
"Kalau boleh tahu, untuk apa, Nyonya?" Tanya Pak San dengan sopan.
"Tolong panggilkan saja ya, Pak San." Hanya itu yang keluar dari mulut sang majikan. Sebelum kemudian Nadya berlalu dari hadapan Pak San.
Tetapi sepertinya Pak San melewati satu temuan baru yang tadi digendong oleh Nadya. Mungkin karena Pak San masih terlalu sibuk memikirkan untuk apa sang majikan memintanya untuk memanggil arsitek.
"Hy, Ed, lagi apa?" Setelah masuk ke dalam mansion, seperti biasa Edward lah yang pertama kali ia lihat. Edward tengah duduk santai di sofa sembari menyeruput kopinya. Dan membaca sebuah majalah bisnis.
Edward pun menoleh ke arah suara Nadya. Karena merasa terpanggil, akhirnya Edward menghentikan acara membacanya, menutup dan meletakkan majalahnya.
"Hy Kakak ipar, loh itu kucing siapa, Kak?" Objek yang pertama kali menarik perhatian Edward adalah kucing yang tengah digendong oleh Nadya.
"Hehe, jadi begini loh Ed, tadi waktu aku lagi di taman. Aku ngelihat kucing lucu ini dibawah gerobak siomay. Dan aku langsung tertarik untuk mengadopsi dan memelihara kucing lucu ini." Dengan rinci, Nadya menjelaskan awal pertemuannya dengan kucing lucu itu kepada Edward. Dan Edward hanya manggut-manggut saja.
Edward berdiri lantas ia ambil kucing kecil itu dari gendongan sang kakak ipar. Ia mencoba menilik kucing lucu itu. Dan ia yakin kucing itu pasti tidak memiliki pemilik, karena tidak ada tanda apapun dilehernya. Seperti kalung atau penanda lainnya.
"Kakak, namanya siapa?" Tanya Edward, karena dia bingung hendak memanggil kucing kecil itu dengan nama siapa? Dan benar saja, itulah yang sedari tadi dipikirkan oleh Nadya. Sampai-sampai dia mengabaikan Tica tadi.
"Ah ketemu, namanya Cemong, kamu bisa panggil dia dengan nama itu." Yah Nadya memilih nama itu, karena menurutnya nama itu pas untuk kucing yang baru ditemukannya dibawah gerobak siomay itu.
"Ah, hy Cemong. Salam kenal ya, namaku Edward." Kata Edward sembari menimang kucing kecil itu. Sedangkan Cemong hanya diam saja tanpa menunjukkan reaksi apapun. Sepertinya Cemong sudah keenakan digendong seharian. Haha.
"Terus rencana Kakak selanjutnya apa?"
"Aku akan bangun rumah untuk Cemong dan membeli beberapa baju kucing." Ujar Nadya dengan senyum sumringah yang terus tersemat di wajah imutnya. Edward hanya mengangguk saja, sebelum ia kembali berseru kepada sang kakak ipar.
"Tapi Kak, Kak Brydan sudah tahu apa belum? Karena Edward paham betul kalau Kak Brydan tidak terlalu suka binatang. Kecuali burung, Kakak ipar tahu sendiri kan? Mansion segeda gaban gini cuma ada 3 burung peliharaan Kak Brydan. Selain itu udah nggak ada hewan lain." Jelas Edward, yah memang sih setahu Nadya, Brydan cuma melihara burung doang.
Buktinya dia pernah mengancam akan menyuruh Nadya tidur bersama burung peliharaannya.
"Duh gimana ya, Ed? Bantu aku dong biar kakak kamu ngizinin aku adopsi Cemong." Nadya kembali harap-harap cemas akan hal ini. Kalau berusaha sih sudah pasti Nadya akan berusaha.
Tetapi semuanya tergantung kepada Sang Penguasa. Nadya hanya mampu berharap dan meminta. Tetapi tetaplah Sang Penguasa yang memutuskan segalanya yang berkaitan dengan mansion.
"Aduh gimana yah Kak..." Belum sempat Edward menyelesaikan kata-katanya, Nadya malah semakin menampilkan puppy eyes nya. Hingga membuat mata hati adik Brydan itu terbuka.
Alias rasa kasihan terhadap sang kakak ipar yang kerap kali dimarahi oleh kakaknya. Membuat hati Edward tergerak untuk mengiyakan permintaan kakak iparnya. Kini keduanya tengah memikirkan cara yang akan mereka gunakan untuk meluluhkan hati Brydan.
