
Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti hari. Tanpa kita sadari hari terus berlalu berganti bulan. Enam bulan sudah usia pernikahan Nadya dan juga Brydan. Hari ini sudah menginjak hari pertama bulan ke enam usia pernikahan Nadya dan Brydan. Dan pagi tadi Brydan mendapat notice dari Dendy bahwa seminggu lagi adalah hari ulang tahun Nadya.
Betapa kesalnya Brydan mendapat berita itu. Bukan apa, kenapa harus Dendy yang pertama kali tahu, kenapa bukan dirinya? Dan dengan rinci Dendy menjelaskan, bahwa saat hendak mendaftarkan pernikahan Brydan dan Nadya.
Dendy harus mencantumkan data diri Nadya di handphone miliknya terlebih dahulu. Oleh karena itulah dia mendapat notice saat hari ulang tahun Nadya sudah dekat.
Dan Brydan hanya menggeram kesal. Sudah pasti Dendy yang bersalah, tidak ada yang berani menyatakan Sang Penguasa itu bersalah.
Dendy maupun Brydan baru saja selesai menikmati makan siang. Mereka berdua tengah berdiskusi mengenai pesta kejutan untuk Nadya. Entah apa yang mereka rencanakan, hanya mereka dan Tuhan yang tahu.
"Apa rencana ini sudah pasti, Tuan?" Tanya Dendy untuk memastikan kalau rencana yang mereka buat sudah deal dan tidak akan dirubah lagi. Dan hanya diangguki oleh Brydan dengan diiringi senyum tipis di bibir seksinya. Karena dirinya tengah membayangkan bagaimana reaksi Nadya nanti saat mendapat kejutan di hari spesialnya.
"Tuan, are you okay?" Dendy sampai mengibas-ngibaskan telapak tangannya tepat di depan wajah Brydan. Karena tuannya senyum-senyum sendiri, jadi dia merasa sedikit aneh.
"Kau menganggu saja, Den. Keluar sana!" Brydan yang merasa imajinasi nya hancur karena ulah Dendy. Akhirnya kesal sendiri, bahkan ia tidak sadar kalau dirinya senyum-senyum sendiri sedari tadi.
"Baik Tuan, saya permisi." Dendy tidak mau tahu lagi, entah apa yang dipikirkan oleh tuannya. Persetan perihal itu ia tidak mau kena semburan Brydan lagi.
"Hmmmm.." Hanya kata itu yang keluar dari mulut pria yang dijuluki Sang Penguasa itu. Kemudian Dendy melangkah untuk keluar dari ruangan Brydan. Karena dia juga memiliki segudang pekerjaan yang harus ia selesaikan di ruangannya.
Setelah beberapa saat, barulah Brydan tersadar kalau sedari tadi dirinya senyum-senyum tidak jelas.
"Ada apa denganku, aku sudah gila sepertinya." Brydan geleng-geleng kepala atas tingkah lakunya sendiri. Apa benar dia sudah tergila-gila pada gadis yang ia sebut kampungan itu. Apa benar ia tergila-gila pada gadis yang sama sekali bukan tipenya.
Badan pendek wajah imut dan tingkah anehnya. Tipenya adalah gadis-gadis yang berkelas, seperti Velyn contohnya. Body goals, berpendidikan, dan yang terpenting memiliki wajah yang paripurna.
Berbeda dengan Brydan dan Dendy yang tengah berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Nadya dan Fanny justru tengah asik mengaplikasikan masker wajah yang baru saja mereka beli. Peel of mask, masker yang sedang viral. Nadya dan Fanny juga tergiur untuk mencoba masker satu itu. Akhirnya Fanny memesan secara online dan baru saja datang.
"Ah, akhirnya selesai juga tinggal tunggu kering deh," ujar Nadya yanb baru saja selesai mengoleskan masker berbentuk cairan kental itu ke wajahnya. Begitu juga Fanny yang baru saja selesai mengoleskan masker itu ke wajahnya.
"Ditunggu sampai berapa menit, Fan?" Tanya Nadya, karena Fanny yang membaca tata cara pemakaiannya, Nadya hanya mengikuti jejak Fanny.
"Sampai kering, Nyonya. Sampai bisa dikelupas." Dan hanya diangguki oleh Nadya. Mereka berdua akhirnya sama-sama berdiam diri. Duduk santai di ruang keluarga sembari menunggu masker masing-masing mengering.
