Dia benar-benar menunjukkan timer handphone nya di depan wajah Nadya. Seketika bulu kuduk Nadya langsung berdiri semua. Dia seperti melihat hantu saja. Nadya memejamkan matanya, karena handphone Brydan begitu terang, seperti masa depan. Hahaha.
"Maaf, Sayang." Nadya masih menundukkan kepalanya. Jangankan hendak duduk, melangkah saja Nadya masih gemetar.
"Apa aku menyuruhmu berbicara?" Brydan mencengkeram Dagu runcing istrinya. Supaya matanya bisa menatap mata milik sang istri. Sedangkan yang ditatap masih saja memejamkan matanya. Nadya benar-benar takut sekarang, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Beginilah Nadya, jika terdesak dia akan semakin blank.
Aduhh, jangan sampai aku kencing di celana. Dia bisa membuatku mengepel semua ruangan di mansion ini.
"Ti.. tidak." Dengan gugup Nadya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang suami.
"Apa kau pernah melihatku terlambat dalam melakukan sesuatu hal?" Tangan Brydan kini berpindah mencengkram kedua bahu sang istri. Brydan bisa merasakan tubuh Nadya yang gemetar. Dan dia semakin yakin kalau sang istri pasti melakukan kesalahan besar. Karena orang yang tidak bersalah tidak akan segugup itu.
"Ti... tidak." Sebenarnya Nadya sudah mulai pegal. Tapi karena rasa takut yang melanda hati dan pikirannya lebih besar, jadi rasa pegal nya terhempas ke dasar jurang.
"Katakan!" Brydan mendudukkan dirinya di sofa. Masih dengan menatap Nadya dengan tatapan elang nya.
"Jangan sampai aku mengulang titah ku!" Brydan tidak tahu saja, kalau sang istri sedang bingung.
Aku harus mengatakan apa? Aku ini bukan Sekertaris Dendy yang bisa tahu hanya dengan kedipan matamu!
__ADS_1
"Heuhh, katakan kenapa kau pulang terlambat! Jika kau berani berbohong, maka aku pastikan besok mulutmu tidak berada di tempatnya." Dan bom yang dinantikan akhirnya keluar juga. Ancaman yang tidak bisa Nadya lawan untuk saat ini.
"Aku... itu... anu..." Brydan sudah mulai jengah dengan ketidak jelasan Nadya. Apa maksud perkataannya, bagaimana Brydan bisa tahu kalau Nadya hanya berkata seperti itu? Istrinya ini memang perlu diberi pelajaran.
"Yang Jelas!" Kini Brydan sudah mulai membentak Nadya. Dia sudah lelah, pulang bekerja seharusnya mendapat sambutan manis dari istri. Tapi apa ini? Dia justru ditinggal oleh istrinya dan hanya menemukan para pelayan di mansion.
"Nyonya sudah keluar sedari tadi, Tuan. Dan sampai saat ini beliau belum kembali." Perkataan Pak San yang membuat darah Brydan langsung naik ke ubun-ubun.
"Aku keluar bersama temanku." Air mata Nadya sudah mulai menggenang dan siap meluncur. Dia baru pertama kali ini dibentak sekeras itu oleh suaminya.
"Jelaskan dengan rinci!" Bentakan itu kembali terdengar di telinga Nadya.
"Bersama Tica dan.." Ucapannya terhenti, dia masih berpikir. Apakah dia akan memberitahu Brydan kalau dia keluar bersama teman laki-laki.
"Jika kau tidak menjelaskan dengan rinci, maka aku pastikan temanmu akan menanggung semua kesalahanmu." Seketika hati Nadya menjadi tercubit. Kenapa temannya? Mereka kan tidak salah apa-apa.
"Aku tadi keluar bersama Tica dan teman baru ku!" Entah mendapat keberanian darimana. Nadya sudah berkata dengan lantang di depan Brydan.
"Laki-laki atau perempuan?" Brydan sudah mengepalkan tangannya lagi. Dia akan benar-benar membuat Nadya menyesal. Jika Nadya berani hang out bersama laki-laki. Walaupun hanya sebatas teman.
"Laki-laki."
Dan Brydan langsung bangkit dari sofa, ia mendorong tubuh Nadya ke sofa. Nadya terhempas, yang benar saja tubuh kecilnya tidak akan mampu menahan dorongan tubuh kekar Brydan.
"Apa aku pernah mengizinkanmu keluar bersama laki-laki?" Hembusan nafas Brydan sangat terasa di telinga Nadya. Karena Brydan menempatkan mulutnya di telinga kanan sang istri.
"Maaf." Lirih Nadya dengan pelan hendak mendorong tubuh Brydan.
"APA KAU TULI?" Lagi dan lagi bentakan keras kembali terdengar hingga membuat telinga Nadya berdenyut. Dan kali ini dia tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak turun.
"Dia hanya temanku! Hiks." Isakan kecil terdengar dari bibir Nadya.
"Hentikan tangisanmu! AKU TIDAK BUTUH!" Dan kali ini Brydan sudah menyinggung perasaan Nadya. Haruskah membentak hanya untuk masalah sepele? Haruskah sampai seperti itu? Nadya hanya bertemu dengan temannya bukan berselingkuh.
"Kenapa kau tega?" Ucap Nadya dengan lirih disertai isakan kecil dari bibir mungilnya.
"Karena aku tidak suka dibantah!" Brydan melototkan bola matanya ke arah mata Nadya.
"Aku hanya berteman, apa salah?" Nadya kembali menjawab perkataan Brydan. Entah ada dorongan dari mana, seakan dia memiliki nyawa lebih untuk menghadapi Brydan.
"SALAH!" Brydan sudah mengeluarkan taringnya. Dia sudah muak dengan semua ini. Sekarang dia akan bersikap lebih tegas lagi
__ADS_1
"Karena dia laki-laki." Imbuh Brydan. Brydan tidak pernah melarang sang istri untuk berteman. Tapi semua pasti ada batasan! Bagi Brydan, wanita yang sudah bersuami tidak boleh bertemu dengan laki-laki lain.
"Kau jahat!" Nadya mendorong kuat tubuh Brydan dan melangkah ke ranjang. Sepertinya kekuatan Nadya sudah berlipat ganda, karena dia berhasil mendorong tubuh Brydan hingga berpindah dari posisinya.
Nadya menutup tubuhnya dengan selimut. Jika Nadya menganggap Brydan akan kembali seperti sedia kala. Maka Nadya salah, karena justru Brydan semakin marah, karena dia menganggap Nadya sudah berani membantah perkataannya.
Dengan kuat Brydan mencengkram selimut yang Nadya pakai. Kemudian dia menariknya, hingga selimut itu terhempas ke lantai. Dan terlihat Nadya tengah menangis sesegukan.
"Jahat!" Nadya menghardik Brydan dengan ketus. Dia tidak mau menatap manik mata Brydan.
"BANGUN!" Brydan dengan angkuhnya berdiri di sisi Nadya.Tetapi sayang, Nadya tidak menghiraukan perkataannya.
"BANGUN KATAKU!" Dan kali sukses membuat Nadya bangun karena kaget. Bentakan ini lebih keras dari yang tadi.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 😁
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Masih konflik kecil yah, atau kalian bisa bilang cuma fake konflik doang. Othor udah siapin kok konflik yang sedemikian rupa buat kalian. Hehe, tunggu yah, menguji kesabaran 😁😆
kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
__ADS_1
IG: @cynshindi
Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.