__ADS_1
"Tunggu bentar, Kak." Ucap Edward setelah sekian lama mereka berunding tetapi tidak juga menemukan cara yang tepat. Hingga membuat lelaki tampan itu jenuh. Dan teringat seseorang yang sedari tadi tidak juga memunculkan batang hidungnya.
"Kamu udah nemu?" Nadya sudah begitu antusias untuk mendengarkan cara Edward.
"Bukan itu, Kak!" Dan surutlah senyum di wajah Nadya hanya karena tiga kata yang dilontarkan oleh Edward.
"Ed mau nanya, Fanny kemana sih? Dari tadi kok nggak kelihatan?" Ish, betul dugaan Nadya.
"Tadi, Fanny izin katanya mau bantu-bantu di belakang." Dan Edward hanya ber-oh-ria.
"Ayo Ed, gimana ini?" Nadya kembali mendesak adik iparnya itu. Sebentar lagi hari akan segera sore. Dan Pak San baru saja menyampaikan kalau arsitek nya akan datang besok pagi. Edward yang terdesak pun hanya bisa diam sambil terus berpikir.
"Bentar dulu, Kak. Kalau Kakak ipar ngomong terus, Ed jadi nggak bisa mikir nih." Edward malah balik mengultimatum kakak iparnya, haha. Akhirnya Nadya hanya bisa terdiam sembari meletakkan jari telunjuknya di dagu.
Tuk tuk tuk. Detik terus berjalan berganti menit. Tak terasa 15 menit sudah mereka berpikir. Tapi tak kunjung menemukan solusi, entah apa yang mereka makan, hingga pikirannya begitu lemot.
"Ahaaa, Kakak ipar, aku punya satu cara." Tiba-tiba ide satu itu terbesit di kepala Edward. Karena kemarin Edward sempat menonton video itu. Jadilah cara itu yang dia sarankan untuk Nadya. Dan dengan wajah yang berseri-seri Nadya mulai bersiap mendengar cara apa yang akan Edward sampaikan.
"Caranya yaitu, sogok saja Kak Brydan dengan sesuatu yang disukainya." Nadya manggut-manggut namun ia masih kurang paham.
"Bisa lebih detail, Ed." Edward berbisik di telinga Nadya. Dan benar saja, bola mata Nadya langsung membola.
"Baiklah, aku akan mencobanya."
"Tapi Ed, Cemong sementara harus punya tempat tinggal." Edward langsung meminta pelayan untuk mengambil bekas kandang burung milik Brydan. Kandang burung Brydan memang tidak begitu lebar tetapi lebih dari cukup untuk menjadi tempat tinggal sementara bagi Cemong.
Miauuwww
"Kak, dia pasti lapar." Si kucing lucu itu begitu manja kepada Edward. Karena dia berada di tangan Edward sedari tadi.
"Ed, kamu punya makanan kucing apa nggak?"
"Ya, nggak lah Kak. Kakak ambil aja noh ikan Salmon yang ada di lemari pendingin." Beginilah kalau wolang kaya, ikan Salmon aja dikasih buat kucing.
"Beneran? Ikan itu bukannya mahal, Ed?"
"Aduh, ambil aja udah. Kakakku nggak mungkin bangkrut cuma karena ngasih ikan Salmon buat si Cemong." Jawab Edward dengan entengnya.
__ADS_1
Setelah mengambil ikan dari lemari pendingin dan menaruh nya di sebuah piring, Nadya langsung saja memberikannya untuk si Cemong. Cemong yang setiap harinya hanya memakan belas kasih orang yang lewat alias makan gratisan. Mendadak jadi kucing dengan seribu keberuntungan nih.
***
Nadya sudah cantik bersih dan kece badai tentunya. Karena dia baru saja menyelesaikan acara mandi nya. Ia bahkan juga memandikan Cemong dan menaruh kucing itu di kandang barunya. Cemong terlihat sudah tertidur, karena Nadya memberikan selimut yang sudah tidak dipakai untuk alas kandang Cemong.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Siap-siap buat konflik yah, mungkin setelah beberapa chapter lagi, hehe, gapapa lah kasih sedikit bocoran.
Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah, ayo ramaikan 💖
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
IG: @cynshindi
__ADS_1
Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.