Nadya dengan memejamkan matanya dan membaringkan tubuhnya di sofa. Sedangkan Fanny dengan duduk di sofa single dan memainkan handphonenya. Benar-benar kenikmatan yang hakiki.
"Fan, udah kering kayanya." Akhirnya setelah beberapa menit menunggu, masker itu pun kering. Nadya mecoba mengelupas sedikit demi sedikit dan bisa. Mereka berdua pun mengelupas semua masker yang tertempel di wajah masing-masing.
Lalu Nadya segera bercermin dan betapa girangnya dia, ternyata kulitnya seketika halus. Dan Fanny hanya tersenyum tipis melihat reaksi sang majikan yang menurutnya sedikit berlebihan dan juga lucu. Seperti orang yang tidak pernah memakai masker saja.
__ADS_1
"Kira-kira kita pakainya berapa hari sekali, Fan?" Tanya Nadya tanpa mengalihkan wajahnya dari cermin. Karena ia masih ingin melihat wajah imutnya lebih lama lagi. Nadya begitu bersyukur diberi wajah yang imut walaupun tidak cantik. Tapi ada beberapa orang yang mengatakan kalau dirinya itu cantik.
"Tiga hari sekali, Nyonya." Fanny memang sudah terbiasa memakai masker, tetapi masker buatan sendiri. Semacam masker herbal yang terbuat dari bahan-bahan alami.
"Oh, baiklah." Sahut Nadya.
***
"Selamat datang, By." Ujar Nadya guna menyambut kepulangan sang suami. Tetapi panggilan Nadya sukses membuat sang suami mengernyit heran. Karena sang istri tidak pernah memanggilnya dengan panggilan itu sebelumnya.
"By?" Tanya Brydan dengan satu alis yang mengangkat.
"By itu panggilan baru buat kamu, aku kan istri zaman now. By itu panggilan kekinian, Sayang." Kata Nadya berusaha untuk memberi pengertian kepada sang suami.
"Ada-ada saja." Dan Brydan memberikan cubitan kecil pada hidung imut sang istri.
"By, ih!" Tidak tahu saja Brydan kalau sang istri sudah merona. Nadya hanya menyembunyikan wajah kepitingnya di dada sang suami.
Akhirnya Fanny juga yang menjadi nyamuk, karena Dendy sudah izin untuk pulang terlebih dahulu. Karena Dendy perlu mengurus keperluan untuk kejutan Nadya nanti. Seperti Gedung, MUA, dan banyak lainnya.
Akhirnya setelah drama romantis, mereka bertiga masuk ke dalam mansion dan Nadya segera menyiapkan air mandi untuk sang suami. Sedangkan Brydan duduk santai di sofa ruang tamu dengan Fanny tepat di hadapannya.
"Baik, Tuan."
Brydan sengaja memberitahu Fanny mengenai kejutan ulang tahun istrinya. Agar rencananya bisa berjalan mulus, Brydan juga meminta Fanny untuk memberitahu kepada Pak San dan juga Edward.
"Kemana Ed?"
"Beliau sedang bekerja, Tuan."
"Kau beristirahatlah, persiapkan dirimu untuk seminggu ke depan."
"Baik, Tuan." Dan Fanny pun pamit undur diri. Ia benar-benar lelah seharian ini. Fanny hanya ingin mandi kemudian mengistirahatkan dirinya.
***
"By, makan dulu yah?" Sehabis mandi dan bebersih diri, Brydan masih saja mengamati laptopnya. Sampai Nadya kesal sendiri karena ia dicueki oleh suaminya sendiri.
Nadya sudah meminta Pak San untuk membawakan makan malam suaminya ke kamar. Dan senampan makanan lengkap beserta minumnya sudah tersaja di hadapan Brydan. Namun sayang, tidak disentuh sama sekali.
__ADS_1
"Nanti saja." Hanya dua kata singkat yang keluar dari mulut Brydan. Sedetik kemudian ia kembali berkutat dengan gawai dan laptopnya.
"Kamu tinggal buka mulut aja, biar aku suapin." Nadya sudah tidak tahan dengan manusia di hadapannya itu.
"Aaaaa...." Dan benar saja, Brydan langsung membuka mulutnya selebar mungkin, haha. Benar-benar modus agar bisa disuapi.
Kang modus biar bisa disuapin, eleh.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah, ayo ramaikan 💖
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
IG: @cynshindi
Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.
__ADS_1